M O M S M O N E Y I D
InvesYuk

Efek Moody's Diprediksi Goyang IHSG, Ini Rekomendasi Saham Pekan Ini dari IPOT

Efek Moody's Diprediksi Goyang IHSG, Ini Rekomendasi Saham Pekan Ini dari IPOT
Reporter: Dupla Kartini  |  Editor: Dupla Kartini


MOMSMONEY.ID - Pasar saham domestik pada pekan ini diproyeksikan bergerak variatif cenderung melemah, karena masih tingginya faktor kehati-hatian global dan domestik.

Pekan lalu, tekanan dari global dan domestik menumbangkan IHSG Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sehingga turun 4,73% ke level 7.935, diikuti oleh outflow di pasar regular sebesar Rp 1,2 triliun.

Sentimen MSCI yang memberikan ancaman Indonesia akan masuk ke frontier market jika tidak dapat memenuhi permintaan MSCI terkait transparansi pemegang saham, masih menjadi penyebab utama. Selain itu, ada sentimen Moody’s yang memangkas outlook Indonesia dan beberapa emiten.

Moody’s mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level Baa2, namun menurunkan outlook menjadi negatif. Ini dipicu meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan melemahnya prediktabilitas serta koordinasi pemerintah yang dinilai berisiko menggerus kredibilitas kebijakan dan kepercayaan investor, meski fundamental ekonomi relatif solid dengan pertumbuhan sekitar 5%, defisit fiskal di bawah 3% PDB, dan rasio utang pemerintah yang tetap rendah.

“Moody’s menyoroti risiko fiskal dari perluasan belanja sosial, basis penerimaan negara yang lemah, serta ketidakjelasan tata kelola dan mandat sovereign wealth fund Danantara yang mengelola aset BUMN besar. Sementara eskalasi risiko politik dan volatilitas pasar keuangan berpotensi menekan stabilitas makro jika tidak diimbangi dengan konsistensi kebijakan yang lebih kuat," beber Imam Gunadi, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT) mengutip siaran pers, Senin (9/2).

Baca Juga: IHSG Masih Tertekan, Cek Rekomendasi Saham BRI Danareksa Sekuritas Senin (9/2)

Penurunan outlook sovereign Indonesia menjadi negatif oleh Moody’s berdampak langsung pada penurunan batas atas peringkat (rating cap) berbagai emiten besar, termasuk BUMN seperti Telkom, Pertamina, dan bank-bank utama (Mandiri, BRI, BNI, BCA, BTN). Bagi emiten non-BUMN seperti Indofood CBP dan United Tractors, risiko meningkat melalui ketergantungan pada stabilitas makro dan akses pendanaan.

Kondisi ini mempersempit ruang kenaikan peringkat serta menyebabkan seluruh kelompok emiten lebih sensitif terhadap potensi penurunan peringkat lebih lanjut, jika tekanan fiskal dan ketidakpastian kebijakan terus berlanjut. Bahkan, bagi ICBP yang memiliki eksposur utang berdenominasi dollar AS, pelemahan stabilitas makro, volatilitas nilai tukar, maupun kenaikan premi risiko negara, berpotensi memengaruhi ICBP.

Pasar juga dipengaruhi oleh berbagai sentimen global, seperti geopolitik AS-Iran. Presiden AS Donald Trump menyebut pembicaraan tidak langsung AS-Iran yang dimediasi Oman di Muscat berjalan sangat baik dan membuka peluang pertemuan lanjutan awal pekan depan, sejalan dengan pernyataan Iran bahwa perundingan awal berlangsung positif untuk meredam ketegangan dan menghindari konflik militer.

Teheran menegaskan pembahasan hanya soal nuklir, sementara AS ingin memperluas ke isu rudal dan milisi regional. Kabar ini sempat menekan harga minyak Brent di bawah US$ 67 per barel sebelum stabil.

Imam menilai risiko geopolitik tetap tinggi karena AS pada saat yang sama menjatuhkan sanksi baru terkait ekspor minyak Iran. Iran menyita kapal tanker kecil di Teluk Persia dan kedua pihak saling melontarkan ancaman. "Kami menilai peluang eskalasi serangan terbatas di maritim masih terbuka, meski jalur diplomasi berlanjut,” katanya.

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Menguat Terbatas, Simak Rekomendasi Saham BNI Sekuritas Senin (9/2)

Di sisi lain, Imam melihat meredanya ketegangan perang dagang AS-India memberikan sentimen positif bagi ekonomi domestik karena India merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Presiden Donald Trump telah menghapus tarif tambahan 25% dan memangkas tarif "resiprokal" sehingga tarif efektif turun menjadi 18%.

Rekomendasi saham pekan ini

Menurut Imam, pekan ini, perhatian pasar akan tertuju pada sejumlah rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat, China, dan Indonesia yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar keuangan global maupun domestik.

Dari Amerika Serikat, data inflasi menjadi sorotan utama dengan proyeksi penurunan ke level 2,5% yoy dari 2,7% yoy pada periode sebelumnya, yang dapat memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter The Fed. Selain itu, initial jobless claims diperkirakan berada di kisaran 235.000, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap stabil di 4,4%, mencerminkan pasar tenaga kerja yang mulai melandai.

Dari China, pasar akan mencermati rilis data inflasi yang diproyeksikan turun menjadi 0,4% yoy dari 0,8% yoy, mengindikasikan tekanan permintaan domestik yang masih lemah dan ruang kebijakan yang lebih longgar bagi otoritas setempat. Data ini penting mengingat peran China sebagai mitra dagang utama Indonesia dan pengaruhnya terhadap sentimen komoditas global.

Baca Juga: Bargain Hunting, Harga Emas Dunia Naik Kembali ke Kisaran US$ 5.000

Di dalam negeri, fokus investor tertuju pada rilis penjualan ritel Desember 2025, sebagai indikator daya beli masyarakat menjelang akhir tahun. Selain juga data penjualan mobil Januari 2026 yang akan memberikan gambaran awal mengenai tren konsumsi dan permintaan domestik di awal tahun. Data-data ini akan menjadi konfirmasi lanjutan atas ketahanan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Di luar rilis data ekonomi, pasar masih akan mencermati perkembangan kebijakan Moody’s, khususnya dampaknya terhadap perusahaan-perusahaan Indonesia yang mengalami penurunan outlook, mengingat potensi implikasinya terhadap persepsi risiko, biaya pendanaan, dan sentimen investor.

Secara keseluruhan, dengan masih tingginya faktor kehati-hatian global dan domestik, pergerakan pasar pada pekan ini diproyeksikan cenderung melemah terbatas, dengan level support di 7.716 dan resistance di 8.207.

Merespons dinamika pasar, untuk pekan ini, IPOT merekomendasikan saham-saham berikut ini:

1. Buy on pullback PNLF (Entry: Rp 270-Rp 272, Target harga: Rp 292,  Stop loss: < Rp 260).

Saham PT Panin Financial Tbk (PNLF) menjadi representasi pemulihan sektor asuransi jiwa seiring pertumbuhan kelas menengah dan meningkatnya kebutuhan proteksi finansial. Perbaikan kualitas bisnis tercermin dari peningkatan profitabilitas, manajemen risiko yang lebih konservatif, serta potensi pertumbuhan premi yang stabil.

Dengan valuasi yang masih relatif atraktif dibanding prospek jangka panjangnya, PNLF menawarkan risk-reward yang menarik di sektor keuangan non-bank.

2. Buy ADRO  (Entry: Rp 2.080, Target harga: Rp 2.240, Stop loss: < Rp 2.000).

Saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) memiliki posisi kas yang sangat kuat dan struktur bisnis yang relatif defensif di tengah volatilitas harga komoditas. Normalisasi harga batu bara masih dapat diimbangi oleh efisiensi biaya produksi, diversifikasi ke energi terbarukan, serta rekam jejak pengelolaan modal yang disiplin, termasuk kebijakan dividen.

Dengan neraca yang solid dan fleksibilitas dalam menghadapi transisi energi, ADRO tetap relevan baik sebagai saham berorientasi income maupun jangka menengah.

3. Buy PANI (Entry: Rp 8.925, Target harga: Rp 9.600, Stop loss: < Rp 8.600).

PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) membukukan pra penjualan sebesar Rp 4,3 triliun sepanjang 2025, setara 100% dari target yang ditetapkan, mencerminkan kuatnya permintaan terhadap proyek-proyek yang dikembangkan perseroan. Capaian ini menegaskan efektivitas strategi pengembangan kawasan serta kemampuan monetisasi land bank premium yang dimiliki.

Dengan visibilitas pendapatan yang lebih terjaga dan potensi value unlocking dari pengembangan tahap lanjutan, PANI memiliki ruang pertumbuhan yang menarik seiring membaiknya sentimen sektor properti.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

Promo Traveloka x BCA Liburan Sekolah Hemat hingga Rp750 Ribu, Petualangan Menanti

Liburan sekolah tiba, saatnya hemat! Traveloka & BCA tawarkan diskon hingga Rp750.000 untuk berbagai produk. Cek cara klaim promo sekarang!

Kenali Bedanya Ice Cream, Gelato, Sorbet Agar Tak Salah Beli

Sorbet, gelato, dan ice cream sering tertukar, padahal kandungan bahan beda. Perbedaan ini menentukan rasa, tekstur, hingga manfaat.

Promo Kimukatsu Terbatas! Ada Gratis Chicken Katsu untuk Para Jomblo, Cukup Pakai KTP

Status jomblo Anda jadi tiket makan gratis di Kimukatsu. Dapatkan Chicken Katsu cuma-cuma, cek syarat lengkapnya sekarang!

Naik Rp 5.000 Jadi Rp2.673.000, Cek Daftar Harga Emas Antam Hari Ini Selasa (23/6)

Harga emas batangan bersertifikat Antam hari ini keluaran Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menguat pada Selasa (23/6)

Sinemaku Pictures Garap Film Memburu Pemangsa, Angkat Genre Horror Crime Action

Sinemaku Pictures menggarap film terbaru bergenre horror crime action yang disutradarai Umay Shahab berjudul Memburu Pemangsa lo.

Hindari 6 Makanan yang Menyebabkan Dehidrasi Ini saat Cuaca Panas Ekstrem

Saat cuaca panas, minum air saja tak cukup. Makanan pedas hingga jus kemasan bisa menyebabkan dehidrasi lo. Cari tahu penyebabnya di sini.

Trik Jitu Hapus File WhatsApp Berukuran Jumbo, HP Langsung Lega

File besar di WhatsApp bisa bikin HP lemot. Pelajari cara menghapus dan mencegahnya agar memori ponsel tidak cepat habis.

Solusi Lapar Cepat! Bakmi GM Hadirkan Promo Super Hemat di ShopeeFood & GoFood

Mau makan Bakmi GM hemat dan praktis? Ada paket berdua di ShopeeFood dan GoFood mulai Rp30 ribuan per orang. Cek jam promonya!

IHSG Ada Peluang Rebound, Ini Rekomendasi Saham dari BRI Danareksa Sekuritas (23/6)

IHSG berpeluang mengalami rebound pada perdagangan Selasa (23/6/2026)​. Cek rekomendasi saham dari BRI Danareksa Sekuritas untuk hari ini.

IHSG Rawan Terkoreksi, Simak Rekomendasi Saham dari MNC Sekuritas (23/6)

IHSG masih berpotensi melanjutkan koreksi pada perdagangan Selasa (23/6/2026).​ Simak rekomendasi saham dari MNC Sekuritas untuk hari ini.