MOMSMONEY.ID - Kemampuan memecahkan masalah menjadi salah satu keterampilan penting bagi anak di tengah perkembangan teknologi. Namun, kemampuan tersebut tidak harus dilatih melalui komputer atau coding.
Anak bisa belajar berpikir logis dari aktivitas sederhana, seperti mencari rute paling efisien ke sekolah, menemukan pola hingga mencari solusi dari masalah sehari-hari.
Cara belajar tersebut diterapkan di sejumlah sekolah di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, melalui penguatan berpikir komputasional sejak jenjang pendidikan dasar.
Program yang diinisiasi Djarum Foundation tersebut mendapat dukungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal, dan Informal Kemendikdasmen Gogot Suharwoto mengatakan, praktik yang dilakukan di Kudus dapat dikembangkan di daerah lain.
“Festival Berpikir Komputasional 2026 ini sejalan dengan arah kebijakan nasional yang diusung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), yaitu Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), serta penguatan kapasitas literasi, numerasi, dan STEM,” kata Gogot dalam keterangan resmi (20/9).
Baca Juga: 4 Cara Meningkatkan IQ Anak Sejak Dini yang Wajib Diketahui Orang Tua
Berpikir komputasional bukan sekadar coding
Berpikir komputasional tidak hanya berkaitan dengan komputer. Anak juga bisa belajar memecah persoalan menjadi bagian lebih kecil, mengenali pola, memilih informasi yang relevan dan menyusun langkah penyelesaian secara runtut.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Kudus Anggun Nugroho bilang, kemampuan tersebut dapat membantu anak menghadapi berbagai persoalan.
“Berpikir komputasional bukan sekadar tentang coding atau mengenal komputer, tetapi cara berpikir yang mengajarkan anak untuk memecah masalah besar menjadi bagian-bagian kecil, mengenali pola, melakukan abstraksi, dan menyusun langkah-langkah yang logis untuk menyelesaikan persoalan,” ujar Anggun.
Penerapannya pun cukup sederhana. Di SD 3 Kalirejo, misalnya, murid diajak mencari rute paling efisien untuk berangkat ke sekolah.
Sementara di SD 1 Barongan, murid diajak menganalisis pola keterlambatan siswa untuk mencari kemungkinan penyebab dan solusinya.
Baca Juga: Rekomendasi Buku Parenting untuk Didik Anak buat Orang Tua Baru
Bisa dilatih orang tua di rumah
Bagi orang tua, pola tersebut bisa diterapkan dalam aktivitas sehari-hari tanpa membutuhkan perangkat khusus.
Ketika anak menghadapi masalah, orang tua bisa mengajaknya mencari penyebab terlebih dahulu, kemudian memikirkan beberapa pilihan solusi.
Anak juga bisa dilatih menjelaskan alasan di balik pilihannya, menyusun kegiatan berdasarkan urutan dan mencoba mencari solusi sendiri sebelum orang tua memberikan jawaban.
Program Manager Djarum Foundation Marcella Marissa mengatakan berpikir komputasional perlu dikembangkan sejak dini untuk membantu anak menghadapi berbagai persoalan.
Baca Juga: Daftar Rekomendasi Film Tentang Ibu dan Anak yang Penuh Konflik Menyentuh
“Kami melihat berpikir komputasional sebagai keterampilan fundamental yang perlu dikembangkan sejak dini untuk membantu murid berpikir logis, memecahkan masalah, dan menghadapi tantangan dengan tangguh serta percaya diri,” tutur Marcella
Dengan demikian, melatih kemampuan berpikir komputasional tidak berarti orang tua harus menambah waktu anak menggunakan gadget.
Permainan, cerita dan aktivitas sehari-hari juga bisa menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar mengenali pola, mengikuti aturan, menyusun langkah dan mencari solusi.
Jadi, ketika anak menghadapi masalah, orang tua tidak selalu harus langsung memberikan jawabannya. Sesekali, coba ajak anak berpikir dengan pertanyaan sederhana: “Menurut kamu, masalahnya apa dan bagaimana cara menyelesaikannya?”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News