MOMSMONEY.ID - Dana darurat perlu cukup untuk keadaan tak terduga, tetapi menyimpan terlalu banyak uang tunai juga punya risiko. Berikut cara mengelolanya.
Dana darurat menjadi bagian penting dalam mengatur keuangan karena bisa menjadi penyelamat saat penghasilan terganggu atau muncul kebutuhan mendadak.
Namun, terus menambah saldo dana darurat tanpa menghitung kebutuhan sebenarnya juga belum tentu menjadi pilihan yang tepat.
Ada titik ketika uang tunai yang terlalu banyak justru membuat sebagian dana kehilangan kesempatan untuk digunakan bagi tujuan keuangan lainnya.
Melansir dari Britannica Money, kebutuhan dana darurat setiap orang berbeda dan perlu disesuaikan dengan pengeluaran, pendapatan, serta kondisi finansial masing-masing.
“Dana darurat yang tepat adalah dana yang memungkinkan seseorang merasa aman tanpa menyimpan uang tunai lebih banyak dari yang dibutuhkan,” dikutip dari Britannica Money.
Baca Juga: 7 Cara Mengubah Pendapatan Biasa Menjadi Aset Jangka Panjang untuk Masa Depan
Mengapa dana darurat penting?
Fungsi utama dana darurat bukan untuk mencari keuntungan, tetapi memberikan perlindungan ketika kondisi keuangan tiba-tiba berubah. Misalnya, kehilangan pekerjaan, biaya perbaikan kendaraan, kebutuhan rumah tangga mendesak, atau pengeluaran lain yang tidak masuk rencana.
Dengan dana yang sudah tersedia, seseorang tidak harus langsung mengandalkan utang ketika keadaan darurat datang. Karena itu, akses cepat menjadi hal penting dalam memilih tempat menyimpan dana darurat.
Berapa dana darurat yang cukup?
Tidak ada nominal yang cocok untuk semua orang. Data Britannica Money menggunakan patokan kebutuhan hidup selama tiga, enam, hingga sembilan bulan, tergantung kondisi masing-masing.
Untuk menghitungnya, fokuslah pada pengeluaran yang benar-benar wajib setiap bulan. Setelah itu, sesuaikan dengan kestabilan pekerjaan, jumlah tanggungan, dan kondisi pendapatan.
Cara sederhananya:
- Hitung kebutuhan pokok setiap bulan.
- Pisahkan pengeluaran yang bisa ditunda.
- Kalikan kebutuhan pokok dengan jumlah bulan perlindungan yang diinginkan.
- Evaluasi kembali ketika kondisi keuangan berubah.
Kapan dana darurat bisa dianggap terlalu banyak?
Dana darurat bisa terlalu besar jika jumlahnya sudah jauh melampaui kebutuhan realistis dan tidak lagi memiliki tujuan yang jelas. Menyimpan uang tunai memang memberikan rasa aman, tetapi ada biaya peluang ketika terlalu banyak dana hanya dibiarkan mengendap.
Uang yang berlebihan di dana darurat sebenarnya bisa saja digunakan untuk kebutuhan finansial lain, seperti melunasi utang atau menyiapkan tujuan jangka panjang.
Jadi, bukan berarti seluruh uang harus segera dipindahkan ke investasi. Yang penting, setiap bagian dari uang memiliki fungsi yang jelas.
Sebagai ilustrasi dari data sumber, perbedaan bunga pada dana tunai sebesar US$30.000 selama 10 tahun dapat menghasilkan selisih yang cukup besar.
Namun, perhitungan tersebut menggunakan kondisi dan produk keuangan Amerika Serikat, sehingga tidak bisa dijadikan patokan langsung bagi Anda di Indonesia.
Baca Juga: Tips Memisahkan Modal Jualan Online dan Uang Belanja Dapur biar Tetap Stabil
Di mana sebaiknya menyimpan dana darurat?
Dana darurat sebaiknya berada di tempat yang relatif aman dan mudah dicairkan. Jangan hanya mengejar imbal hasil jika akibatnya uang sulit digunakan ketika keadaan mendesak. Beberapa pilihan yang bisa dipertimbangkan adalah:
- Rekening tabungan dengan bunga kompetitif.
- Rekening yang mudah digunakan untuk kebutuhan transaksi.
- Instrumen berjangka pendek yang pencairannya sesuai dengan kebutuhan dan risikonya sudah dipahami.
Untuk uang yang mungkin diperlukan sewaktu-waktu, kemudahan akses tetap perlu menjadi pertimbangan utama.
Kapan jumlahnya perlu ditambah?
Jumlah dana darurat sebaiknya tidak dianggap permanen. Kebutuhan bisa berubah ketika seseorang menikah, memiliki anak, berganti pekerjaan, mempunyai cicilan baru, atau mengalami perubahan biaya hidup.
Sebaliknya, jika kondisi keuangan semakin stabil dan saldo dana darurat sudah jauh melewati kebutuhan, jumlahnya juga layak ditinjau ulang. Kelebihan dana dapat dipisahkan untuk tujuan finansial lain sesuai kebutuhan, jangka waktu, dan kemampuan menanggung risiko.
Dana darurat yang sehat bukan berarti harus sebesar-besarnya. Tujuannya adalah menyediakan bantalan keuangan yang cukup ketika kejadian tak terduga muncul tanpa membuat terlalu banyak uang menganggur.
Patokan tiga, enam, atau sembilan bulan dapat menjadi titik awal, tetapi kebutuhan sebenarnya tetap bergantung pada kondisi masing-masing.
Mengevaluasinya secara berkala, dana darurat bisa tetap berfungsi sebagai pelindung sekaligus membuat pengelolaan keuangan menjadi lebih terarah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News