MOMSMONEY.ID - Industri manufaktur Indonesia terus bergerak menuju era Industri 4.0. Bukan hanya mesin dan teknologi yang semakin canggih, tenaga kerja juga dituntut ikut beradaptasi.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sektor manufaktur menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,11% pada 2025.
Jumlah pekerja manufaktur juga meningkat dari sedikit di bawah 19 juta orang pada 2021 menjadi lebih dari 20 juta orang dalam empat tahun.
Seiring penerapan Making Indonesia 4.0, perusahaan mulai mengadopsi otomasi, pabrik pintar dan teknologi digital. Kondisi ini membuat kemampuan tenaga kerja dalam menggunakan teknologi menjadi semakin penting.
Adhi Firmansyah, Channel Director Southeast Asia (SEA) Epicor, mengatakan, transformasi digital tidak cukup hanya dengan menghadirkan teknologi baru di pabrik.
“Perusahaan juga perlu memastikan bahwa orang-orang yang menjalankan operasional memiliki akses terhadap informasi dan kemampuan untuk memanfaatkan teknologi tersebut dalam pekerjaan sehari-hari,” kata Adhi dalam keterangan resmi Kamis (20/8).
Baca Juga: Bukan Hanya IPK, Generasi Muda Perlu Menyiapkan Ini Sebagai Bekal Masuk Dunia Kerja
Artinya, bagi yang ingin berkarier di industri manufaktur, kemampuan digital menjadi salah satu bekal yang perlu diperhatikan.
Pekerja perlu terbiasa mengakses informasi operasional, menggunakan perangkat digital, serta memahami data yang dibutuhkan untuk menunjang pekerjaan.
Di lingkungan smart factory, akses terhadap informasi secara real-time juga semakin penting. Pekerja dituntut mampu beradaptasi dengan alur kerja yang lebih terhubung, termasuk berkolaborasi dengan tim produksi, pemeliharaan dan kualitas.
“Pabrik pintar tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila pekerja masih kesulitan mendapatkan informasi yang mereka perlukan. Teknologi seharusnya membantu pekerja mengambil keputusan lebih cepat dan menjalankan keahlian mereka secara lebih efektif, bukan sekadar menggantikan proses lama dengan sistem baru,” ujarnya.
Selain keterampilan digital, kemampuan memecahkan masalah, melakukan perbaikan berkelanjutan dan berinovasi juga menjadi bekal penting.
Pasalnya, otomasi dan kecerdasan buatan (AI) dapat mengambil alih sejumlah pekerjaan administratif dan aktivitas berulang.
Baca Juga: 5 Aktivitas Self Care Ringan untuk Pekerja, Bisa Lakukan di Sela Kesibukan
“Ketika pekerjaan administratif dan aktivitas berulang dapat diotomatisasi, pekerja memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada aktivitas yang memberikan nilai lebih besar bagi perusahaan, termasuk penyelesaian masalah, perbaikan berkelanjutan, dan inovasi,” jelas Adhi.
Karena itu, pekerja manufaktur ke depan tidak hanya perlu menguasai keterampilan teknis, tetapi juga terus meningkatkan keterampilan digital dan kemampuan beradaptasi.
Menurut Adhi, investasi pada keterampilan digital perlu ditempatkan sejajar dengan investasi perusahaan pada mesin, perangkat lunak, otomasi maupun infrastruktur digital.
Pada akhirnya, teknologi bukan semata-mata untuk menggantikan manusia. Justru, kemampuan pekerja memanfaatkan teknologi secara optimal menjadi bagian penting dalam meningkatkan produktivitas dan daya saing industri manufaktur.
“Making Indonesia 4.0 bukan hanya tentang mesin yang semakin terhubung. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana manusianya ikut terhubung, memiliki informasi yang dibutuhkan, dan diberdayakan untuk memanfaatkan teknologi tersebut,” kata Adhi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News