MOMSMONEY.ID - Kenali 10 kebiasaan keuangan yang dapat membantu mengatur uang, menghindari masalah finansial, dan menyiapkan masa depan.
Punya penghasilan besar belum tentu berarti kondisi keuangan seseorang sudah kuat. Sebaliknya, pendapatan yang tidak terlalu tinggi tetap bisa dikelola dengan baik jika dibarengi kebiasaan finansial yang teratur.
Di Indonesia, kemampuan mengelola uang menjadi semakin penting karena hasil SNLIK 2025 menunjukkan indeks literasi keuangan mencapai 66,46%, sedangkan inklusi keuangan berada di angka 80,51%.
Melansir dari New Trader U, perbedaan kondisi finansial tidak hanya berkaitan dengan besarnya pendapatan, tetapi juga bagaimana uang digunakan setelah diterima.
“Kebiasaan keuangan dapat membentuk perbedaan kekayaan dalam jangka panjang,” ujar Steve Burns.
Baca Juga: Cara Amankan Uang Saat Bencana Alam biar Terjaga dan Mudah Diakses
Tidak hanya mengandalkan gaji
Gaji bulanan masih menjadi sumber pendapatan utama bagi banyak orang. Namun, terlalu bergantung pada satu pemasukan membuat kondisi keuangan lebih rentan ketika terjadi perubahan pekerjaan atau penghasilan.
Karena itu, mulai membangun sumber pemasukan tambahan bisa menjadi pilihan. Bentuknya tidak harus langsung berupa bisnis besar. Keahlian yang dimiliki juga dapat dikembangkan menjadi pekerjaan sampingan selama tetap sesuai kemampuan.
Lebih hati hati menggunakan utang
Utang bukan tambahan pendapatan karena setiap pinjaman tetap harus dikembalikan. Sebelum mengambil cicilan, penting melihat bunga, tenor, total pembayaran, dan kemampuan membayar setiap bulan.
Utang konsumtif yang terlalu besar dapat membuat sebagian penghasilan habis untuk membayar kewajiban. Karena itu, keputusan berutang sebaiknya dibuat berdasarkan kebutuhan dan kemampuan, bukan sekadar keinginan.
Menabung sebelum uang habis
Menunggu sisa uang untuk ditabung sering kali membuat tabungan tidak kunjung bertambah. Cara yang lebih teratur adalah menyisihkan sebagian penghasilan sejak awal.
Nominalnya tidak harus langsung besar. Konsistensi justru lebih penting untuk membentuk kebiasaan dan membangun dana yang bisa digunakan untuk kebutuhan mendesak maupun tujuan masa depan.
Mulai memikirkan masa depan
Kebutuhan hari ini memang penting, tetapi rencana jangka panjang juga perlu diperhatikan. Dana pendidikan, tempat tinggal, keluarga, dan masa pensiun sebaiknya tidak baru dipikirkan ketika waktunya sudah dekat.
Rencana sederhana pun sudah cukup sebagai awal. Target keuangan dapat dievaluasi dan disesuaikan ketika pendapatan maupun kebutuhan berubah.
Membedakan konsumsi dan aset
Menikmati hasil kerja bukan hal yang keliru. Namun, peningkatan penghasilan sebaiknya tidak seluruhnya digunakan untuk meningkatkan gaya hidup.
Sebagian uang dapat diarahkan pada aset atau instrumen keuangan yang dipahami risikonya. Dengan begitu, penghasilan tidak hanya habis untuk konsumsi, tetapi juga dapat digunakan untuk membangun fondasi finansial.
Memahami kewajiban pajak
Pajak merupakan bagian dari pengelolaan keuangan yang tidak seharusnya diabaikan. Memahami kewajiban perpajakan dapat membantu seseorang menghindari kesalahan administrasi dan membuat perencanaan keuangan lebih tertib.
Baca Juga: Penipuan Berbasis AI Makin Canggih, Kenali Deepfake Sebelum Jadi Korban
Untuk situasi yang kompleks, informasi dari sumber resmi atau bantuan profesional dapat menjadi rujukan sebelum mengambil keputusan.
Terus meningkatkan literasi keuangan
Literasi keuangan bukan kemampuan yang cukup dipelajari sekali. Pengetahuan mengenai anggaran, utang, investasi, perlindungan keuangan, dan risiko perlu terus diperbarui.
OJK dan BPS mencatat indeks literasi keuangan kelompok berpendidikan perguruan tinggi mencapai 90,63% dalam SNLIK 2025. Sementara itu, kelompok yang tidak atau belum pernah sekolah maupun tidak tamat SD tercatat 43,20%.
Data tersebut memperlihatkan bahwa akses terhadap pengetahuan menjadi bagian penting dalam kemampuan mengelola keuangan.
Menghitung risiko sebelum mengambil keputusan
Keuangan yang sehat bukan berarti harus menghindari semua risiko. Yang lebih penting adalah memahami kemungkinan kerugian sebelum membuat keputusan.
Dana darurat, pembagian aset, serta pemilihan instrumen berdasarkan profil risiko dapat membantu menjaga kondisi finansial agar tidak terlalu terpukul ketika terjadi perubahan.
Lebih kritis terhadap nasihat keuangan
Media sosial membuat informasi finansial semakin mudah ditemukan. Sayangnya, tidak semua saran cocok diterapkan oleh setiap orang.
Sebelum mengikuti sebuah rekomendasi, periksa sumber informasi, pahami risikonya, dan sesuaikan dengan pendapatan serta tujuan pribadi. Nasihat yang berhasil bagi orang lain belum tentu memberikan hasil serupa pada kondisi yang berbeda.
Menyiapkan dana darurat
Masalah keuangan sering muncul tanpa pemberitahuan. Kendaraan rusak, kehilangan pekerjaan, kebutuhan keluarga, atau pengeluaran mendadak dapat mengacaukan anggaran jika tidak memiliki cadangan.
Dana darurat membantu memberikan ruang ketika kondisi tersebut terjadi. Besarannya dapat disesuaikan dengan pendapatan, jumlah tanggungan, kestabilan pekerjaan, dan kebutuhan rumah tangga.
Kebiasaan kecil bisa menentukan arah keuangan
Kondisi finansial yang kuat tidak selalu terlihat dari barang mahal atau gaya hidup seseorang. Banyak keputusan penting justru terjadi di balik layar, mulai dari cara menyimpan uang, mengelola cicilan, membangun aset, hingga menyiapkan dana untuk keadaan tidak terduga.
Setiap orang memiliki kondisi ekonomi yang berbeda sehingga tidak tepat membandingkan keuangan hanya berdasarkan kelas sosial atau besarnya pendapatan. Namun, kebiasaan mengatur uang dengan lebih terencana bisa dipelajari siapa saja.
Pada akhirnya, literasi keuangan bukan tentang bagaimana terlihat kaya, melainkan bagaimana menggunakan penghasilan secara lebih sadar.
Pendapatan yang dikelola dengan disiplin, risiko yang dipahami, serta tujuan yang jelas dapat menjadi bekal untuk membangun kondisi finansial yang lebih sehat dalam jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News