MOMSMONEY.ID - Harga emas hari ini di pasar global sempat menjebol ke bawah US$ 4.000, level terendah lebih dari tiga bulan. Investor menjual logam mulia di tengah penurunan pasar saham.
Mengutip Bloomberg, Jumat (23/10), harga emas spot turun ke US$ 3.986 per troi ons pada sesi pagi, sebelum memantul ke US$ 4.014,90 per troi ons pada pukul 13.28 WIB. Meskipun memantul pada siang ini, namun harga emas dunia masih turun 0,25% dibandingkan sesi kemarin.
Logam mulia bahkan menuju penurunan harga sebesar 3,6% dalam sepekan, dengan koreksi paling tajam hampir 3% terjadi pada Kamis.
Aksi jual di pasar saham semakin dalam. Sementara, pada Jumat, harga obligasi pemerintah mempertahankan kenaikan dari sesi sebelumnya, karena investor mengalihkan investasi dari saham terkait kecerdasan buatan dan mencari keamanan pada obligasi AS.
Menurut Justin Lin, analis di Global X ETFs, emas kemungkinan menghadapi penurunan harga yang dipicu oleh likuiditas. "Hal ini cenderung terjadi saat pasar turun tajam, karena ini merupakan sumber likuiditas yang bagus untuk mendanai margin call dan persyaratan modal," katanya mengutip Bloomberg, hari ini.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini (23/10) Turun Lagi, Selisih Jual Buyback Capai Rp 205.000
Investor semakin khawatir tentang keberlanjutan investasi AI, pendorong utama pertumbuhan AS. Hal ini memicu pelaku pasar menurunkan ekspektasi mereka terhadap kenaikan suku bunga berikutnya, dengan kemungkinan kenaikan 25 basis poin pada pertemuan Federal Reserve minggu depan hanya di bawah 10%.
Meskipun imbal hasil yang lebih rendah biasanya positif untuk emas, inflasi kemungkinan akan tetap tinggi karena harga minyak yang lebih tinggi. Meningkatnya serangan terhadap Arab Saudi menambah risiko gangguan pasokan di Timur Tengah dan mendorong harga Brent ke atas US$ 113 per barel.
Militan Houthi yang didukung Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan baru-baru ini di pelabuhan Yanbu di Laut Merah Arab Saudi, serta serangan mematikan di ladang minyak dan bandara kerajaan tersebut. Harga emas telah turun lebih dari 20% sejak perang AS-Iran pecah pada akhir Februari.
Christopher Wong, analis di Oversea-Chinese Banking Corp., mengatakan, kami tetap berhati-hati dalam jangka pendek, terutama karena emas kesulitan merespons positif penurunan imbal hasil baru-baru ini.
"Penurunan harga saham terbaru menunjukkan bahwa pengurangan risiko yang lebih luas dan kekhawatiran inflasi yang masih ada, mungkin lebih berpengaruh daripada manfaat dari penurunan imbal hasil," ujarnya mengutip Bloomberg, Jumat (23/10).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News