MOMSMONEY.ID - Penguatan cadangan devisa dinilai salah satu syarat agar rupiah bisa pulih, setidaknya kembali ke dekat Rp 16.500 per dollar AS.
Pada Senin (11/5), rupiah di pasar spot di level Rp 17.414 per dollar AS. Meski sedikit membaik dibandingkan rekor terlemah sepanjang masa Rp 17.425 per dollar, tahun ini berjalan rupiah telah terdepresiasi 4,4%.
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman, mengatakan, pelemahan rupiah yang terjadi saat ini bukan semata-mata dipicu penguatan dollar AS di pasar global, melainkan cerminan dari tekanan domestik yang belum tertangani.
Ia mencatat, meski indeks dollar (DXY) saat ini melandai ke kisaran 98, dari posisi akhir tahun lalu di 100,51, tapi, kurs rupiah justru terus tertekan. Ini karena pasar memberi premi risiko tambahan terhadap Indonesia.
Salah satu akar masalahnya, menurut Rizal, adalah ketidakmampuan menyeimbangkan kebutuhan dollar AS yang bersifat struktural.
Asal tahu saja, terjadi arus keluar dana yang masif dari pasar saham pada tahun ini. Memang, ada inflow asing di pasar obligasi pada April lalu. Tapi, belum mampu menopang rupiah. "Karena sebagian inflow bersifat jangka pendek, sementara kebutuhan valas untuk impor energi, pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen, serta hedging korporasi tetap besar," paparnya, Selasa (5/5).
Baca Juga: Level Rp 17.000 Mengintai Rupiah, Indef Ingatkan Risiko Fiskal Awal 2026
Kondisi itu membuat posisi cadangan devisa menjadi sangat krusial. Padahal, Rizal menegaskan, syarat pemulihan rupiah, harus ada perbaikan nyata pada sisi fundamental. Salah satunya, cadangan devisa menguat. Selain juga perlu defisit fiskal lebih terkendali, harga minyak mulai turun, arus modal asing kembali masuk secara konsisten, serta pemerintah memberi sinyal disiplin fiskal yang kredibel.
Ia memperingatkan bahwa tanpa penguatan cadangan devisa dan perbaikan fundamental lainnya, penguatan rupiah hanya akan bersifat teknikal dan sementara.
Dalam skenario dasar, rupiah diperkirakan masih akan bergerak di kisaran Rp 17.000-Rp 17.500 per dollar AS hingga akhir tahun.
Rizal juga mengingatkan bahwa dalam skenario terburuk, jika harga minyak tetap tinggi, defisit APBN melebar, dan investor asing keluar dari saham maupun Surat Berharga Negara (SBN) secara bersamaan, rupiah bisa mendekati Rp 18.000 per dollar AS.
Ia menegaskan intervensi Bank Indonesia saja tidak cukup, tanpa disertai disiplin fiskal yang kredibel dari pemerintah. Sebab, pasar saat ini sedang menguji keseriusan bauran kebijakan fiskal-moneter Indonesia secara keseluruhan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News