MOMSMONEY.ID - Kebijakan Federal Reserves (The Fed) menahan tingkat suku bunga, menyebabkan harga Bitcoin (BTC) ambles. Bank sentral AS merilis hasil Federal Open Market Committee (FOMC) Januari 2026, yang memutuskan suku bunga acuan tetap di rentang 3,50%-3,75%.
Keputusan tersebut sejalan dengan ekspektasi pelaku pasar, namun tetap memicu respons negatif pada aset berisiko, termasuk kripto.
Mengutip coinmarketcap.com, Jumat (30/1) pukul 18.13 WIB, harga Bitcoin diperdagangkan di level US$ 82.688. Dalam 24 jam terakhir, harga raja aset kripto ambles 5,9%.
Berdasarkan data pasar global, Bitcoin sempat naik di atas level US$ 90.000 pada Rabu (28/1), didorong oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang tidak khawatir terhadap penurunan nilai dollar AS. Pada saat yang sama, arus dana institusi menunjukkan sikap lebih berhati-hati, tercermin dari arus keluar pada produk spot Bitcoin ETF di Amerika Serikat (AS) senilai US$ 147,37 juta pada Selasa (27/1).
Baca Juga: Bitcoin cs Tiarap karena Sikap The Fed, Investor Disarankan Lakukan Ini!
Menurut Antony Kusuma, VP INDODAX, pergerakan ini mencerminkan reaksi pasar terhadap kebijakan moneter yang sebelumnya telah diantisipasi. “Keputusan The Fed untuk menahan suku bunga sebenarnya sudah tercermin dalam ekspektasi pasar. Namun, kebijakan tersebut dinilai belum memberikan dorongan baru bagi pasar,” katanya mengutip siaran pers, Kamis (29/1).
Dia menekankan bahwa volatilitas jangka pendek pasca-pengumuman kebijakan moneter merupakan pola yang kerap terjadi di pasar kripto global. Peristiwa seperti FOMC sering menjadi momen evaluasi bagi investor. Pergerakan harga yang terjadi mencerminkan proses penyesuaian pasar terhadap informasi yang sudah dikonfirmasi secara resmi.
Di sisi lain, sentimen positif datang dari sisi adopsi pemerintah dan institusional. Negara bagian AS, South Dakota, resmi mengajukan Rancangan Undang-Undang (RUU) pembentukan cadangan Bitcoin (Bitcoin Reserve) yang berasal dari pendapatan pemerintah negara bagian. Melalui aturan ini, South Dakota berpotensi mengalokasikan hingga 10% dari total dana kelolaan negara ke Bitcoin sebagai bagian dari strategi cadangan aset.
Antony menilai langkah tersebut mencerminkan penguatan fundamental Bitcoin di luar pergerakan harga jangka pendek. “Di tengah koreksi jangka pendek saat ini, ada juga perkembangan positif yang patut dicermati para investor. Adopsi Bitcoin di level pemerintah dan institusional menunjukkan bahwa fundamental Bitcoin terus berkembang, terlepas dari dinamika harga harian,” jelasnya.
Baca Juga: Aset Kripto Jadi Opsi Diversifikasi untuk Dana Pensiun, Begini Strateginya!
Kata Antony, volatilitas yang terjadi di pasar kripto saat ini tidak terlepas dari tekanan geopolitik dan kebijakan moneter global, sehingga pelaku pasar cenderung bersikap lebih selektif dalam mengambil keputusan. Maka, pelaku pasar disarankan tetap berhati-hati dan mencermati perkembangan faktor makroekonomi yang memengaruhi pergerakan pasar dalam jangka pendek.
Di tengah dinamika makroekonomi global yang cepat berubah, investor perlu aktif mengikuti perkembangan informasi dan memahami konteks risiko sebelum mengambil keputusan.
“Investor perlu menjaga disiplin dan terus memperbarui wawasan. Contohnya dengan memanfaatkan pendekatan bertahap, seperti Dollar Cost Averaging (DCA) atau membeli secara berkala, guna menekan risiko fluktuasi harga yang tajam," saran Antony.
Selanjutnya: Pasar Asuransi Jiwa Segmen Menengah Atas Tunjukkan Tren Positif
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News