M O M S M O N E Y I D
Keluarga

4 Sikap Orang Tua yang Bisa Menurunkan Harga Diri Anak, yuk Evaluasi

4 Sikap Orang Tua yang Bisa Menurunkan Harga Diri Anak, yuk Evaluasi
Reporter: Ana Risma  |  Editor: Ana Risma


MOMSMONEY.ID - Moms wajib tahu, ini 4 sikap orang tua yang bisa menurunkan harga diri anak.

Orang tua harus mencoba yang terbaik untuk menumbuhkan self-esteem atau harga diri yang positif pada anak. Jika anak memiliki harga diri yang tinggi, itu akan mendorong mereka untuk menjadi sosok yang percaya pada diri sendiri sekaligus tangguh saat harus melewati tantangan dan mencoba hal baru.

Intinya, harga diri sangat berpengaruh pada cara anak memandang dirinya sendiri yang membentuk perilaku dan keputusan mereka.

Namun, terkadang orang tua melakukan sesuatu yang tanpa sengaja dapat melukai harga diri anak. Melansir Psychology Today, ada 4 sikap orang tua yang bisa menurunkan harga diri anak. Berikut penjelasannya lebih lanjut:

Baca Juga: Ini Kiat-Kiat Berkomunikasi dengan Anak Remaja Menurut Unicef, Catat Ya!

1. Overprotektif

Terus-menerus melindungi anak dari tantangan maupun hambatan dapat mencegah mereka mengembangkan kepercayaan diri dan rasa kompetensi. Sikap overprotektif yang dilakukan orang tua juga dapat membatasi kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi, belajar, dan membuat kesalahan, yang mana ketiga hal ini penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak.

Saat Anda melindungi anak-anak Anda secara berlebihan, itu bisa menimbulkan perasaan cemas dan tidak aman dalam diri anak ketika harus menghadapi dunianya sendiri. Kebiasaan ini juga dapat menciptakan rasa ketergantungan dan mengurangi kemandirian. Jika terus dibiarkan, rasa ketergantungan dan kurangnya kemandirian dapat menimbulkan masalah saat anak bertransisi menjadi dewasa.

Alih-alih bersikap overprotektif, orang tua perlu mencapai keseimbangan antara melindungi anak dan membiarkan mereka mengambil risiko serta menghadapi tantangan guna membantu anak berkembang menjadi individu yang percaya diri dan mandiri. Cobalah dorong kemandirian, tumbuhkan harga diri, dan ajarkan keterampilan memecahkan masalah kepada anak daripada terus melindungi mereka secara berlebihan.

2. Membuat anak merasa bersalah

Kebiasaan orang tua selanjutnya yang bisa menurunkan harga diri anak yaitu menyuntikkan rasa bersalah kepada anak secara terus-menerus.

Ketika orang tua terlalu sering menggunakan rasa bersalah untuk mengendalikan anak-anaknya, itu berisiko membuat anak merasa diasingkan.

Lama-kelamaan, bukan tidak mungkin jika anak yang selalu merasa diasingkan oleh orang tuanya berubah menjadi individu dengan harga diri rendah.

Baca Juga: Catat, Ini 5 Tanda Anda dan Pasangan Sudah Siap untuk Memiliki Anak

3. Berbicara dengan sarkasme

Anda menggunakan sarkasme jika Anda mengatakan hal-hal yang menyiratkan kebalikan dari apa yang Anda katakan melalui nada suara dengan tujuan menyindir atau mengolok-olok anak. Contoh, Anda mengatakan sesuatu seperti “Kamu pintar sekali” ketika anak membuat pilihan yang buruk atau mendapatkan nilai ujian yang rendah.

Apabila Anda gemar menggunakan sarkasme saat berbicara dengan anak, sebaiknya hentikan sekarang juga.

Pasalnya, penggunaan sarkasme rentan menyakiti hati anak dan bisa membuatnya merasa malu. Menjatuhkan anak melalui sarkasme juga dapat menciptakan hambatan saat Anda mencoba berkomunikasi secara efektif dengan anak.

4. Mengkritik anak dengan kasar

Kritik orang tua terutama dengan cara yang kasar atau merendahkan dapat berdampak negatif pada emosional anak.

Komentar yang terlalu kritis dari orang tua bisa dengan mudah mengikis harga diri dan rasa berharga seorang anak sekaligus menimbulkan perasaan sedih, marah, atau frustasi dalam diri anak.

Kritik yang kasar juga dapat menyebabkan penurunan motivasi dan mengurangi kepercayaan anak pada kemampuannya sendiri.

Itulah 4 sikap orang tua yang bisa menurunkan harga diri anak. Ingat-ingat bahwa cara Anda berinteraksi dengan anak memainkan pengaruh yang besar dalam membentuk kepribadian dan harga diri mereka. Semakin positif cara yang Anda gunakan untuk berkomunikasi dengan anak, maka semakin tinggi pula kemungkinan anak memiliki harga diri yang kuat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

7 Daftar Film Populer Tentang Friendzone, Awas Jadi Baper

Jika ingin tahu lebih dalam tentang betapa rumitnya hubungan friendzone, rekomendasi film berikut ini bisa dijadikan tontonannya.

4 Jenis Insecurity yang Paling Umum Dirasakan, Kenali Tanda dan Penyebabnya di Sini

Agar lebih memahami perasaan tidak aman, kenali beberapa jenis insecurity beserta penyebab dan tandanya di sini.​

Jadwal Malaysia Open 2026: 8 Wakil Indonesia Bertanding, 1 Tiket 16 Besar di Tangan

Jadwal Malaysia Open 2026 Babak 32 Besar hari kedua Rabu (7/1), delapan wakil Indonesia bertanding. 

Kapan Tanggal Merah di Januari 2026? Ada Long Weekend di Pertengahan Bulan

Di Januari 2026 ini, Anda masih bisa menikmati momen libur tanggal merah. Bahkan, momen itu adalah long weekend yang ada di pertengahan bulan.

Promo A&W WednesDeal Januari 2026, 2 Double Cheeseburger Mulai Rp 37 Ribuan

Promo A&W WednesDeal hadir kembali selama Januari 2026. Anda bisa mendapatkan 2 Double Cheeseburger mulai Rp 37.000-an saja.

Jadwal Sassuolo vs Juventus di Serie A, Rabu 7 Januari 2026: Jay Idzes Main?

Simak jadwal pertandingan Sassuolo vs Juventus pekan ke-19 Serie A 2025/2026, Rabu 7 Januari 2026 pukul 02.45 WIB di Mapei Stadium.

Biru Dingin Diprediksi Akan Jadi Tren Utama di 2026, Ini Cara Menggunakannya

Simak tren warna biru dingin yang diperkirakan akan mendominasi interior dan gaya hidup di tahun 2026 serta cara untuk mengaplikasikannya.

Tren Dekorasi Jendela 2026 yang Membuat Rumah Lebih Hangat dan Berkarakter

Yuk, simak tren dekorasi jendela 2026 yang lebih hangat, detail, dan fungsional untuk rumah modern agar terlihat rapi, estetik, dan nyaman.

8 Tren Desain Dapur 2026 yang Lebih Fungsional dan Nyaman untuk Hunian Modern

Yuk, kita lihat tren desain dapur 2026 yang mengutamakan fungsi, warna hangat, bahan alami, dan fitur kesehatan untuk rumah modern kamu.&l

Produk Herbal Mirip dengan Medis, Benarkah?

Ada anggapan penggunaan produk herbal yang dianggap sama dengan obat medis. Benarkah hal itu?