MOMSMONEY.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih konsolidasi dengan tekanan jual yang dominan pada pekan 21-25 September 2026. Indo Premier Sekuritas (IPOT) melihat level 6.370 menjadi area penting yang perlu dicermati investor.
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, Brigita Kinari, mengatakan, selama IHSG mampu bertahan di atas 6.370, indeks berpeluang melakukan technical rebound menuju area 6.541-6.581.
"Sebaliknya, jika 6.370 ditembus ke bawah, IHSG berpotensi menguji area level 6.200-6.279 (dekat MA60 sebagai dynamic support)," jelas Brigita melalui siaran pers, hari ini.
Pada perdagangan Senin (21/9), IHSG ditutup turun 0,88% ke level 6.384. Investor asing juga masih mencatatkan net sell sebesar Rp 510 miliar.
Menurut Brigita, level support IHSG pekan ini berada di 6.200-6.279, sedangkan resistance berada di 6.585-6.633.
Tekanan global dan domestik
Adapun, pekan lalu, Brigita menyebut pergerakan pasar global diwarnai pengetatan moneter serentak dan meningkatnya risiko carry trade unwind. The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00%, kenaikan pertama sejak 2023, dan masih memproyeksikan satu kali kenaikan lagi hingga akhir tahun ke kisaran 4,00%-4,25%.
Bank of Japan (BoJ) turut menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 1,25%, level tertinggi dalam sekitar tiga dekade. Sementara itu, yield US Treasury 10 tahun sempat menyentuh 5,04%.
Baca Juga: Tekanan Global Masih Bayangi Pasar, Investor Disarankan Tetap Selektif
"Menyempitnya spread suku bunga AS-Jepang mengurangi daya tarik Yen sebagai funding currency, sehingga risiko carry trade unwind dan selective outflow dari emerging markets meningkat," jelas Brigita.
Di sisi komoditas, harga minyak mulai melandai. WTI bergerak di kisaran US$ 100 per barel dan Brent di kisaran US$ 103-US$ 104 per barel, dengan koreksi harian sekitar 1%-1,5%. Penurunan tersebut didukung pulihnya sekitar 50% kapasitas East West Pipeline Arab Saudi, yang sedikit meredakan kekhawatiran pasokan minyak global.
Sebaliknya, harga emas menguat sekitar 1% dan bertahan di atas US$ 4.300 per ons, mencerminkan meningkatnya permintaan aset lindung nilai di tengah ketidakpastian pengetatan moneter.
Dari dalam negeri, sentimen pasar tertekan oleh kombinasi faktor kebijakan dan teknikal. Suahasil Nazara resmi menjabat Menteri Keuangan menggantikan Purbaya dengan fokus menjaga defisit fiskal di bawah 3%, meski muncul dorongan dari DPR untuk membahas ulang batas defisit tersebut.
S&P Global memperingatkan risiko kredit dan tekanan laba bank BUMN, sementara pemerintah mempertahankan mandatori B50 tanpa kenaikan menjadi B60 pada 2027.
Tekanan tambahan datang dari eksekusi rebalancing FTSE Russell GEIS. Perubahan indeks berbasis harga penutupan 18 September berlaku efektif pada pembukaan perdagangan 21 September, dengan 29 saham Indonesia dicoret dari indeks dan 10 saham diturunkan ke Micro Cap. Normalisasi penuh masih ditunda hingga review Desember 2026.
"Dengan net sell asing yang masih besar, arah arus dana asing dan stabilitas rupiah tetap menjadi faktor utama yang perlu dicermati," kata Brigita.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Melorot Lagi, Inflasi AS Masih jadi Sorotan
Dengan potensi kenaikan Fed rate lanjutan, Bank Indonesia juga berpeluang menaikkan BI Rate hingga kisaran 6% pada akhir tahun, bergantung pada stabilitas rupiah ke depan.
Rekomendasi saham pekan ini
Merespons dinamika pasar tersebut, IPOT merekomendasikan tiga saham untuk trading pekan 21-25 September 2026 sebagai berikut:
1. Buy ANTM
Secara teknikal, pergerakan saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menunjukkan potensi penguatan lanjutan setelah berhasil bergerak di atas support MA5, diikuti volume di atas rata-rata 20 hari.
Tren jangka pendek hingga panjang masih terjaga diperkuat dengan indikator MACD yang mengonfirmasi momentum positif lanjutan.
Buy ANTM dengan area entry Rp 3.290-Rp 3.320. Target harga (TP) berada di Rp 3.710, sedangkan stop loss (SL) di Rp 3.110 per saham.
2. Buy MTEL
Secara teknikal, pergerakan saham PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) menunjukkan struktur yang solid setelah membentuk pola candlestick Bullish Engulfing dan berhasil rebound dari support historisnya.
Konfirmasi ini diperkuat oleh AI Trade yang mengindikasikan adanya akumulasi senyap dari smart money, sehingga saham ini berpotensi melanjutkan kenaikannya.
Buy MTEL dengan entry Rp 500, target harga Rp 535, dan stop loss Rp 484 per saham.
3. Buy IMPC
Secara teknikal, pergerakan saham PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) menunjukkan struktur yang solid setelah untuk jangka pendek kembali bergerak di atas MA5. Konfirmasi ini diperkuat oleh ADX score 27.3 yang menunjukkan tren bullish kuat, sehingga saham ini berpotensi melanjutkan kenaikannya.
IPOT merekomendasikan buy IMPC dengan entry Rp 1.695, target harga Rp 1.825, dan stop loss Rp 1.630 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News