MOMSMONEY.ID - Harga emas hari ini di pasar global naik dan menuju penguatan mingguan terbesar dalam lebih dari enam bulan. Para pembeli saat harga emas turun mendukungnya di atas level kunci, sembari mengabaikan gejolak di Selat Hormuz yang berisiko menambah inflasi.
Mengutip Bloomberg, Jumat (7/8), harga emas spot diperdagangkan naik 1,18% menjadi US$ 4.289,78 per troi ons pada pukul 13.18 WIB. Harga emas hari ini menghapus penurunan moderat pada sesi sebelumnya dan naik lebih dari 5% minggu ini.
Harga emas sempat melonjak di atas US$ 4.300 per troi ons pada Kamis karena optimisme atas pembukaan kembali Selat Hormuz, meski kemudian mereda.
Kenaikan harga pada Jumat menandakan bahwa para pembeli emas tidak terlalu terpengaruh oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Media lokal melaporkan bahwa Iran menyerang "target-target musuh" di Hormuz dan akan mencegah kapal-kapal AS dan Israel melewatinya. Secara terpisah, kelompok militan Houthi mengatakan telah melakukan operasi skala besar menyerang pasukan dari pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.
Baca Juga: Harga Emas Antam dan Buyback Kompak Turun Rp 29.000 Hari Ini Jumat (7/8)
Menurut Justin Lin, analis di Global X ETFs, emas tidak bereaksi kuat terhadap peningkatan ketegangan karena reli di awal pekan tidak sepenuhnya didorong oleh penurunan ketegangan. Pergerakan awal tampak seperti terobosan teknikal dengan momentum yang dipinjam dari negosiasi Iran dan keraguan seputar sikap hawkish The Fed.
"Saat ini lebih tentang pembeli yang mengambil kendali daripada reaksi kuat terhadap pembicaraan Timur Tengah," kata Lin mengutip Bloomberg, hari ini.
Di sisi lain, dana berbasis emas yang diperdagangkan di bursa (ETF) di China mencatatkan arus masuk yang lebih besar minggu ini. Investor institusi melihat harga saat ini sebagai titik masuk yang menarik, dan kepercayaan juga meningkat karena kemampuan emas untuk bertahan di atas level kunci US$ 4.000 per troi ons.
Namun demikian, spekulasi kenaikan suku bunga terus menjadi hambatan jangka pendek bagi emas, yang tidak memberikan bunga. Para pedagang memperkirakan sekitar 60% kemungkinan kenaikan suku bunga AS pada September, setelah Financial Times melaporkan bahwa Ketua Fed Kevin Warsh siap untuk menaikkan suku bunga jika angka inflasi meningkat dalam beberapa minggu mendatang.
Harga emas telah turun hampir seperlima sejak perang AS-Iran meletus akhir Februari. Konflik tersebut menyebabkan harga energi melonjak, memicu tekanan inflasi dan meningkatkan kemungkinan bahwa suku bunga akan tetap tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News