MOMSMONEY.ID - Phishing berkedok Dukcapil dan aparat negara makin canggih, yuk kenali ciri-cirinya dan cara aman melindungi data serta rekening.
Penipuan digital saat ini semakin berkembang dengan metode yang kian rapi dan sulit dikenali. Salah satu modus yang sedang marak adalah phishing melalui aplikasi palsu yang mengatasnamakan instansi negara.
Pelaku tidak lagi asal menebar pesan, tetapi memanfaatkan data pribadi korban agar terlihat meyakinkan. Melansir dari OCBC, situasi ini membuat banyak orang lengah karena merasa sedang menjalankan urusan resmi.
“Pelaku memanfaatkan rasa takut dan urgensi administratif untuk mendorong korban mengambil keputusan cepat tanpa verifikasi,” mengutip dari laman OCBC.
Baca Juga: Gaji Anda Habis? Waspada Risiko Finansial Boncos Tanpa Passive Income, Simak Yuk
Modus phishing digital yang menyamar sebagai instansi resmi
Modus phishing saat ini tampil dengan kemasan yang semakin profesional. Pelaku bisa menghubungi korban melalui WhatsApp, telepon, atau email sambil mengaku sebagai petugas pajak, Dukcapil, atau aparat penegak hukum.
Agar terlihat sah, mereka biasanya sudah mengantongi sebagian data korban seperti identitas usaha, alamat, atau status administrasi.
Korban lalu diarahkan seolah sedang menjalani proses wajib yang tidak boleh ditunda. Di titik inilah banyak orang merasa tertekan dan akhirnya mengikuti instruksi tanpa berpikir panjang.
Alasan staf keuangan sering menjadi sasaran
Target utama dari modus ini umumnya adalah karyawan yang memiliki akses ke sistem keuangan perusahaan. Staf keuangan, akuntansi, dan administrasi dianggap memiliki jalur tercepat menuju rekening perusahaan.
Begitu korban mengikuti arahan dan mengunduh aplikasi di luar toko resmi, pelaku berpotensi mengambil alih perangkat.
Dalam kondisi tersebut, akses perbankan bisa terbuka tanpa disadari dan dana perusahaan berisiko terkuras dalam waktu singkat.
Pola umum serangan phishing berbasis aplikasi palsu
Serangan phishing biasanya dimulai dengan pesan yang terdengar formal dan mendesak. Setelah itu korban diarahkan ke situs yang tampilannya mirip dengan platform unduhan aplikasi resmi.
Korban diminta menginstal aplikasi tertentu, memberikan izin akses penting, hingga melakukan verifikasi data. Sebagai pemicu terakhir, korban sering diminta mentransfer nominal kecil seperti Rp10.000 dengan alasan biaya administrasi, padahal langkah ini membuka jalan bagi pelaku untuk menguasai sistem keuangan.
Baca Juga: NPWP Anda Tidak Aktif? Ayo Hindari Kendala Pajak Tahunan, Segera Cek NIK Anda
Ciri phishing yang sering tidak disadari
Banyak korban tidak menyadari tanda awal penipuan karena tampilannya terlihat profesional. Permintaan mengunduh aplikasi dari tautan luar adalah sinyal bahaya yang paling sering muncul. Selain itu, permintaan berbagi layar saat membuka aplikasi keuangan juga patut dicurigai.
Instansi resmi tidak pernah meminta data sensitif, kode verifikasi, atau transfer dana ke rekening yang tidak dikenal. Jika disertai tekanan waktu atau ancaman hukum, besar kemungkinan itu adalah upaya manipulasi psikologis.
Langkah aman untuk melindungi data dan rekening
Perlindungan terbaik dimulai dari kebiasaan digital yang disiplin. Hindari mengunduh aplikasi dari sumber yang tidak terverifikasi meskipun mengatasnamakan lembaga negara. Jangan pernah membagikan informasi perbankan, kode keamanan, atau akses layar kepada siapa pun.
Bagi perusahaan, edukasi keamanan digital untuk karyawan menjadi hal krusial. Sistem persetujuan berlapis dan budaya verifikasi dapat mencegah kerugian besar akibat satu kesalahan kecil.
Pentingnya kewaspadaan digital di era sekarang
Di era serba online, ancaman tidak selalu datang dalam bentuk pesan mencurigakan. Justru penipuan yang terlihat rapi dan resmi sering kali paling berbahaya. Satu aplikasi asing di perangkat kerja bisa menjadi pintu masuk kejahatan finansial.
Dengan memahami pola phishing dan meningkatkan literasi digital, masyarakat dapat mengambil keputusan lebih tenang dan tidak mudah terjebak tekanan palsu.
Baca Juga: Cek Dampak Hapus Cicilan Kendaraan pada Kesehatan Finansial Jangka Panjang
Phishing bukan lagi sekadar kejahatan siber, tetapi ancaman nyata bagi keamanan finansial sehari-hari. Mengenali ciri-cirinya, berani menolak permintaan mencurigakan, dan selalu melakukan verifikasi adalah kunci utama perlindungan.
Di tengah arus digital yang semakin cepat, kewaspadaan adalah aset paling berharga untuk menjaga data dan rekening tetap aman.
Selanjutnya: Menurut Desainer, 8 Warna Cat Pintu Depan Ini yang Bisa Menurunkan Daya Tarik Rumah
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News