MOMSMONEY.ID - Harga Bitcoin bertahan di atas US$ 64.000 meski harga minyak dunia melonjak akibat memanasnya konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Harga minyak mentah Brent menembus US$ 90,37 per barel, naik 2,58% dalam sehari, setelah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak global. Sebulan terakhir, harganya bahkan telah tersulut naik lebih dari 15%.
Namun di tengah gejolak tersebut, Bitcoin justru cenderung bertahan. Mengutip CoinMarketCap, Bitcoin diperdagangkan di level US$ 64.227 per koin pada Senin (20/7) pukul 17.50 WIB, hanya turun tipis 0,50% dalam 24 jam terakhir.
Selama tujuh hari terakhir, raja aset kripto itu bahkan masih naik 2,23%. Kapitalisasi pasar Bitcoin tetap solid di atas US$ 1,29 triliun.
Crypto Analyst Reku, Andri Fauzan, menilai ketahanan harga Bitcoin menunjukkan perubahan cara investor memandang aset kripto terbesar di dunia tersebut.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Stagnan di dekat US$ 4.000 per troi ons, Pasar Apatis?
"Bitcoin mulai diperlakukan seperti emas digital oleh investor besar ketika ketidakpastian geopolitik meningkat. Ini berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu ketika Bitcoin cenderung ikut terkoreksi saat sentimen risiko memburuk," ujarnya mengutip siaran pers, hari ini (20/7).
Menurut Andri, data blockchain menunjukkan investor kakap masih mengakumulasi Bitcoin dalam dua pekan terakhir. Sejak awal Juli 2026, para whale atau pemegang Bitcoin bermodal besar telah mengakumulasi lebih dari 270.000 BTC senilai sekitar US$16,7 miliar. Pola tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa pelaku pasar institusi masih optimistis terhadap prospek Bitcoin dalam jangka menengah.
"Ketika harga terkoreksi dan investor ritel biasanya panik, investor besar justru menambah posisi. Pola ini sudah berulang beberapa kali dalam siklus Bitcoin dan biasanya mendahului pergerakan harga yang lebih signifikan," tuturnya.
Andri menambahkan, sejumlah analis global masih memperkirakan harga Bitcoin berpeluang bergerak ke kisaran US$ 80.000 hingga US$ 100.000 pada 2026. Optimisme tersebut ditopang oleh meningkatnya arus dana ke ETF Bitcoin, bertambahnya adopsi dari investor institusi, serta dampak positif pasca-halving.
Baca Juga: Peringkat Buyback Emas Hari Ini: Galeri 24 Masih Termahal, UBS Curi Perhatian
Meski begitu, ia mengingatkan investor tetap perlu mewaspadai tingginya ketidakpastian global. Lonjakan harga minyak berpotensi mendorong inflasi dan memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.
Maka, investor perlu mempertimbangkan diversifikasi ke aset yang tidak terpengaruh langsung oleh kebijakan pasokan minyak atau keputusan bank sentral. "Bitcoin salah satu pilihan yang semakin relevan untuk peran itu," imbuh Andri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News