MOMSMONEY.ID - Simak cara membangun passive income agar tabungan terus bertambah dan kondisi keuangan lebih stabil di situasi biaya hidup yang meningkat.
Menabung sering terdengar sederhana, tetapi praktiknya tidak selalu mudah. Banyak orang sudah berusaha menyisihkan uang setiap bulan, namun hasilnya terasa lambat atau bahkan tidak berkembang.
Kebutuhan hidup yang terus naik membuat tabungan kerap terpakai sebelum mencapai target. Kondisi inilah yang mendorong masyarakat mulai mencari sumber penghasilan tambahan yang tidak menguras waktu dan tenaga.
Salah satu solusi yang kini banyak dibicarakan adalah passive income sebagai penopang finansial jangka panjang. Melansir dari DBS Digibank, strategi ini dinilai efektif membantu pengelolaan keuangan yang lebih terarah.
“Pendapatan pasif memberi ruang bagi masyarakat untuk membangun kestabilan finansial tanpa hanya bergantung pada satu sumber penghasilan,” mengutip dari laman DBS Digibank.
Baca Juga: Tabungan Ideal untuk Usia 30 Tahun? Cek Panduan Realistis Amankan Finansial
Apa itu passive income?
Passive income adalah penghasilan yang tetap bisa diterima meskipun seseorang tidak bekerja secara aktif setiap hari. Artinya, uang tetap masuk tanpa harus terus menukar waktu dengan tenaga.
Biasanya, pendapatan pasif berasal dari aset, sistem, atau karya yang sudah dibangun sebelumnya. Meski begitu, perlu dipahami bahwa passive income bukan berarti tanpa usaha sama sekali karena tahap awal tetap membutuhkan perencanaan dan konsistensi.
Kenapa passive income penting saat ini?
Perubahan ekonomi yang cepat membuat mengandalkan satu sumber pendapatan terasa semakin berisiko. Passive income hadir sebagai penyeimbang yang membantu menjaga arus kas tetap aman.
Dengan adanya penghasilan tambahan, tujuan finansial seperti dana darurat, tabungan jangka menengah, hingga persiapan masa depan bisa lebih mudah dicapai.
Dari sudut pandang perencana keuangan, memiliki lebih dari satu sumber penghasilan juga meningkatkan ketahanan finansial seseorang.
Pengaruh passive income terhadap kualitas hidup
Saat passive income mulai berjalan stabil, fleksibilitas hidup pun meningkat. Seseorang tidak lagi sepenuhnya terikat oleh jam kerja atau lokasi tertentu.
Kondisi ini memberi kesempatan untuk menata ulang prioritas hidup, mulai dari waktu bersama keluarga hingga fokus pada kesehatan mental. Bagi sebagian orang, passive income bahkan menjadi fondasi awal menuju kemandirian finansial.
Contoh passive income yang relevan di era digital
Di era digital, peluang passive income semakin beragam. Konten digital seperti tulisan, video, atau karya visual bisa terus menghasilkan selama masih dicari audiens.
Blog berbasis informasi juga menjadi contoh nyata bagaimana keahlian dapat diubah menjadi sumber pendapatan jangka panjang.
Selain itu, beberapa instrumen investasi mampu memberikan imbal hasil berkala, meskipun nilainya bisa berfluktuasi mengikuti kondisi pasar.
Baca Juga: 10 Kebiasaan Finansial yang Tanpa Disadari Menghambat Kemapanan Hidup
Cara memulai passive income dari potensi diri
Langkah paling realistis untuk memulai passive income adalah mengenali kemampuan dan minat pribadi. Hobi menulis, desain, atau fotografi bisa dikembangkan menjadi aset digital bernilai ekonomi.
Kunci utamanya ada pada konsistensi dan kualitas agar karya tetap relevan dalam jangka panjang. Dari sisi pengalaman praktisi keuangan, memulai dari apa yang dikuasai akan memperbesar peluang keberhasilan.
Strategi mengelola passive income agar tabungan tumbuh
Passive income akan lebih terasa manfaatnya jika dikelola secara disiplin. Salah satu strategi yang sering disarankan adalah memisahkan pendapatan pasif dari penghasilan utama.
Dana ini sebaiknya langsung dialokasikan untuk tabungan atau tujuan keuangan tertentu agar tidak habis untuk konsumsi.
Pendekatan ini membantu menjaga fokus pada tujuan finansial jangka panjang dan membuat kebiasaan menabung lebih konsisten.
Selanjutnya: Tren Desain Interior 2026: Rumah Hangat yang Fokus Pada Kenyamanan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News