MOMSMONEY.ID - Memperluas pasar hingga ke luar negeri menjadi salah satu peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mengembangkan bisnis.
Namun, menembus pasar ekspor tentu membutuhkan persiapan, mulai dari menjaga kualitas produk, memahami kebutuhan konsumen, hingga memastikan ketersediaan modal dan bahan baku.
Hal ini diakui Edy Hasan kala menjalankan PT Adarasa Putra Jaya, produsen makanan dan minuman olahan tradisional asal Salatiga, Jawa Tengah. Dirinya berhasil memasarkan produknya ke sejumlah negara.
Tak hanya itu, Adarasa aktif mengekspor berbagai produk berbahan alami, seperti gula kelapa, rempah-rempah, hingga bubuk ubi ungu atau ube ke Belanda, Swiss, Vietnam, dan Amerika Serikat.
Keberhasilannya memang tidak diraih secara instan. Usaha yang telah berjalan sekitar 50 tahun ini mulai dikelola oleh Komisaris Adarasa Eunike Rusmiati bersama suaminya, Edy Hasan, sejak 1996.
Peluang ekspor mulai digarap pada 2007 dengan Belanda sebagai negara tujuan pertama. Seiring waktu, Adarasa terus mengembangkan produk dan menyesuaikan diri dengan permintaan pasar internasional.
Baca Juga: Memanfaatkan Program Pendampingan Untuk Ekspansi Usaha
Perjalanan Adarasa tersebut bisa menjadi inspirasi bagi pelaku UMKM yang ingin mengembangkan usaha. Berikut lima kiat yang bisa diterapkan agar bisnis semakin berkembang dan berpeluang menembus pasar ekspor.
1. Terus berinovasi dan mengembangkan produk
Salah satu langkah penting dalam mengembangkan usaha adalah tidak terpaku pada satu jenis produk. Pelaku UMKM perlu melihat peluang pasar dan berani melakukan inovasi sesuai kebutuhan konsumen.
Adarasa menjadi salah satu contoh penerapan strategi tersebut. Berawal dari produksi rumahan permen asam, perusahaan ini kemudian mengembangkan berbagai produk berbahan alami, termasuk gula kelapa, rempah-rempah, dan bubuk ube.
Kemampuan mengembangkan produk juga membantu Adarasa menangkap peluang baru. Pada 2020, perusahaan mulai memasok bubuk ube ke Amerika Serikat setelah menerima permintaan dari pasar tersebut.
Artinya, pelaku UMKM perlu terus memperhatikan perkembangan kebutuhan konsumen agar dapat menghadirkan produk yang relevan dan memiliki peluang pasar lebih luas.
2. Jaga kualitas produk dan konsistensi pasokan bahan baku
Kualitas menjadi salah satu faktor penting untuk membangun kepercayaan konsumen, terlebih ketika produk dipasarkan ke luar negeri.
Untuk menjaga kualitas tersebut, Adarasa juga membina sekitar 120 petani gula kelapa lokal agar bahan baku yang dihasilkan memenuhi standar perusahaan. Strategi ini menunjukkan bahwa pelaku UMKM tidak hanya perlu memperhatikan kualitas produk akhir, tetapi juga memastikan proses pengadaan bahan baku berjalan dengan baik.
Dengan kualitas yang terjaga dan pasokan yang konsisten, kepercayaan pembeli dapat dipertahankan sehingga peluang kerja sama jangka panjang semakin terbuka.
Baca Juga: Ada Tawaran Program Bagi UMKM Yang Ingin Tembus Pasar Kanada
3. Pahami standar legalitas dan perizinan produk
Memasarkan produk ke pasar internasional membutuhkan persiapan yang lebih matang dibandingkan penjualan di pasar domestik.
Adarasa juga menghadapi proses tersebut ketika mulai memperluas pasar ekspornya. Eunike mengungkapkan, ketika permintaan semakin besar, perusahaan harus belajar memenuhi kebutuhan konsumen sekaligus memahami perizinan dan standar kualitas.
Dalam hal ini, pelaku UMKM dapat memanfaatkan program pendampingan untuk meningkatkan kesiapan bisnis sebelum memasuki pasar ekspor.
Salah satunya melalui program BCA UMKM Go Export yang sejak 2023 diikuti Adarasa. Program di bawah payung Bakti BCA tersebut memberikan pendampingan secara bertahap, mulai dari kesiapan legalitas hingga sertifikasi dan perizinan produk untuk pasar internasional.
4. Kelola arus kas dan manfaatkan pembiayaan untuk mendukung produksi
Modal kerja menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan ketika usaha mulai berkembang, terutama bagi UMKM yang menjalankan kegiatan ekspor.
Pasalnya, pelaku usaha sering kali harus mengeluarkan biaya terlebih dahulu untuk membeli bahan baku dan menjalankan produksi, sementara pembayaran dari pembeli luar negeri baru diterima beberapa waktu kemudian.
Kondisi tersebut juga dialami Adarasa. Untuk mengatasinya, perusahaan memanfaatkan fasilitas kredit ekspor dari BCA guna menjaga kelancaran arus kas.
Eunike mengatakan, fasilitas tersebut membantu perusahaan tetap membeli bahan baku dari petani secara tunai tanpa harus menunggu pembayaran dari pembeli di luar negeri.
Adarasa, misalnya, yang pada awalnya masih melakukan pengemasan minuman sachet secara manual, kini telah menggunakan mesin untuk membantu proses pengisian, penimbangan, hingga penyegelan.
Dengan pengelolaan keuangan yang baik dan pemanfaatan pembiayaan sesuai kebutuhan, pelaku UMKM dapat menjaga kelangsungan produksi sekaligus meningkatkan kapasitas bisnis.
Baca Juga: Perhatikan Kualitas Produk Sebagai Upaya Ekspansi Usaha
5. Perluas jaringan bisnis melalui pameran dan business matching
Memiliki produk berkualitas perlu diimbangi dengan strategi pemasaran yang tepat. Salah satu cara untuk memperluas pasar adalah aktif mengikuti pameran perdagangan dan membangun jaringan dengan calon pembeli.
Adarasa merasakan manfaat tersebut melalui program BCA UMKM Go Export. Perusahaan mendapatkan kesempatan mengikuti berbagai pameran perdagangan internasional dan program business matching yang mempertemukannya dengan calon pembeli dari sejumlah negara.
Menurut Edy, kesempatan tersebut membuka peluang bagi Adarasa untuk bertemu pembeli baru dan mengembangkan pasar ekspor.
Bagi pelaku UMKM, kegiatan seperti ini dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan produk, memahami kebutuhan pasar internasional, sekaligus membangun hubungan bisnis yang berpotensi berlanjut menjadi kerja sama.
Dukungan terhadap UMKM seperti Adarasa juga menjadi bagian dari komitmen BCA dalam mendorong pertumbuhan sektor produktif dan memperkuat perekonomian nasional.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, BCA terus memperluas akses pembiayaan dan menghadirkan solusi perbankan untuk mendukung kebutuhan pelaku usaha, mulai dari pengelolaan transaksi hingga pengembangan kapasitas bisnis.
“BCA melihat UMKM seperti Adarasa memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian dan menciptakan nilai tambah bagi masyarakat. Kami berharap dukungan tersebut dapat membantu pelaku UMKM meningkatkan produktivitas, memperluas jangkauan pasar, serta mengembangkan usahanya secara berkelanjutan,” ujar Hera dalam keterangan resminya, Jumat (6/11).
Komitmen tersebut tercermin dari penyaluran kredit UKM BCA yang mencapai Rp149,2 triliun per September 2026, tumbuh 15,4% secara tahunan (year-on-year/YoY). Sementara itu, total kredit produktif BCA mencapai Rp831 triliun, meningkat 17,2% YoY.
Kisah Adarasa memperlihatkan, mengembangkan UMKM hingga menembus pasar internasional membutuhkan proses panjang dan strategi yang saling mendukung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News