MOMSMONEY.ID - Bitcoin dalam fase volatilitas tinggi. Sempat koreksi tajam ke kisaran level US$ 74.000 pada Senin (2/2), harga Bitcoin kini mencoba memantul naik alias rebound.
Mengutip coinmarketcap.com, Selasa (3/2) pukul 16.35 WIB, harga Bitcoin diperdagangkan pada level US$ 78.150. Raja aset kripto naik 1,12% dalam 24 jam terakhir. Tetapi, masih merugi 10,83% sepanjang tahun berjalan.
Kombinasi antara eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, penguatan dollar AS pasca-nominasi kepemimpinan baru Federal Reserve ditengarai menjadi pemicunya. Penurunan harga baru-baru ini telah menggerus nilai kapitalisasi pasar sekitar US$ 800 miliar sejak rekor harga tertingginya pada Oktober lalu.
Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menjelaskan bahwa saat ini Bitcoin sering kali menjadi salah satu aset pertama yang bereaksi terhadap kepanikan global, karena sifat pasarnya yang beroperasi 24/7. Fenomena ini tercermin dari risk-off sentiment yang terjadi secara serentak, di mana instrumen hard money tradisional seperti emas dan perak juga menyusul mengalami tekanan jual yang signifikan bersamaan dengan aset digital.
Namun, kata Antony, data on-chain Glassnode menunjukkan anomali yang menarik, di mana terdapat perbedaan perilaku yang kontras antara kelas investor kripto.
"Saat investor ritel cenderung melakukan penjualan karena panik, kelompok "mega-whales" atau pemegang lebih dari 1.000 Bitcoin, justru terpantau mengakumulasi beli Bitcoin secara bertahap untuk menyerap pasokan pasar yang panik," ungkap Antony mengutip siaran pers, Senin (2/2).
Meskipun pasar saat ini berada dalam fase ketakutan yang ekstrem, fundamental industri dinilai jauh lebih kokoh dibandingkan siklus serupa pada tahun 2022. Kehadiran institusi besar seperti BlackRock dan JPMorgan yang telah terintegrasi dalam ekosistem melalui ETF dan infrastruktur perbankan, memberikan bantalan yang lebih kuat terhadap risiko sistemik jangka panjang.
Sebagai langkah antisipasi, Antony mengimbau para investor kripto di Indonesia untuk tetap tenang dan tidak mengambil keputusan impulsif berdasarkan emosi sesaat. Penting bagi investor untuk mengevaluasi kembali manajemen risiko masing-masing.
"Tetap disiplin pada strategi investasi jangka panjang, mencermati dinamika pasar secara proporsional, serta terus membekali diri dengan riset mandiri," sarannya.
Selanjutnya: Jelang Rilis Data PDB oleh BPS, Purbaya Optimis Pertumbuhan Ekonomi 2025 Capai 5,2%
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News