MOMSMONEY.ID - Wabah penyakit Ebola virus Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo terus merenggut korban jiwa. Lebih dari 1.800 meninggal hanya dalam tiga bulan sejak wabah ini merebak awal Mei 2026 lalu.
Tidak seperti penyakit virus Ebola, tidak ada vaksin berlisensi atau pengobatan spesifik terhadap virus Bundibugyo, meskipun perawatan suportif dini bisa menyelamatkan nyawa.
Africa Centres for Disease Control and Prevention (CDC) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun menyerukan peningkatan segera respons atas Ebola Bundibugyo yang dipimpin oleh masyarakat di Republik Demokratik Kongo.
Caranya, melalui deteksi dini yang lebih kuat, pemantauan kontak, akses terhadap layanan kesehatan, dukungan bagi tenaga kesehatan garda terdepan, serta penyaluran sumber daya yang lebih cepat ke masyarakat terdampak.
Per 4 Agustus 2026, Republik Demokratik Kongo melaporkan 3.973 kasus terkonfirmasi, 1.801 kematian, dan 776 kesembuhan yang tersebar di 51 zona kesehatan di lima provinsi.
Tapi, dalam periode pelaporan 24 jam terakhir, Republik Demokratik Kongo mencatat 99 kasus terkonfirmasi baru Ebola Bundibugyo dan 52 kematian.
Baca Juga: WHO Tetapkan Wabah Ebola Sebagai Keadaan Darurat, Tingkat Kematian 50%
Menurut WHO, tingkat pemantauan kontak Ebola Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo berada di angka 75%.
Angka ini di bawah target operasional minimal 95% yang diperlukan untuk mengidentifikasi rantai penularan secara cepat dan memastikan kasus baru terdeteksi di antara kontak yang telah diketahui.
Sebanyak 674 orang sedang dalam perawatan. Tingkat keterisian pusat perawatan di Kivu Utara telah mencapai 139%, sehingga memberikan tekanan berat terhadap ketersediaan tempat tidur, tenaga kesehatan, dan operasi penanganan.
“Di beberapa wilayah di bagian timur Republik Demokratik Kongo (DRC), laju wabah Ebola melampaui kecepatan respons kami, sehingga kami harus segera meningkatkan segala aspek upaya penanggulangannya,” ujar Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam keteranga tertulis, Kamis (6/8).
Dr. Jean Kaseya, Direktur Jenderal Africa CDC, menegaskan, keberhasilan dalam mengendalikan Ebola Bundibugyo dan pada akhirnya menghentikan wabah ini bergantung pada masyarakat.
“Ketika masyarakat memiliki informasi yang mereka percayai, mampu melaporkan gejala sejak dini, dan mencari layanan kesehatan tanpa rasa takut, kita dapat memutus setiap rantai penularan," katanya.
Baca Juga: Wabah Ebola di Afrika Menyebar dengan Cepat, WHO Mengerek Risiko Jadi Sangat Tinggi
Africa CDC dan WHO menyerukan tindakan segera untuk:
- Mengidentifikasi kasus lebih dini dan meningkatkan pemantauan kontak harian hingga setidaknya 95%
- Mendekatkan layanan pengujian, rujukan, isolasi, dan pengobatan kepada masyarakat yang terdampak
- Segera memperluas kapasitas pengobatan, laboratorium, ambulans, serta layanan pemakaman yang aman dan bermartabat
- Melindungi, melengkapi, mendukung, dan memberikan pembayaran tepat waktu kepada tenaga kesehatan garda terdepan
- Memperkuat pencegahan dan pengendalian infeksi di fasilitas kesehatan
- Mempertahankan layanan kesehatan esensial bagi masyarakat yang terdampak
- Meningkatkan akses yang aman ke wilayah-wilayah yang terdampak oleh masalah keamanan dan infrastruktur yang buruk
- Melibatkan tokoh masyarakat tepercaya dalam setiap tahapan penanganan
- Mempertahankan surveilans lintas batas dan kesiapsiagaan regional
- Memastikan dana yang telah dialokasikan sampai ke operasi garda terdepan tanpa penundaan
Pada 15 Mei 2026, Kementerian Kesehatan Masyarakat, Kebersihan dan Kesejahteraan Sosial Republik Demokratik Kongo secara resmi menyatakan wabah Ebola ke-17.
Lalu, pada 16 Mei 2026, WHO menetapkan penyakit Ebola akibat virus Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional (PHEIC).
Tapi, tidak memenuhi kriteria keadaan darurat pandemi, sebagaimana didefinisikan dalam Peraturan Kesehatan Internasional (IHR).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News