MOMSMONEY.ID - Pergerakan pasar saham domestik pada pekan ini diperkirakan dilanda volatilitas yang tinggi. Fokus pasar masih akan tertuju pada implementasi MSCI rebalancing menjelang tanggal efektif 29 Mei 2026.
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, memperkirakan, volatilitas tetap tinggi, terutama pada sesi closing auction yang biasanya menjadi titik utama penyesuaian portofolio passive funds global.
Narasi utama pasar tidak lagi sekadar soal valuasi atau kinerja emiten, tetapi lebih kepada bagaimana investor global melakukan reposisi portofolio menghadapi perubahan besar pada indeks MSCI. Pekan lalu, keputusan MSCI yang mengeluarkan sejumlah saham besar seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA, hingga CUAN dari Global Standard Index menjadi katalis utama meningkatnya tekanan jual di pasar domestik.
Investor asing mulai melakukan penyesuaian posisi lebih awal sebelum effective date rebalancing pada akhir Mei, sehingga menciptakan gelombang passive outflow yang cukup agresif.
Namun menariknya, menurut Imam, di balik potensi outflow tersebut, terdapat peluang rotasi inflow menuju saham-saham yang diperkirakan mengalami peningkatan bobot indeks seperti BMRI, BRMS, PGAS, ADRO, INDF, hingga MTEL dan TOWR.
Baca Juga: IHSG Tumbang Hampir 2% Pasca-Review MSCI, Investor Disarankan Lakukan Ini
Selain itu, pasar juga mulai mengantisipasi potensi upgrade Korea Selatan dari Emerging Market menjadi Developed Market oleh MSCI, yang dalam jangka menengah dapat membuka peluang reallocation flow ke pasar emerging termasuk Indonesia.
"Secara teknikal, IHSG saat ini masih berada dalam fase bearish dengan support berikutnya berada di area 6.640 hingga 6.538," prediksi Imam, mengutip siaran pers, Senin (18/5).
Walaupun indikator mulai menunjukkan tanda awal bearish exhaustion, konfirmasi reversal masih belum terbentuk, sehingga strategi defensif tetap menjadi pendekatan yang paling relevan dalam jangka pendek.
IPOT melihat tekanan pasar saat ini lebih mencerminkan faktor teknikal dan mekanisme global rebalancing dibanding deteriorasi fundamental ekonomi domestik secara struktural.
“Namun hingga arus dana asing mulai stabil paska effective date MSCI, volatilitas pasar diperkirakan masih akan tetap tinggi dan menuntut investor untuk lebih disiplin dalam mengelola risiko dan posisi trading,” ujar Imam.
Rekomendasi saham sepekan
Merespons dinamika market, IPOT merekomendasikan trading saham pada emiten-emiten berikut ini:
- Buy BUMI (Target harga: Rp 242, Stop loss: < Rp 200)
Saham emiten PT Bumi Resources Tbk direkomendasikan sebagai trading proxy utama untuk memanfaatkan momentum bullish harga batubara dan potensi technical rebound pasca tekanan MSCI rebalancing.
Ini mengingat BUMI berpotensi memperoleh rotasi inflow seiring kemungkinan peningkatan bobot indeks serta didukung sensitivitas tinggi terhadap kenaikan harga energi global di tengah krisis distribusi energi dunia.
Baca Juga: MSCI Depak 6 Saham dari Indeks Gobal Standard, Ini 11 yang Bertahan
- Buy MINA (Target harga: Rp 384, Stop loss: < Rp 342)
PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA) menarik seiring berlanjutnya pertumbuhan kunjungan wisatawan asing ke Indonesia yang naik 10,5% YoY pada Maret 2026 dan mencapai 3,44 juta wisatawan sepanjang kuartal I-2026.
Peningkatan arus turis, khususnya dari Malaysia, Australia, dan China, berpotensi menjadi katalis positif bagi sektor hospitality dan lifestyle consumption yang menjadi salah satu eksposur bisnis MINA, sehingga membuka peluang peningkatan permintaan domestik maupun recurring revenue perseroan di tengah pemulihan aktivitas pariwisata nasional.
- Buy RMKE (Target harga: Rp 3.650, Stop Loss: < Rp 3110)
Saham PT RMK Energy Tbk (RMKE) menarik dicermati sebagai beneficiary dari implementasi Peraturan Gubernur Sumatera yang mewajibkan distribusi batubara menggunakan jalur hauling khusus dan kereta api, bukan lagi jalan umum.
Regulasi ini secara struktural memperkuat positioning RMKE karena perseroan telah memiliki ekosistem logistik batu bara terintegrasi mulai dari hauling road, stasiun muat kereta api, hingga pelabuhan, sehingga berpotensi meningkatkan utilisasi volume dan memperkuat barrier to entry di tengah kebutuhan efisiensi distribusi batubara nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News