MOMSMONEY.ID - Harga emas di pasar global tumbang ke bawah US$ 5.000 per troi ons. Ini pembalikan tajam dari reli yang sebelumnya mendongkrak harga emas ke rekor tertinggi sepanjang masa.
Mengutip Bloomberg, Jumat (30/1), harga emas spot ditutup turun tajam hampir 10% dibanding sesi sebelumnya menjadi US$ 4.894,23 per troi ons. Bahkan, pada perdagangan intraday Jumat, emas sempat ambles 12%, penurunan intraday terbesar dalam empat dekade atawa awal 1980-an.
Fluktuasi liar mengguncang pasar logam mulia, setelah pada Kamis menembus rekor tertinggi di atas US$ 5.500 per troi ons.
Gelombang permintaan investor terhadap logam mulia selama setahun terakhir telah mencatat rekor demi rekor, mengejutkan para pedagang senior dan mendorong volatilitas harga yang luar biasa. Hal itu semakin meningkat pada Januari, ketika investor berbondong-bondong masuk ke aset aman di tengah kekhawatiran tentang penurunan nilai mata uang dan independensi Federal Reserves, perang dagang dan ketegangan geopolitik.
Baca Juga: Harga Emas Hari Ini Ambles Hampir 5%, Ini Pemicunya!
Aksi jual pada Jumat merupakan guncangan terbesar bagi reli pasar, melampaui penurunan tajam pada Oktober. Aksi jual dipicu oleh penguatan dollar AS, setelah laporan bahwa pemerintahan Trump bersiap untuk mencalonkan Kevin Warsh sebagai ketua Fed, yang kemudian terkonfirmasi.
Penguatan dollar AS melemahkan sentimen di kalangan investor yang telah berbondong-bondong membeli emas ketika presiden AS memberi sinyal kesediaan untuk membiarkan mata uang melemah. Namun, para pedagang menganggap Warsh sebagai penentang inflasi yang terkuat di antara para kandidat lainnya, sehingga meningkatkan ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang akan mendukung dollar AS, dan melemahkan harga emas yang dibanderol dalam USD.
Ditambah lagi, dollar AS melonjak didorong oleh aksi jual mata uang komoditas, termasuk dollar Australia dan krona Swedia.
Menurut Aakash Doshi, Kepala Strategi emas dan logam global di State Street Investment Management, pengumuman Trump bahwa Warsh pilihannya untuk Ketua Fed berikutnya berdampak positif bagi dollar AS, dan negatif bagi logam mulia.
"Hal ini mungkin diperparah oleh penyeimbangan kembali di akhir bulan, karena posisi short dollar dan long logam mulia telah menjadi konsensus perdagangan makro selama dua minggu hingga tiga minggu terakhir," katanya mengutip Bloomberg, Sabtu (31/1).
Baca Juga: Harga Emas Antam Sabtu 31 Januari 2026 Turun
Melansir Bloomberg, Christopher Wong, Ahli Strategi di Oversea-Chinese Banking Corp., menyebut bahwa pergerakan harga emas memvalidasi peringatan tentang kenaikan cepat, penurunan cepat. Meskipun laporan tentang nominasi Warsh menjadi pemicu, koreksi sudah seharusnya terjadi. Ini seperti salah satu alasan yang ditunggu-tunggu pasar untuk membalikkan pergerakan parabolik tersebut.
Bahkan setelah turun tajam, harga emas tahun ini masih naik hampir 14%. Dengan harga emas yang sudah melonjak tinggi, indikator teknikal memberi sinyal peringatan. Salah satunya, indeks kekuatan relatif (RSI) yang dalam beberapa minggu terakhir memberi sinyal emas telah mengalami kondisi jenuh beli dan akan mengalami koreksi.
Selanjutnya: Produsen Jam Swatch Optimistis Kinerja Sepanjang 2026 Bisa Membaik
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News