MOMSMONEY.ID - Risiko pelemahan rupiah masih terbuka di sisa tahun ini. Baru-baru ini, kurs rupiah di pasar spot tembus rekor terlemah terhadap dollar AS pada Selasa (5/5) di angka Rp 17.424 per dollar AS.
Sejalan dengan itu, rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) di Bank Indonesia (BI) berada di angka Rp 17.425 pada Sela lalu.
Meski, rupiah spot sedikit menguat di level Rp 17.414 per dollar AS pada Senin (11/5), namun periode tahun berjalan mata uang Garuda masih terdepresiasi 4,4%. Itu membuat IDR berada di antara tiga mata uang dengan kinerja terburuk di pasar emerging market setelah rupee India (INR) dan lira Turki (TRY).
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman, menyebut, pasar saat ini tengah memberi premi risiko tambahan terhadap Indonesia.
"Faktor utamanya berasal dari kombinasi tekanan domestik: defisit fiskal yang melebar, kebutuhan pembiayaan APBN yang meningkat, harga minyak tinggi, beban subsidi energi, serta menurunnya kepercayaan investor terhadap stabilitas rupiah dan pasar SBN," ujarnya kepada KONTAN, Selasa (5/5).
Dalam skenario dasar, Rizal memperkirakan rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp 17.000-Rp 17.500 per dollar AS. Namun, jika tekanan fiskal membesar, yield SBN naik, dan arus modal asing keluar lebih deras, rupiah bisa menembus Rp 17.500 per dollar.
Dalam skenario terburuk, imbuh Rizal, rupiah bahkan bisa mendekati Rp 18.000 per dollar AS.
Baca Juga: Analis Proyeksikan Koreksi IHSG dan Pelemahan Rupiah Masih Berlanjut
Ekonom Agung Mahardika Capital, Ferry Latuhihin, memberikan proyeksi yang jauh lebih pesimistis. Dalam skenario terburuk, pelemahan bisa melampaui Rp 17.500 per dollar AS.
"Kalau ketiganya seperti fiskal, harga energi, dan keyakinan pasar terus memburuk secara bersamaan, pelemahan bisa lebih dalam. Bahkan bisa sampai Rp 22.000 per dollar, seperti yang terjadi pada lira Turki," katanya, Selasa (5/5).
Ferry juga mengkhawatirkan dampak evaluasi sovereign rating oleh S&P yang dijadwalkan bulan ini. Menurut hitungannya, defisit APBN yang disetahunkan mencapai 3,72% pada kuartal pertama. Ini bisa memicu sinyal negatif dari lembaga pemeringkat.
Sedangkan, menurut Ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky, peluang rupiah menguat setidaknya kembali ke kisaran Rp 16.500 per dollar, sangat bergantung pada faktor eksternal. Terutama butuh kebijakan moneter AS yang kembali longgar dan likuiditas global membaik.
"Syarat pemulihan rupiah dari sisi domestik adalah arus modal asing bersih yang konsisten, stabilitas fiskal yang lebih kredibel, dan pembiayaan utang yang terserap baik," ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News