MOMSMONEY.ID - Bagi orang yang hidup dengan skizofrenia, menjaga kondisi kesehatan bukan hanya soal memastikan gejala kejiwaan tetap terkendali. Ada persoalan lain yang tak kalah penting untuk diperhatikan, mulai dari kenaikan berat badan hingga meningkatnya kadar gula darah.
Kondisi tersebut dapat menjadi tantangan tersendiri dalam perjalanan pengobatan. Sebagian pasien yang menjalani terapi antipsikotik dapat mengalami perubahan berat badan dan memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan metabolik, terutama jika disertai pola hidup tertentu. Jika tidak ditangani, masalah tersebut dapat berkembang menjadi kondisi kesehatan yang lebih serius, seperti diabetes dan penyakit jantung.
Karena itu, perawatan pasien skizofrenia idealnya tidak berhenti pada kesehatan mental. Kondisi fisik juga perlu dipantau secara berkala, termasuk berat badan, kadar gula darah, serta berbagai faktor risiko penyakit metabolik lainnya.
Baca Juga: Ramalan 12 Zodiak Senin 24 Agustus 2026, Cek Karier dan Cinta Hari Ini yuk
Pendekatan tersebut menjadi perhatian dalam sebuah uji klinis yang dipublikasikan di JAMA Psychiatry. Penelitian yang dikenal sebagai HISTORI ini melibatkan lebih dari 150 pasien dewasa dengan skizofrenia. Para peserta merupakan pasien yang sedang menjalani terapi antipsikotik dan memiliki kondisi berat badan berlebih atau obesitas yang disertai prediabetes.
Dalam penelitian tersebut, peserta mendapatkan terapi berbasis GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA) dari Novo Nordisk atau plasebo sebagai pembanding. Terapi antipsikotik yang sebelumnya mereka jalani tetap dilanjutkan selama penelitian. Dalam laporan Novo Nordisk yang dirilis belum lama ini kelompok yang menerima terapi GLP-1 RA menunjukkan penurunan berat badan yang lebih besar dibandingkan kelompok pembanding.
Perubahan positif juga terlihat pada pengendalian gula darah jangka panjang. Sebagian besar peserta dalam kelompok terapi bahkan mencapai kadar gula darah yang kembali berada dalam rentang normal.
Temuan ini memperlihatkan bahwa pengelolaan kondisi metabolik dapat menjadi bagian penting dalam perawatan pasien dengan skizofrenia, terutama mereka yang menghadapi persoalan berat badan dan prediabetes.
Manfaat yang diamati dalam penelitian tidak hanya berkaitan dengan angka berat badan atau kadar gula darah. Peneliti juga mencatat adanya perbaikan pada kualitas hidup fisik peserta. Salah satunya berkaitan dengan kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari.
Di sisi lain, aspek kesehatan mental tetap menjadi perhatian utama. Selama penelitian berlangsung, tidak ditemukan perburukan bermakna pada gejala skizofrenia pada peserta yang menerima terapi GLP-1 RA. Kualitas hidup yang berkaitan dengan kesehatan mental juga dilaporkan tetap stabil. Namun, hasil tersebut perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat.
Terapi GLP-1 RA dalam penelitian ini bukan merupakan pengobatan untuk skizofrenia. Penelitian secara khusus menilai pengelolaan kondisi metabolik pada kelompok pasien dengan karakteristik tertentu, yakni pasien skizofrenia yang menggunakan antipsikotik, mengalami prediabetes, serta memiliki berat badan berlebih atau obesitas. Dengan kata lain, hasil penelitian belum dapat serta-merta diterapkan kepada seluruh orang yang hidup dengan skizofrenia.
Baca Juga: Siap-Siap Promo J.CO Anniversary ke-21, Borong 2 Lusin Donat Murah Hanya Rp 118 Ribu
Dari sisi keamanan, keluhan yang paling sering dilaporkan selama penelitian berkaitan dengan sistem pencernaan. Profil keamanan yang diamati secara umum konsisten dengan temuan dari penelitian terapi sejenis sebelumnya. Sebagian besar peserta juga mampu menyelesaikan penelitian hingga akhir.
Meski memberikan hasil yang menjanjikan, penelitian HISTORI tetap memiliki keterbatasan. Masa pengamatan relatif singkat dan peserta yang dilibatkan merupakan kelompok dengan kondisi yang spesifik.
Karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana hasil tersebut berlaku dalam jangka panjang dan pada kelompok pasien yang lebih luas.
Temuan tersebut kembali mengingatkan bahwa kesehatan mental dan kesehatan fisik tidak seharusnya dipandang sebagai dua hal yang terpisah.
Dalam praktiknya, pasien skizofrenia dapat membutuhkan dukungan dari berbagai tenaga kesehatan. Psikiater, dokter penyakit dalam atau endokrinolog, ahli gizi, serta tenaga kesehatan lainnya dapat bekerja sama sesuai kebutuhan untuk membantu menjaga kestabilan kondisi kejiwaan sekaligus mengelola risiko kesehatan fisik.
Bagi pasien dan keluarga, perubahan berat badan maupun kadar gula darah selama menjalani pengobatan antipsikotik juga penting untuk dibicarakan dengan dokter. Yang tak kalah penting, pasien tidak dianjurkan menghentikan atau mengubah dosis obat antipsikotik secara mandiri. Perubahan pengobatan tanpa pengawasan medis dapat memengaruhi kestabilan kondisi kejiwaan.
Begitu pula dengan terapi resep untuk mengelola berat badan atau gula darah. Penggunaannya perlu mempertimbangkan kondisi masing-masing pasien dan dilakukan berdasarkan penilaian serta pengawasan tenaga kesehatan.
Baca Juga: Ingin Wajah Tetap Tampak Muda? Ini Tren Perawatan Regeneratif Kulit
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News