MOMSMONEY.ID - Istri yang bekerja mengurus rumah tangga tak ubahnya “direktur operasional” sebuah perusahaan. Saat ibu rumah tangga jatuh sakit atau mengalami burnout, acapkali stabilitas keluarga terganggu.
Banyak orang beranggapan mengurus rumah tangga bukanlah pekerjaan yang menguras tenaga. Faktanya, energi yang dikeluarkan seorang ibu saat mengurus anak dan rumah dapat setara dengan aktivitas olahraga.
Di antaranya, secara akumulatif, seorang ibu bisa membakar 700 hingga 930 kkal hanya dari aktivitas
fisik domestik harian (di luar kalori basal tubuh). Energi ini setara dengan berlari konstan sejauh 10 hingga 15 kilometer atau sama dengan half-marathon!
Seorang ibu yang punya balita tanpa disadari telah melakukan “latihan beban” setiap hari. Menggendong balita yang berbobot 10—15 kg sambil melakukan aktivitas lain seperti memasak atau naik turun tangga memberikan tekanan nyata pada otot inti (core) dan tulang belakang seperti saat latihan beban.
Berbeda dengan atlet yang memiliki jadwal istirahat khusus untuk pemulihan, ibu rumah tangga kerap tak punya hari libur. Ibu terus bekerja mengurus rumah dan keluarga selama tujuh hari penuh dalam seminggu tanpa jeda yang memadai. Alhasil, burnout atau kelelahan fisik dan mental ekstrem pun terjadi.
Keluhan istri yang merasa capai setelah seharian mengurus anak dan rumah sering dianggap sekadar rengekan emosional oleh suami. Hal ini bisa saja memantik pertengkaran karena istri merasa tidak ditanggapi. Dalam jangka panjang, kurangnya istirahat tak hanya berisiko memunculkan burnout, tapi juga berpotensi mengganggu keharmonisan rumah tangga.
Bantuan perangkat pintar
Namun, rasa lelah ibu sebenarnya kondisi fisiologis yang dapat diukur datanya. Melalui bantuan perangkat pintar, perempuan dapat lebih memahami kondisi tubuhnya secara mendalam. Sewaktu data perangkat pintar menunjukkan sinyal tubuh kelelahan, penggunanya bisa segera beristirahat. Istirahat berkualitas menjadi kunci agar perempuan dapat terus berdaya.
Fitur kesehatan di Garmin smartwatch membantu perempuan memantau metrik tubuh sepanjang hari langsung dari pergelangan tangan. Salah satunya fitur pelacakan energi Body Battery yang membantu pengguna memantau sisa energi dalam tubuh. Skor Body Battery menghitung berbagai faktor seperti aktivitas fisik, tingkat stres, istirahat, dan tidur, serta bagaimana hal-hal tersebut memengaruhi cadangan energi tubuh.
Selain Body Battery, jam tangan Garmin juga memiliki fitur Sleep Score. Fitur pelacakan tidur canggih ini akan memberikan skor dari 0—100 untuk menilai kualitas istirahat pengguna. Skor ini dihitung berdasarkan kombinasi arsitektur tidur, data stres, gangguan di malam hari, durasi tidur, dan faktor lainnya.
Tak hanya itu, Garmin smartwatch juga bisa mengukur kadar stres pengguna dalam skala 0—100. Skor stres ini dihitung berdasarkan data denyut jantung (HR) dan denyut jantung variability (HRV) yang menunjukkan seberapa baik tubuh bereaksi terhadap berbagai tantangan hidup maupun lingkungan sekitar.
Membantu komunikasi pasangan
Metrik ini dapat menjadi data valid dan objektif untuk menggambarkan kondisi tubuh perempuan secara nyata. Selanjutnya, metrik tubuh ini juga dapat membantu istri mengkomunikasikan kondisi fisiologisnya kepada suami untuk berbagi tugas rumah tangga dan mencegah burnout.
Sebagai contoh, di sore atau malam hari saat Skor Body Battery menunjukkan angka 10, tandanya cadangan energi tubuh sudah hampir habis. Istri bisa menyampaikannya kepada pasangan agar membantu pekerjaan domestik sementara ia sebagai “direktur operasional” beristirahat.
Seberapa sering Anda mendiskusikan kondisi kesehatan pribadi dengan pasangan? Selayaknya perusahaan yang mengevaluasi kondisi keuangan dengan audit, pasangan suami istri juga perlu melakukan “audit kesehatan” berkala.
Sebelum tubuh memberi alarm tanda bahaya, di sela kesibukannya ibu harus beristirahat secara berkualitas. Memprioritaskan kebugaran fisik serta mental ibu adalah investasi cerdas keluarga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News