MOMSMONEY.ID - Dalam beberapa dekade ke depan, Indonesia diproyeksikan memasuki era aging society atau kondisi penduduk lanjut usia di atas 65 tahun meningkat secara signifikan dibandingkan penduduk usia muda. Kondisi ini dinilai menjadi sinyal bagi masyarakat untuk mulai mempersiapkan keuangan masa pensiun sejak dini, bukan hanya mengandalkan tabungan.
Head of Group Marketing & Communications Indonesia PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika mengatakan saat ini Indonesia masih larut dalam narasi bonus demografi sehingga kesadaran masyarakat mengenai tantangan populasi menua belum terlalu tinggi. Padahal, dalam sekitar 20 tahun ke depan jumlah penduduk berusia di atas 60 tahun diperkirakan mencapai sekitar 20% dari total populasi.
"Kalau menghitung kebutuhan pensiun saat sudah tua tentu terlambat karena waktu menabungnya semakin pendek," ujar Mona dalam DBS Insights Forum, Rabu (15/7).
Menurutnya, persiapan pensiun tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan pokok seperti makan, tempat tinggal, atau biaya listrik. Masyarakat juga perlu memperhitungkan gaya hidup yang ingin dijalani saat pensiun mencakup biaya transportasi, liburan hingga aktivitas rekreasi lainnya.
Dengan mengetahui estimasi kebutuhan dana pensiun sejak awal, seseorang dapat menentukan strategi keuangan yang lebih tepat, mulai dari meningkatkan investasi hingga mencari sumber pendapatan tambahan.
"Nanti orang bisa berpikir, kalau target dana pensiunnya sebesar itu berarti tidak cukup hanya menabung. Mungkin perlu investasi atau bahkan memiliki side hustle sejak sekarang," kata Mona.
Baca Juga: Dana Darurat atau Investasi? Begini Cara Menentukan Pilihan yang Tepat
Selain meningkatkan kesadaran masyarakat, DBS Foundation juga mendorong lahirnya inovasi sosial yang dapat membantu menghadapi era aging society. Salah satunya melalui Impact Beyond Award, program hibah dengan total dana mencapai 3 juta dolar Singapura, di mana setiap penerima dapat memperoleh pendanaan hingga 1 juta dolar Singapura.
Namun, Mona mengungkapkan bahwa jumlah pelaku usaha sosial di Indonesia yang mengembangkan solusi khusus untuk masyarakat lanjut usia masih sangat terbatas. Sebagian besar usaha yang ada masih bergerak di sektor makanan dan minuman dengan mempekerjakan lansia dalam skala kecil.
Ia mencontohkan di negara lain seperti Singapura, Hong Kong, China, hingga India, inovasi untuk masyarakat lanjut usia sudah berkembang lebih jauh. Mulai dari tombol darurat yang terhubung langsung dengan rumah sakit, aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menghubungkan keluarga dengan tenaga caregiver, hingga teknologi rehabilitasi bagi penyintas stroke.
Karena itu, ia berharap semakin banyak pelaku usaha sosial di Indonesia yang mengembangkan solusi untuk menghadapi perubahan struktur demografi tersebut.
"Kita tidak ingin aging society menjadi beban bagi negara maupun keluarga. Karena itu kita membutuhkan inovasi-inovasi yang bisa meningkatkan kesiapan masyarakat menghadapi kondisi tersebut," tutupnya.
Baca Juga: Mulai Investasi di Usia 25 Tahun? Bisa Banget, Begini Caranya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News