MOMSMONEY.ID - Potensi pergerakan market pada pekan ini masih akan sangat dipengaruhi oleh sentimen geopolitik, khususnya dinamika konflik di Timur Tengah dan perkembangan terbaru di Selat Hormuz.
Imam Gunadi, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT), mengatakan, meskipun ada data ekonomi yang rilis, arah market tetap akan sangat bergantung pada headline geopolitik yang sifatnya tidak dapat diprediksi.
Di luar faktor tersebut, ada beberapa data penting yang perlu dicermati. Dari China, pasar akan menunggu rilis Loan Prime Rate (LPR) 1 tahun dengan konsensus di level 3,0% dan LPR 5 tahun di 3,5%. Secara umum, angka ini akan memberikan gambaran arah kebijakan moneter China ke depan, khususnya dalam menjaga momentum pertumbuhan yang sejauh ini masih terlihat cukup solid.
Kalau tidak ada perubahan, artinya otoritas masih cenderung wait and see. Tapi kalau ada penurunan, itu bisa jadi sinyal bahwa tekanan ekonomi mulai meningkat dan pemerintah perlu memberikan stimulus tambahan.
Dari Amerika Serikat, data penjualan ritel bulan Maret akan jadi perhatian, dengan konsensus tumbuh 1,3% secara bulanan, lebih tinggi dari sebelumnya di 0,6%. Data ini penting karena mencerminkan kekuatan konsumsi yang merupakan motor utama ekonomi AS.
Baca Juga: Saham Bank dan Komoditas Paling Banyak Ditransaksikan Asing
Kalau realisasinya sesuai atau di atas ekspektasi, bisa memperkuat narasi bahwa ekonomi AS masih cukup resilient meskipun ada tekanan dari sisi energi. Namun di sisi lain, angka yang terlalu kuat bisa membuat ekspektasi suku bunga tetap tinggi, yang biasanya kurang favorable untuk market.
Data EIA Crude Oil Stocks Change juga menarik diperhatikan, dengan konsensus penurunan sekitar 1 juta barel. Data ini kerap jadi indikator jangka pendek kondisi supply-demand di pasar minyak. Penurunan stok biasanya indikasi suplai lebih ketat dan bisa menopang harga minyak tetap tinggi. "Dalam konteks saat ini, data ini akan semakin relevan karena pasar sedang sangat sensitif terhadap isu pasokan energi," jelas Imam.
Dari domestik, lanjut Imam, keputusan suku bunga Bank Indonesia juga akan menjadi fokus, dengan konsensus di level 4,75%. BI kemungkinan masih akan tetap menjaga suku bunga acuan di 4,75% untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi yang masih terkendali.
Pasar juga akan mencermati tone kebijakan ke depan, terutama apakah ada perubahan sikap dalam merespons tekanan eksternal yang meningkat.
Rekomendasi trading saham
Imam memperkirakan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini masih bergerak dalam fase konsolidasi, dengan kecenderungan volatil di tengah dominasi sentimen geopolitik dan belum kembalinya aliran dana asing secara konsisten.
Secara teknikal, area 7.773 menjadi resistance terdekat yang cukup krusial, yang jika berhasil ditembus bisa membuka ruang kenaikan lanjutan. Namun selama masih tertahan, potensi pullback tetap perlu diwaspadai.
Sedangkan, level 7.308 menjadi support penting yang akan menjadi penopang apabila terjadi tekanan, terutama jika ada sentimen negatif dari global.
"Secara keseluruhan, pergerakan IHSG kemungkinan masih akan dalam range tersebut, dengan market yang cenderung reaktif terhadap perkembangan eksternal," prediksi Imam.
Baca Juga: Harga Emas Global Turun karena Ketegangan Timur Tengah Meningkat
Merespons dinamika pasar, IPOT merekomendasikan trading saham pada emiten-emiten berikut ini:
- Buy PGEO (Entry: Rp 1.035-Rp 1045, Target price: Rp 1.105-Rp 1.115, Stop Loss: < Rp 1.000).
Saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menjadi pilihan menarik sebagai bagian dari tema energi, namun dengan profil yang lebih defensif karena berbasis renewable energy. Di tengah volatilitas harga energi fosil yang sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, PGEO menawarkan eksposur ke sektor energi dengan risiko yang relatif lebih stabil.
Selain itu, tren transisi energi jangka panjang juga menjadi katalis tambahan, sehingga PGEO tidak hanya relevan untuk kondisi saat ini, tetapi juga memiliki positioning yang kuat untuk pertumbuhan ke depan.
- Buy ASII (Entry: Rp 6.350-Rp 6.400, Target Price 1: Rp 6.600, Target Price 2: Rp 6.775, Stop Loss: < Rp 6.175).
Saham PT Astra International Tbk (ASII) adalah salah satu proxy domestik yang cukup solid di tengah ketidakpastian global, dengan diversifikasi bisnis yang luas mulai dari otomotif, alat berat, hingga exposur ke komoditas.
Dalam kondisi market yang cenderung volatil, ASII bisa menjadi pilihan yang lebih defensif karena memiliki keseimbangan antara exposure domestik dan global. Selain itu, jika harga komoditas tetap tinggi, lini bisnis terkait juga berpotensi memberikan kontribusi positif terhadap kinerja secara keseluruhan.
- Buy DSSA (Entry: Rp 3.240-Rp 3.260, Target Price: Rp 3.450, Stop Loss: < Rp 3.150).
Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) cukup menarik dalam konteks kondisi global saat ini, di mana harga energi masih berada di level yang elevated akibat ketidakpastian geopolitik dan potensi gangguan suplai. Dengan eksposur ke sektor energi, khususnya batubara, DSSA berpotensi mempertahankan kinerja yang solid selama harga komoditas tetap tinggi.
Selain itu, karakter bisnisnya yang sudah terintegrasi juga memberikan buffer terhadap volatilitas jangka pendek, sehingga saham ini masih relevan untuk menangkap momentum dari sektor energi yang saat ini menjadi salah satu sektor dengan tailwind paling jelas
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News