M O M S M O N E Y I D
Bugar

Ternyata Hantavirus Telah Lama Ada di Indonesia, Bahkan Sejak 1980-an

Ternyata Hantavirus Telah Lama Ada di Indonesia, Bahkan Sejak 1980-an
Reporter: SS. Kurniawan  |  Editor: S.S. Kurniawan


MOMSMONEY.ID - Ternyata, hantavirus telah lama ada di Indonesia, bahkan sejak tahun 1980-an. Kok, bisa?

Mengutip laman Kementerian Kesehatan, studi komprehensif yang dilakukan di berbagai kota besar menemukan, seroprevalensi hantavirus pada manusia di Indonesia mencapai 11,6%. 

Artinya, dari setiap 10 orang, setidaknya satu pernah terpapar virus ini, meskipun mungkin tidak pernah terdiagnosis.

Lebih jauh lagi, pada populasi tikus sebagai reservoir utama, angka infeksi bahkan bisa mencapai 0%–34%. 

Ini menunjukkan, hantavirus beredar aktif di lingkungan, terutama di wilayah dengan kepadatan rodensia tinggi.

Dalam dokumen resmi Kementerian Kesehatan, hantavirus disebut sebagai zoonosis emerging, penyakit baru yang muncul dan berpotensi berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat. 

Masalahnya bukan sekadar ada atau tidaknya virus ini. Masalah utamanya adalah kita sering tidak menyadari keberadaannya.

Baca Juga: Wabah Hantavirus Kapal Pesiar, Kenali Gejala & Cara Penularan Penyakit Mematikan Ini

Mengapa hantavirus sering tidak terlihat?

Di Indonesia, penyakit dengan gejala demam lebih sering langsung diasosiasikan dengan dengue, tifoid, atau leptospirosis. 

Padahal, hantavirus memiliki gejala awal yang hampir identik: demam, nyeri otot, mual, dan kelelahan. Akibatnya, banyak kasus kemungkinan besar salah diagnosis atau tidak terdeteksi sama sekali.

Fenomena ini dikenal sebagai iceberg phenomenon, yang terlihat hanya sebagian kecil, sementara kasus sebenarnya jauh lebih besar di bawah permukaan.

Hantavirus tidak hanya satu jenis penyakit. Ia memiliki dua manifestasi utama yang sama-sama berbahaya. 

Pertama, Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Banyak terjadi di Asia dan Eropa, menyerang ginjal dan pembuluh darah  dengan gejala demam, perdarahan, gagal ginjal 

Kedua, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Lebih sering ditemukan di Amerika, menyerang paru-paru dengan gejala sesak napas akut dan gagal napas. 

Case fatality rate (CFR) hantavirus bisa sangat tinggi, bahkan mencapai hingga 50% pada beberapa tipe virus.

Di Indonesia, hantavirus yang paling sering ditemukan adalah Seoul virus (SEOV), yang menyebar melalui tikus rumah (Rattus rattus dan Rattus norvegicus), melansir situs Kementerian Kesehatan. 

Karena tikus jenis ini hidup sangat dekat dengan manusia, risiko penularan menjadi jauh lebih tinggi dibanding penyakit zoonotik lain yang terbatas pada hutan atau satwa liar.

Baca Juga: Darurat Virus Nipah di India, Waspadai Gejala & Bahaya Kematian yang Mengintai

Kota besar, risiko besar

Menurut website Kementerian Kesehatan, penelitian di Indonesia menunjukkan, hantavirus tidak hanya ditemukan di daerah terpencil, tetapi juga di kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Denpasar.  

Bahkan dalam satu studi, kasus ditemukan pada pasien yang dirawat di rumahsakit di beberapa kota besar.

Hal ini menunjukkan satu hal penting: urbanisasi dan kepadatan penduduk justru meningkatkan risiko hantavirus. 

Lingkungan perkotaan dengan sanitasi buruk, permukiman padat, dan pengelolaan sampah yang tidak optimal menjadi habitat ideal bagi tikus.

Mengapa kita harus khawatir?

Ada tiga alasan utama mengapa hantavirus perlu menjadi perhatian serius dalam kebijakan kesehatan nasional. 

Kesatu, underdiagnosed dan underrated. Banyak kasus tidak terdeteksi karena gejalanya mirip penyakit lain. 

Kedua, reservoir melimpah. Indonesia memiliki setidaknya 15 spesies tikus yang terkonfirmasi membawa virus. 

Ketiga, potensi fatal tinggi. CFR bisa mencapai puluhan persen pada kasus berat.

Dengan kombinasi ini, Kementerian Kesehatan menekankan, hantavirus bukan sekadar penyakit langka, melainkan ancaman laten yang sistematis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

Daftar Promo Burger King Terakhir Hari Ini 31 Agustus 2026, Semua Menu Ada Diskonnya

Jangan terlewat! Nikmati promo Burger King spesial Agustus 2026 yang berakhir hari ini, 31 Agustus. Dapatkan berbagai pilihan menu serba murah.

Hypermart Genap 22 Tahun, Ada Diskon hingga 50% dan Sejumlah Fitur Belanja Baru

​Tak hanya menawarkan diskon hingga 50%, Hypermart juga menghadirkan cashback untuk member, pengembangan HiCard App, hingga Self Check-Out.

Indosat Gandeng Adobe Express Cetak 15.000 Kreator Konten di Indonesia, Ini Caranya

Indosat terus memperluas ekosistem ekonomi kreatif di Indonesia, salah satunya dengan membidik lahirnya 15.000 kreator konten di berbagai daerah.

Investasi Pakai Auto-Debit? Jangan Lupa Cek 3 Hal Ini Secara Berkala

Investasi semakin praktis dengan fitur auto-debit, namun bukan berarti investasi bisa benar-benar ditinggalkan.​ Simak tiga tips berikut ini.

Triple Kamera 200MP HP Oppo Find X10 Pro Max Jaga Ketajaman Zoom

Penggunaan sensor berukuran 1/1,28 inci menjanjikan tangkapan cahaya tinggi. Pelajari dampak pemrosesan ProXDR pada efisiensi daya.  

Gempa Susulan NTT Menembus 10.000 Gempa, Ini Penjelasan BMKG

BMKG mencatat, hingga 31 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB, gempa susulan gempa Flores NTT Magnitudo 7,7 sudah menembus 10.000.

HP Samsung Chip Snapdragon 8 Elite Gen 5: Foto Makin Sadis, Dukung Warna Cine LUT

Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra mengusung kamera 200 MP & Cine LUT. Intip perbedaan fitur vitalnya dibanding varian reguler di sini.

Ramalan Shio Hari Ini Senin 31 Agustus 2026, Segera Memulai Proyek Baru

Simak ramalan shio hari ini Senin 31 Agustus 2026, cek peruntungan 12 shio lengkap soal karier, keuangan, cinta dan kesehatan.

Ramalan Zodiak Hari Ini Senin 31 Agustus 2026, Perlu Perhitungan dan Kesabaran

Cek ramalan zodiak hari ini Senin 31 Agustus 2026, lengkap soal karier, keuangan, asmara, kesehatan, serta peluang 12 zodiak hari ini.

Jadwal KRL Jogja-Solo Hari Ini 31 Agustus-4 September 2026, Segera Amankan Tiket

Berikut jadwal KRL Jogja-Solo dari Yogyakarta ke Palur untuk hari ini 31 Agustus-4 September 2026. Langsung amankan biar gak kehabisan tiket.