MOMSMONEY.ID - Berjualan secara online kini bukan lagi sekadar pilihan bagi banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kehadiran media sosial dan marketplace membuka kesempatan bagi usaha kecil untuk menjangkau konsumen yang lebih luas tanpa harus mengandalkan toko fisik.
Namun, ketika toko online sudah berjalan, tantangan berikutnya justru muncul. Yakni, bagaimana menjaga agar bisnis tetap menghasilkan keuntungan?
Per Maret 2026, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat, terdapat lebih dari 64 juta UMKM di Indonesia. Sektor ini berkontribusi lebih dari 60% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dan menyerap hampir 97% tenaga kerja nasional.
Di sisi digital, sekitar 27 juta UMKM telah masuk ke ekosistem digital melalui media sosial dan marketplace, berdasarkan data yang disampaikan Kementerian UMKM pada Januari 2026.
Angka tersebut menunjukkan, semakin banyak pelaku usaha yang memanfaatkan kanal digital untuk mengembangkan bisnis. Meski begitu, masuk ke marketplace bukan berarti persoalan penjualan otomatis selesai.
Bagi pelaku UMKM, setiap transaksi memiliki perhitungan biaya yang perlu diperhatikan. Mulai dari harga bahan baku, kemasan, logistik, hingga biaya yang muncul dari kanal penjualan.
Kementerian UMKM pada 2026 menyebutkan, biaya layanan yang dikenakan marketplace kepada penjual berada di kisaran 10% hingga 18% dari setiap transaksi, di luar biaya promosi atau iklan.
Baca Juga: Bukan Cuma soal Produk, Simak 3 Hal Penting Ini biar UMKM Bisa Memperluas Pasar
Bagi usaha dengan margin yang terbatas, selisih beberapa persen saja bisa cukup berarti. Apalagi ketika pelaku usaha juga harus memberikan potongan harga atau mengikuti program promosi untuk menarik pembeli.
Situasi tersebut membuat kemampuan mengelola margin menjadi semakin penting. Pelaku UMKM tidak hanya perlu memikirkan bagaimana produknya laku, tetapi juga memastikan setiap transaksi tetap memberikan ruang bagi bisnis untuk berjalan dan berkembang.
Perubahan biaya administrasi dan komisi di sejumlah platform sepanjang 2026 turut membuat persoalan tersebut semakin relevan. Struktur biaya yang berubah membuat pelaku usaha perlu lebih cermat memilih kanal penjualan dan menghitung kembali biaya operasionalnya.
Dengan kondisi pasar digital yang semakin ramai, efisiensi pun menjadi salah satu pertimbangan penting bagi UMKM.
Di tengah tantangan tersebut, akses terhadap kanal penjualan dengan biaya yang lebih efisien dapat menjadi salah satu pilihan bagi pelaku UMKM. Hal ini dijawab melalui program NEO rheumacyl Peduli UMKM 2026.
Program yang memasuki tahun ketujuh ini tidak hanya menawarkan dukungan pengembangan usaha, tetapi juga memperluas akses UMKM ke ekosistem digital.
Melalui kerjasama dengan Tempomart.com, UMKM terpilih mendapatkan kesempatan berjualan tanpa komisi penjualan selama enam bulan. Selain itu, terdapat dukungan berupa voucher diskon dan gratis ongkos kirim untuk membantu meningkatkan visibilitas produk di kanal digital.
Baca Juga: Tiga Kunci Utama Supaya UMKM Bisa Naik Kasta
General Manager Brand Creative Content & Communication Health Care Division PT Tempo Scan Pacific Tbk Diana Theodora mengatakan, tantangan yang dihadapi UMKM tidak cukup dijawab hanya dengan membuka toko online.
“Semangat tersebut perlu ditopang oleh akses modal, pasar, dan pengetahuan yang relevan," sebut Diana dalam keterangan resminya, Jumat (11/9).
Menurut dia, program tersebut dirancang untuk membantu UMKM bukan hanya memiliki lapak digital, tetapi juga meningkatkan visibilitas dan mengelola penjualan secara lebih efektif.
Pendekatan ini cukup relevan dengan kondisi pelaku usaha saat ini. Sebab, tantangan UMKM di era digital bukan lagi sekadar soal apakah produknya bisa ditemukan secara online, melainkan bagaimana produk tersebut dapat bersaing dan bisnisnya tetap sehat setelah transaksi terjadi.
Tempomart.com, platform online commerce milik Tempo Scan Group ini dibuat sejak 2019 dan menjadi salah satu kanal yang digunakan dalam program tersebut.
Selain akses berjualan tanpa komisi selama enam bulan, UMKM peserta juga memperoleh paket dukungan bisnis yang mencakup bantuan untuk meningkatkan visibilitas toko, pengelolaan toko, serta pengembangan penjualan online.
Deputy Managing Director Sales & Marketing PT Tempo Digital Nusantara Suli Anggara menilai, pengembangan ekosistem digital bagi UMKM tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga bagaimana kanal tersebut dapat membuka ruang bagi produk lokal untuk menjangkau konsumen lebih luas.
Baca Juga: UMKMall Luncurkan Teman AI, Solusi UMKM Bisa Akses AI
Bagi UMKM, dukungan seperti ini menjadi penting karena kebutuhan setiap usaha tidak berhenti pada modal. Pengetahuan mengenai pemasaran digital, pengelolaan toko, hingga strategi menjaga margin juga ikut menentukan keberlanjutan bisnis.
NEO rheumacyl Peduli UMKM pertama kali digelar pada 2020. Selama enam tahun terakhir, program tersebut telah menghadirkan berbagai bentuk dukungan bagi UMKM, mulai dari promosi, peningkatan kapasitas usaha, hingga bantuan pengembangan bisnis.
Pada penyelenggaraan ketujuh tahun ini, dukungan diperluas dengan menggabungkan penguatan modal dan kesempatan berjualan di ekosistem digital.
Pendaftaran program dibuka selama Agustus hingga Oktober 2026. Nantinya, 20 UMKM yang lolos seleksi dan verifikasi akan mengikuti rangkaian pembinaan sekaligus mendapatkan kesempatan membuka lapak di Tempomart.com.
Bagi pelaku usaha kecil, kesempatan seperti ini setidaknya memberikan alternatif untuk memperluas pasar sembari menekan salah satu komponen biaya dalam berjualan online.
Sebab, di tengah pertumbuhan ekonomi digital, tantangan UMKM bukan hanya bagaimana terus bergerak mengejar penjualan, tetapi juga bagaimana memastikan bisnis tetap punya cukup ruang untuk bertahan dan tumbuh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News