MOMSMONEY.ID - Pembayaran digital memang praktis, tetapi pengeluaran bisa cepat membesar. Begini cara sederhana agar uang tetap terkendali.
Sekarang, membayar makanan, transportasi, belanja, hingga kebutuhan kecil bisa dilakukan lewat ponsel. Kemudahan ini membuat aktivitas sehari-hari menjadi lebih praktis, tetapi juga bisa membuat uang keluar tanpa terasa.
Penelitian mengenai perilaku pembayaran dan overspending menunjukkan adanya hubungan antara metode pembayaran non-tunai tertentu dengan kecenderungan mengeluarkan uang lebih banyak.
Melansir dari sciencedirect.com, penelitian tersebut menyoroti bagaimana transparansi pembayaran dapat memengaruhi persepsi seseorang terhadap pengeluaran.
Karena itu, persoalannya bukan harus meninggalkan cashless, melainkan bagaimana menggunakannya dengan lebih sadar.
Baca Juga: Tips Menghemat Pengeluaran Anak Kos biar Uang Aman sampai Akhir Bulan
Kenapa cashless bisa membuat uang cepat habis?
Saat menggunakan uang tunai, jumlah uang yang berkurang biasanya langsung terlihat. Sementara itu, pembayaran digital hanya membutuhkan beberapa sentuhan sehingga transaksi kecil sering terasa tidak terlalu berarti.
Padahal, pengeluaran kecil yang dilakukan berkali-kali bisa menjadi besar. Contohnya, transaksi Rp25.000 yang dilakukan 10 kali sudah mencapai Rp250.000.
Jadi, jangan hanya memperhatikan nominal transaksi. Frekuensi pembayaran juga perlu diperhatikan.
Pisahkan uang berdasarkan kebutuhan
Cara sederhana mengontrol pengeluaran adalah membagi uang sesuai fungsinya. Hindari menempatkan seluruh dana pada rekening yang sama dan mudah digunakan untuk belanja. Penghasilan dapat dibagi menjadi beberapa bagian:
- Kebutuhan rutin seperti makanan, transportasi, tagihan, dan tempat tinggal.
- Dana cadangan untuk kebutuhan tidak terduga.
- Tabungan atau tujuan keuangan jangka panjang.
- Pengeluaran fleksibel untuk hiburan dan belanja.
Pemisahan ini membuat uang untuk kebutuhan penting tidak mudah ikut terpakai ketika muncul keinginan belanja.
Beri jeda sebelum membeli
Keputusan belanja sering menjadi impulsif ketika dilakukan terlalu cepat. Notifikasi promosi dan berbagai penawaran digital juga dapat membuat seseorang merasa perlu segera membeli.
Cobalah membuat aturan sederhana. Tunggu 24 jam untuk barang yang tidak mendesak dan 48 jam untuk pembelian dengan nilai yang lebih besar.
Selama menunggu, tanyakan kembali apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya menarik karena sedang ditawarkan.
Batasi uang di akun pembayaran harian
Tidak semua dana perlu ditempatkan pada rekening atau dompet digital yang digunakan setiap hari. Memisahkan uang dapat menjadi pengaman agar tabungan tidak mudah terpakai.
Baca Juga: 10 Kebiasaan Keuangan yang Bikin Kondisi Keuangan Lebih Kuat
Untuk QRIS, Bank Indonesia menetapkan batas maksimal transaksi Rp10 juta per transaksi. Penyedia jasa pembayaran juga dapat menetapkan batas kumulatif harian atau bulanan sesuai manajemen risiko.
Melansir dari bi.go.id, pengguna sebaiknya memastikan informasi transaksi sebelum melakukan konfirmasi dan memeriksa notifikasi setelah pembayaran selesai.
Batas tersebut bukan berarti menjadi target pengeluaran. Buat batas pribadi yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan.
Kurangi pemicu belanja impulsif
Jika terlalu mudah tergoda berbelanja melalui ponsel, ubah sedikit lingkungan digital. Matikan notifikasi promosi yang tidak diperlukan dan pindahkan aplikasi belanja dari halaman utama.
Hindari pula menyimpan metode pembayaran jika kemudahan tersebut justru membuat proses pembelian terlalu spontan. Tujuannya sederhana, yaitu menciptakan sedikit jarak antara munculnya keinginan dan keputusan membayar.
Pengetahuan keuangan perlu dibarengi kebiasaan
Memahami anggaran memang penting, tetapi pengetahuan saja belum tentu cukup jika kebiasaan belanja tidak ikut berubah.
Penelitian mengenai Generasi Z di Jakarta menunjukkan bahwa literasi keuangan berkaitan dengan perilaku konsumtif. Penggunaan pembayaran cashless juga menjadi salah satu faktor yang diteliti dalam hubungan tersebut.
Melansir dari ijcsrr.org, temuan ini menunjukkan pentingnya menggabungkan pemahaman finansial dengan pengendalian perilaku ketika menggunakan layanan pembayaran digital.
Dengan kata lain, kemampuan mengatur uang harus diterapkan dalam kebiasaan sehari-hari, bukan hanya dipahami secara teori.
Cek pengeluaran setiap minggu
Tidak perlu membuat pencatatan keuangan yang rumit. Luangkan sekitar 15 menit setiap minggu untuk melihat ke mana uang digunakan. Periksa pengeluaran terbesar, transaksi kecil yang terlalu sering, serta pembelian yang sebenarnya tidak direncanakan.
Setelah itu, tentukan satu kebiasaan yang ingin diperbaiki pada minggu berikutnya. Misalnya mengurangi jajan, menurunkan anggaran hiburan, atau menghentikan langganan yang sudah jarang digunakan.
Cashless bukan penyebab seseorang pasti boros. Masalahnya lebih sering muncul ketika kemudahan pembayaran tidak diimbangi batas dan kebiasaan mengontrol pengeluaran.
Memisahkan uang, membatasi dana transaksi harian, memberi jeda sebelum membeli, dan mengevaluasi pengeluaran secara rutin, pembayaran digital tetap bisa digunakan dengan nyaman tanpa membuat kondisi keuangan mudah lepas kendali.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News