MOMSMONEY.ID - Investasi sekarang semakin mudah dilakukan. Investor bahkan bisa memanfaatkan fitur auto-debit untuk menyisihkan uang secara rutin tanpa harus repot melakukan transaksi setiap bulan.
Namun, investasi yang berjalan otomatis bukan berarti portofolionya boleh dibiarkan begitu saja. Tetap perlu ada pengecekan secara berkala untuk memastikan investasi masih sesuai dengan tujuan keuangan dan kemampuan menanggung risiko.
Head of Wealth Management Bank Jago Nyoman Sukmawati mengatakan, investasi tidak hanya soal disiplin menyisihkan uang secara rutin.
“Investasi bukan sekadar konsistensi menyisihkan uang, tetapi juga memastikan dana yang ditempatkan tetap relevan dengan tujuan finansial,” ujar Nyoman.
Karena itu, investor ritel tidak perlu memantau pergerakan investasi setiap hari. Cukup lakukan evaluasi secara berkala dengan memperhatikan beberapa hal penting.
Pertama, cek kembali komposisi aset.
Perubahan nilai investasi bisa membuat porsi masing-masing aset dalam portofolio ikut berubah. Jika alokasinya sudah terlalu jauh dari strategi awal, investor bisa mempertimbangkan rebalancing.
Kondisi keuangan yang berubah juga bisa menjadi alasan untuk menata ulang portofolio. Seseorang yang masih lajang, misalnya, mungkin lebih nyaman mengambil risiko tinggi. Setelah menikah, memiliki tanggungan, atau mengalami perubahan pendapatan, toleransi risikonya bisa berbeda.
Dalam kondisi tersebut, komposisi investasi sebaiknya kembali disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan keuangan terbaru.
Baca Juga: Bukan Cuma Perut, Bagian Tubuh Ini juga Rawan Nyeri saat Menstruasi
Kedua, jangan hanya melihat investasi dari warna merah atau hijau.
Penurunan nilai investasi dalam jangka pendek belum tentu menunjukkan kinerja yang buruk. Investor perlu melihat periode investasi, kondisi pasar, serta membandingkannya dengan benchmark yang sesuai.
Sebagai contoh, jika sebuah reksa dana saham turun 8% dalam sebulan, sementara benchmark-nya turun 10%, kinerja reksa dana tersebut sebenarnya masih relatif lebih baik dibandingkan acuannya.
Ketiga, perhatikan kapan dana akan digunakan.
Strategi investasi untuk tujuan yang masih jauh bisa berbeda dengan dana yang sebentar lagi akan dipakai. Semakin dekat dengan waktu penggunaan, investor perlu semakin memperhatikan risiko dan potensi fluktuasi aset.
Misalnya, seseorang menargetkan dana Rp 100 juta untuk uang muka rumah dalam tiga tahun. Strategi investasi yang digunakan pada awal periode belum tentu tepat ketika waktu pembelian rumah semakin dekat.
Penyesuaian portofolio bisa diperlukan agar gejolak pasar tidak mengganggu dana yang sudah memiliki tujuan penggunaan dalam waktu dekat.
Persoalan lain muncul ketika investasi tersebar di banyak platform. Investor harus membuka beberapa aplikasi hanya untuk mengetahui berapa total aset yang dimiliki dan bagaimana pembagiannya.
Baca Juga: Daftar Olahraga yang Tetap Boleh Dilakukan saat Menstruasi, Ada Yoga
Saat ini, investor dapat melihat total aset yang tersebar di berbagai platform brokerage yang terdaftar di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) melalui fitur portofolio investasi di Aplikasi Jago. Informasi tersebut juga dapat digunakan untuk melihat aset yang dimiliki pada masing-masing platform.
Nyoman menilai, melihat portofolio secara keseluruhan dapat membantu investor memahami penyebaran aset sekaligus mengevaluasi apakah alokasinya masih sesuai dengan tujuan keuangan.
Dengan begitu, konsep set and don’t forget bukan berarti investor mengatur investasi lalu benar-benar melupakannya. Otomatisasi memang bisa membantu membangun kebiasaan investasi, tetapi portofolio tetap perlu ditinjau dari waktu ke waktu.
Intinya, investor tidak harus sibuk mengecek investasi setiap hari. Yang lebih penting adalah memastikan uang yang ditanam tetap berada di jalur yang sesuai dengan tujuan keuangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News