MOMSMONEY.ID - Harga emas di pasar global menuju penurunan mingguan ketiga berturut-turut, meskipun naik tipis pada hari ini.
Pelemahan harga emas terjadi di tengah ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga Federal Reserve menguat, sementara para pedagang menantikan laporan inflasi AS yang akan dirilis pada Jumat.
Mengutip Bloomberg, Jumat (11/9), harga emas spot memantul naik 0,66% menjadi US$ 4.346,70 per troi ons pada pukul 15.18 WIB. Meski begitu, harga emas spot terakumulasi turun hampir 2% sepanjang minggu ini.
Menurut data Kamis, data Indeks Harga Produsen untuk permintaan akhir di AS naik 0,4% pada Agustus, setelah direvisi naik 0,1% pada Juli. Menyusul data tersebut, para pedagang meningkatkan spekulasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan minggu depan.
Adapun data inflasi harga konsumen AS dijadwalkan dirilis pada Jumat.
Baca Juga: Berbalik Turun, Harga Emas Antam Hari Ini Jumat (11/9) Jadi Rp 2.600.000 per Gram
Wael Makarem, kepala strategi pasar keuangan di Exness, mengatakan, angka yang lebih tinggi dari perkiraan akan memperkuat alasan untuk beberapa kali kenaikan suku bunga. Ini berpotensi mendorong imbal hasil US Treasury dan nilai dollar lebih tinggi, serta memberikan tekanan tambahan pada emas.
"Ketegangan yang terus berlanjut di Timur Tengah dapat terus membebani harga emas melalui ekspektasi inflasi yang lebih tinggi," katanya mengutip Reuters, Jumat (11/9).
Meskipun emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga sering kali menekan logam mulia ini, yang tidak memberikan imbal hasil (yield).
Di sisi lain, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran merebut kendali atas kota pelabuhan Mocha di Yaman dan bergerak maju menyusuri pantai Laut Merah menuju pulau-pulau strategis, menurut sumber militer, dikutip dari Reuters. Hal ini terjadi beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan harapannya bahwa perang dengan Iran akan berakhir setelah pemilihan paruh waktu.
Harga minyak turun pada Jumat, namun berada di jalur untuk menutup minggu ini di atas level US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak pertengahan Mei.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News