MOMSMONEY.ID - Diabetes menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius. Pasalnya, penyakit ini tidak hanya menyerang kelompok usia lanjut, tetapi juga semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif hingga generasi muda.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi diabetes berdasarkan pemeriksaan gula darah pada kelompok usia 15 tahun ke atas mencapai 11,7%. Sementara itu, menurut IDF Diabetes Atlas 2025, jumlah penyandang diabetes di Indonesia telah mencapai 20,4 juta orang pada 2024.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi bilang, banyaknya konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) serta kebiasaan nongkrong di kalangan Gen Z meningkatkan tingkat risiko diabetes usia muda di Indonesia.
"Gen Z paling senang beli kopi terus duduk berjam-jam asal ada Wi-Fi. Mau ke gerai minuman apa pun, antreannya panjang," ucap Nadia dalam Media Discussion Diabetes Total Solution bertajuk "Kalbe Dukung Pencegahan Diabetes melalui Deteksi Dini, Nutrisi Tepat Hingga Solusi Kesehatan Personal" di Perpustakaan Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (3/11).
Karena itu, menurut Nadia, meski sudah banyak generasi muda yang antusias mengikuti berbagai kegiatan olahraga seperti lari namun bukan berarti tidak terkena diabetes. Karena itu, menurutnya pemeriksaan Kesehatan harus dilakukan sebagai upaya deteksi dini diabetes.
“Banyak sekarang anak muda yang bisa lari 10K, 5K, fun run, rajin ya. Tetapi kalau periksa gula darah, tekanan darahnya, setahun berapa kali? Belum tentu ya,” ujarnya.
Baca Juga: Jangan Diabaikan! Ini 4 Organ Tubuh yang Paling Rentan Kena Komplikasi Diabetes
Nadia menegaskan, deteksi dini merupakan salah satu strategi penting dalam mengendalikan diabetes. Pemerintah pun terus mendorong masyarakat memanfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis sebagai salah satu upaya deteksi dini penyakit tidak menular, termasuk diabetes.
Dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, masyarakat dapat mengetahui kondisi tubuh dan mengenali faktor risiko lebih awal. Dengan begitu, langkah pencegahan maupun intervensi dapat dilakukan secara lebih optimal.
Selain pemeriksaan Kesehatan secara berkala, pengaturan pola makan juga berperan penting dalam mencegah dan mengelola diabetes.
Health Communicator Kalbe Nutritionals dr. Laurencia Ardi, M.Gizi, AIFO-K menjelaskan, penyandang diabetes sebenarnya tidak harus menghindari seluruh makanan favoritnya.
Menurutnya, pengaturan makan bagi penyandang diabetes lebih menekankan pada pola konsumsi yang tepat dan seimbang, bukan sekadar memberikan larangan terhadap jenis makanan tertentu.
Salah satu prinsip yang dapat diterapkan adalah 5J, yaitu jumlah, jenis, jadwal, jurus masak, dan jujur dalam mengatur pola konsumsi sehari-hari.
Dengan menerapkan prinsip tersebut, penyandang diabetes tetap dapat menikmati makanan sehari-hari sambil memperhatikan porsi dan kandungan nutrisinya. Selain itu, tersedia pula alternatif nutrisi dan pemanis sesuai kebutuhan, seperti Diabetasol dan NuLife Sweetener dari Kalbe.
Dr. Laurencia menambahkan, pemenuhan nutrisi yang tepat dapat membantu mengendalikan kadar gula darah, menjaga berat badan tetap sehat, memenuhi kebutuhan nutrisi harian, serta menyediakan energi untuk beraktivitas.
Pengaturan nutrisi yang baik juga menjadi salah satu upaya untuk membantu mencegah atau memperlambat terjadinya komplikasi diabetes.
Baca Juga: Risiko Diabetes Tipe 2 Meningkat, 4 Jenis Makanan Ini Biang Keroknya!
Tes genetik bantu kenali risiko diabetes secara personal
Perkembangan teknologi kesehatan turut membuka peluang untuk melakukan pencegahan diabetes dengan pendekatan yang lebih personal.
Direktur PT KALGen Innolab Amalia Indri Senoadji menjelaskan, pemanfaatan informasi kesehatan berbasis data dapat membantu seseorang memahami faktor risiko kesehatan yang dimilikinya.
Sebab, setiap individu mempunyai profil risiko kesehatan yang berbeda sehingga langkah pencegahannya juga perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Salah satu inovasi Kalbe adalah DiaGENME, yakni tes genetik personal yang membantu individu dalam manajemen diabetes.
Tes ini memberikan informasi terkait risiko diabetes berdasarkan berbagai faktor, termasuk risiko diabetes pada usia muda, risiko komplikasi, hingga informasi mengenai kecocokan obat-obatan diabetes.
Melalui informasi yang lebih personal, masyarakat diharapkan dapat memahami profil kesehatannya dan mengambil keputusan yang lebih tepat dalam menerapkan pola hidup sehat maupun menentukan langkah pencegahan.
Amalia menilai, inovasi kesehatan berbasis data tidak hanya membantu seseorang mengenali risiko penyakit, tetapi juga mendorong masyarakat agar lebih proaktif dalam menjaga kesehatan.
Melalui kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan, industri, media, dan masyarakat, Kalbe berharap upaya pencegahan diabetes dapat dilakukan secara lebih luas dan berkelanjutan.
Ke depan, Diabetes Total Solution akan terus dikembangkan sebagai ekosistem kesehatan yang mendukung pencegahan hingga pengelolaan diabetes secara menyeluruh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News