MOMSMONEY.ID - Sofa lama masih layak dipakai? Simak perbandingan biaya perbaikan dan beli baru agar lebih hemat dan tahan lama.
Memperbaiki sofa lama atau membeli furnitur baru kini jadi pertimbangan banyak keluarga di Indonesia, terutama saat harga kebutuhan rumah tangga terus naik.
Tidak sedikit orang mulai sadar bahwa keputusan membeli furnitur bukan hanya soal tampilan, tetapi juga soal kualitas dan ketahanan jangka panjang.
Di sisi lain, tren rumah estetik dan nyaman membuat banyak orang ingin memperbarui interior tanpa harus menguras tabungan.
Melansir dari Better Homes & Gardens, biaya memperbaiki furnitur ternyata tidak selalu lebih murah dibanding membeli yang baru, tergantung kondisi dan kualitas barang tersebut.
Karena itu, sebelum buru buru mengganti sofa lama, ada beberapa hal penting yang sebaiknya dipahami agar tidak salah mengeluarkan uang.
“Furnitur berkualitas yang diperbaiki dengan tepat bisa bertahan jauh lebih lama dan tetap nyaman digunakan,” ujar Amy Pennington dari Bridge Upholstery & Drapery.
Baca Juga: 5 Inspirasi Mural Wallpaper Modern yang Bikin Rumah Langsung Naik Kelas
Membeli furnitur baru memang terlihat lebih hemat
Bagi banyak orang, membeli sofa baru terasa lebih praktis dan cepat. Saat ini, pilihan sofa modern dengan desain minimalis sudah banyak dijual mulai kisaran Rp 8 jutaan hingga Rp 10 jutaan.
Harga tersebut sering dianggap lebih murah dibanding biaya memperbaiki sofa lama. Sebab, jasa penggantian pelapis profesional bisa menghabiskan biaya lebih dari Rp 20 juta, terutama jika rangka sofa juga perlu diperbaiki.
Biaya itu biasanya belum termasuk kain premium, penggantian busa, hingga detail jahitan khusus. Inilah alasan mengapa banyak orang akhirnya memilih membeli furnitur baru dibanding memperbaiki yang lama.
Apalagi sekarang marketplace dan toko furnitur online menawarkan banyak pilihan model kekinian dengan proses pembelian yang lebih mudah.
Sofa lama justru lebih awet untuk jangka panjang
Meski terlihat mahal di awal, memperbaiki sofa lama sebenarnya bisa menjadi keputusan yang lebih menguntungkan dalam jangka panjang. Terutama jika furnitur tersebut memiliki rangka kayu solid dan kualitas material yang masih bagus.
Banyak furnitur lawas dibuat menggunakan bahan yang lebih kuat dibanding produk modern produksi massal saat ini. Karena itu, tidak sedikit desainer interior yang menyarankan mempertahankan sofa lama daripada membeli baru dengan kualitas standar.
Amy Pennington menjelaskan bahwa furnitur lama umumnya sudah terbukti daya tahannya selama bertahun tahun. Selain itu, proses perbaikannya juga lebih mudah dibanding sebagian furnitur modern yang menggunakan material tipis.
Pendapat serupa juga disampaikan Robert dan Sharon Reed dari Walnut & Ash Interiors. Mereka pernah menangani proyek sofa kulit lama milik klien yang tampilannya mulai usang, tetapi rangkanya masih sangat kokoh.
Daripada membeli sofa baru dengan harga jauh lebih mahal, mereka hanya memperbarui bantalan dan mengganti kain pelapis menggunakan material yang lebih modern. Hasilnya, sofa terlihat seperti baru dengan biaya yang lebih efisien.
Nilai kenangan sering membuat furnitur lama sulit diganti
Banyak orang mempertahankan furnitur lama bukan semata karena ingin berhemat. Ada juga alasan emosional yang membuat barang tersebut terasa berharga.
Sofa warisan keluarga, kursi peninggalan orang tua, atau furnitur lama yang sudah menemani bertahun tahun biasanya memiliki cerita tersendiri. Karena itu, memperbaiki furnitur dianggap menjadi cara menjaga kenangan tetap hidup di dalam rumah.
Fenomena ini juga cukup banyak ditemui di Indonesia, terutama pada keluarga yang masih menyimpan furnitur kayu lama berkualitas tinggi.
Baca Juga: Tren Terapis Rumah Kekinian yang Disebut Bisa Membantu Kesehatan Mental
Tampilan bisa dibuat lebih modern dan unik
Salah satu keuntungan memperbaiki sofa lama adalah kebebasan memilih desain sesuai selera. Pemilik rumah bisa mengganti warna kain, memilih tekstur baru, hingga menyesuaikan model agar lebih cocok dengan tren interior masa kini.
Desainer interior Pattie Wilbourne mengatakan bahwa proses pelapisan ulang membuat furnitur terasa lebih personal dan unik. Karena desainnya disesuaikan sendiri, hasil akhirnya sering terlihat lebih eksklusif dibanding produk pasaran.
Tidak heran jika tren memperbarui furnitur lama kini mulai diminati generasi muda yang ingin rumah tampil estetik tetapi tetap hemat biaya.
Lebih ramah lingkungan dan mengurangi limbah rumah tangga
Kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan juga ikut memengaruhi tren memperbaiki furnitur lama. Banyak orang mulai memahami bahwa membuang sofa atau kursi dalam kondisi masih layak pakai bisa menambah limbah rumah tangga.
Dengan memperbaiki furnitur, usia pakai barang menjadi lebih panjang sehingga tidak cepat berakhir di tempat pembuangan sampah.
Konsep ini sejalan dengan gaya hidup berkelanjutan yang kini semakin populer di Indonesia, terutama di kalangan masyarakat urban dan generasi muda.
Jadi, mana yang lebih baik?
Jawabannya tergantung kebutuhan dan kondisi furnitur yang dimiliki. Jika ingin solusi cepat dengan biaya awal lebih ringan, membeli sofa baru memang bisa menjadi pilihan.
Namun, bila memiliki furnitur berkualitas tinggi dengan rangka yang masih kuat, memperbaiki sofa lama justru lebih menguntungkan dalam jangka panjang.
Selain lebih awet, furnitur lama yang diperbarui juga bisa tampil lebih unik, nyaman, dan memiliki nilai emosional yang tidak bisa digantikan oleh produk baru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News