MOMSMONEY.ID - Harga minyak goreng kembali merangkak naik. Tapi penyebabnya bukan sekadar bahan baku sawit, ada faktor lain yang mungkin jarang disadari yaitu kemasan plastik.
Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute Tungkot Sipayung mengungkapkan, lonjakan harga minyak goreng domestik dipicu kenaikan harga energi global yang berdampak ke bahan turunan seperti plastik.
“Harga energi fosil dunia meningkat dari sekitar US$ 60 per barel sebelum perang menjadi lebih dari US$ 110 per barel. Akibatnya, semua produk turunan dari energi fosil seperti plastik mengalami kenaikan,” ujarnya dalam keterangan resmi Kamis (23/4).
Kenaikan harga energi ini dipicu konflik di Timur Tengah yang mengganggu jalur distribusi, termasuk penutupan Selat Hormuz.
Dampaknya, pasokan bahan baku plastik ikut terganggu dan harganya melonjak. Karena minyak goreng banyak dijual dalam kemasan plastik, biaya produksi pun ikut naik dan akhirnya dibebankan ke harga jual.
Di Indonesia sendiri, minyak goreng adalah kebutuhan utama. Dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa, konsumsi minyak goreng sawit sangat besar dan sensitif terhadap perubahan harga.
Baca Juga: 7 Pola Hidup Ini Jadi Biang Keladi Penyebab Kanker Ginjal, Segera Ubah Sekarang
Tungkot menjelaskan, ada tiga jenis minyak goreng sawit yang beredar minyak goreng kemasan premium, MinyaKita untuk masyarakat dan UMKM dan minyak goreng curah untuk industri
Kenaikan harga saat ini terutama terjadi pada minyak goreng premium dan curah. Sepanjang Januari hingga minggu ketiga April 2026, harga minyak goreng premium naik dari Rp 21.166 menjadi Rp 21.793 per liter. Sementara minyak goreng curah naik dari Rp 17.790 menjadi Rp 19.486 per liter.
Sebaliknya, harga MinyaKita justru turun dari Rp 16.865 menjadi Rp 15.949 per liter, mendekati harga eceran tertinggi (HET) Rp15.700 per liter.
“Harga dan ketersediaan MGS MinyaKita ini dikendalikan pemerintah melalui kebijakan DMO (domestic market obligation), pengendalian penyaluran, dan HET,” jelasnya.
Menurutnya, penurunan harga MinyaKita menunjukkan kebijakan pemerintah mulai efektif menjaga pasokan. Namun ke depan, ada tantangan baru.
“Namun apakah harga MGS MinyaKita dapat dipertahankan ke depan dengan kenaikan harga kemasan plastik? Ini tergantung pemerintah apakah akan akomodatif dengan perubahan harga kemasan dalam HET,” tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News