M O M S M O N E Y I D
Keluarga

Begini Peran Orangtua Untuk Mencegah Anak Terkena Demam Berdarah Dengue

Begini Peran Orangtua Untuk Mencegah Anak Terkena Demam Berdarah Dengue
Reporter: Jane Aprilyani  |  Editor: Jane Aprilyani


MOMSMONEY.ID - Upaya pemberantasan demam berdarah dengue (DBD) terus dilakukan. Salah satunya dengan memberikan informasi dan edukasi ke orang tua dan keluarga mengenai bahaya dengue dan pentingnya pencegahan secara menyeluruh untuk melindungi anak-anak dari penyakit yang mengancam nyawa seperti dengue.

Data global menunjukkan bahwa selama 30 tahun, anak-anak memiliki insiden dengue yang lebih tinggi dan disability-adjusted life years (tahun-tahun kehidupan yang hilang akibat kematian atau akibat disabilitas yang disebabkan penyakit/DALYs) dari seluruh populasi. Indonesia sendiri merupakan negara dengan beban DALYs tertinggi akibat dengue pada tahun 2021.

Tidak hanya itu, data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mencatat dalam tiga tahun terakhir (2021-2024), kelompok yang paling rentan terhadap infeksi dengue adalah mereka yang berusia 15-44 tahun. Sedangkan kasus kematian akibat dengue dalam tujuh tahun terakhir tertinggi terjadi pada anak-anak dan remaja usia 5-14 tahun. Hal ini menempatkan anak-anak dan remaja sebagai kelompok yang paling berisiko terhadap dampak terparah dari penyakit dengue.

dr. Atilla Dewanti, SpA(K), Dokter Spesialis Anak, Konsultan Neurologi, menyampaikan dengue itu bukan penyakit musiman, virusnya ada sepanjang tahun dan bisa menyerang siapa saja, di mana saja, tanpa memandang usia atau gaya hidupnya. "Gejalanya bisa mirip flu yaitu demam tinggi mendadak, nyeri kepala, mual, muntah, nyeri otot dan sendi, hingga ruam di kulit," ujar Atilla dalam keterangan resmi yang diterima Senin (28/7).

Tapi yang berbahaya, kalau tidak dikenali dan ditangani sejak awal, dengue bisa berkembang menjadi dengue shock syndrome (DSS). Diakui dr. Atilla kondisi serius yang ditandai dengan perdarahan hebat dan penurunan tekanan darah yang drastis, bahkan bisa berujung fatal. "Ini kasusnya juga banyak terjadi pada anak-anak," tambahnya.

Baca Juga: Cegah Demam Berdarah Dengue Lewat Tindakan Vaksinasi

dr. Atilla menambahkan, seseorang bisa terinfeksi dengue lebih dari satu kali karena virus dengue memiliki empat serotipe berbeda (DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4). Dijelaskan dr. Atilla, seseorang itu bisa terkena dengue lebih dari satu kali. Artinya, saat seseorang sembuh dari satu jenis virus dengue, dia hanya kebal terhadap serotipe itu saja. Kalau nanti terinfeksi dengan serotipe lain, risikonya justru bisa lebih berat. Itu yang menyebabkan infeksi kedua atau ketiga bisa jauh lebih parah dari yang pertama. Namun sayangnya, sampai saat ini belum ada obat khusus untuk mengobati dengue, karena pengobatan dengue lebih kepada untuk meredakan gejala.

Untuk itu, dr. Atilla bilang yang dapat dilakukan sekarang adalah dengan langkah-langkah pencegahan, termasuk melakukan 3M Plus secara konsisten dan mempertimbangkan penggunaan metode inovatif seperti vaksinasi.

"Di mana saat ini vaksinasi dengue telah direkomendasikan penggunaannya, baik bagi anak-anak maupun orang dewasa. Tetapi, untuk mendapatkan perlindungan yang optimal, seseorang perlu mendapatkan dosis sesuai dengan yang dianjurkan oleh dokter,” paparnya.

Tasya Kamila, seorang ibu yang juga public figure, membagikan pengalaman pribadinya sebagai orang tua dalam melindungi anak-anak dan keluarganya dari dengue. Tasya bercerita dengue menjadi salah satu penyakit yang paling dikhawatirkan. Bukan hanya karena bahayanya, tapi juga karena kita tidak pernah tahu kapan atau dari mana virus itu datang.

"Kita bisa merasa sehat, padahal sebenarnya sedang terinfeksi dan tidak sadar, apalagi kalau gejalanya ringan atau tidak muncul sama sekali. Dalam kondisi seperti ini, kita bisa menjadi sumber penularan tidak langsung, karena nyamuk yang menggigit kita bisa menularkan virus ke orang lain, termasuk anak-anak kita sendiri," kata Tasya.

Menurutnya, banyak orang tua yang belum menyadari bahwa anak-anaklah yang justru paling berisiko mengalami dampak serius jika terinfeksi. “Angka kematian akibat dengue tertinggi justru terjadi pada anak-anak dan remaja. Ini bukan cuma soal data kesehatan, tapi soal nyawa anak-anak kita. Dan sebagai orang tua, kita tidak bisa hanya pasrah atau menunggu sampai anak sakit. Kita harus proaktif," imbuh Tasya lebih lanjut.

Baca Juga: Ini Langkah Pencegahan Demam Berdarah Dengue dari Kabupaten Minahasa Utara

Tasya menekankan pentingnya peran keluarga, terutama orang tua, dalam mencegah penyebaran penyakit ini. Bukan sekadar karena takut, tapi Tasya bilang menjaga anak dari ancaman penyakit adalah tanggung jawab dan bagian dari tugas kita sebagai orang tua. 

"Kalau kita semua sadar dan bergerak bersama, saya percaya kita bisa menekan angka kasus dengue. Jangan sampai anak-anak kehilangan masa kecil mereka hanya karena kita lalai,” tuturnya.

Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, menyampaikan bahwa keterlibatan Takeda merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam upaya pencegahan dengue yang berkelanjutan, terutama untuk melindungi anak-anak, kelompok paling rentan terhadap dampak serius dengue.

Andreas menegaskan dalam momentum peringatan Hari Anak Nasional dengan tema “Anak Terlindungi, Indonesia Maju” setiap orang diingatkan kembali bahwa setiap anak berhak tumbuh sehat, aman, dan bebas dari ancaman penyakit yang dapat dicegah seperti dengue. Setiap tahun, ribuan keluarga di Indonesia harus menghadapi kenyataan pahit akibat dengue, dan yang paling menyayat hati adalah ketika anak-anak menjadi korbannya.

"Kita berbicara tentang kehilangan masa bermain, pendidikan yang terhenti, bahkan kehilangan nyawa yang sebenarnya bisa dicegah dengan 3M Plus dan vaksin DBD," jelas Andreas.

Andreas percaya bahwa perubahan hanya bisa tercapai melalui kolaborasi dan peningkatan kesadaran masyarakat. Semakin banyak orang tua dan keluarga yang paham, semakin besar peluang kita untuk memutus rantai penyebaran dengue.

Baca Juga: Kasus Demam Berdarah Dengue Meningkat Musim Hujan, Ini Cara Antisipasinya

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

Kedai Kwetiau Shefa: Menu Sederhana Ini Punya Kisah Unik di Baliknya.

Kwetiau Shefa sering libur Sabtu, tapi pelanggan lama rela menunggu. Ada apa di balik loyalitas ini? 

Awas Rugi Waktu! Jangan Sampai Liburan 3 Hari Gagal Hanya Karena Ini

Libur panjang 3 April di depan mata! Hindari kesalahan umum pemesanan tiket yang bisa merusak rencana Anda. 

Bisnis Untung Besar: WhatsApp Kini Jadi Mesin Penjualan Otomatis!

Bisnis masih manual butuh 20-30 karyawan untuk layanan pelanggan? Dengan AI, Anda hanya butuh 2-3 orang. 

Jangan Hanya Main Gadget, Anak Bisa Tingkatkan Literasi Membaca di Aplikasi BukuAku

Aplikasi BukuAku hadir untuk memberikan akses membaca buku secara digital dengan lebih mudah.       

Ini Tips Investasi dari MAMI di Tengah Dinamika Pasar Global dan Domestik yang Tinggi

Simak tips investasi dari MAMI di tengah kondisi yang dinamis saat ini, saat dinamika pasar global dan domestik tinggi.

Provinsi Ini Hujan Sangat Lebat, Simak Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (25/3)

BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca besok Rabu 25 Maret 2026 dengan status Siaga hujan sangat lebat di provinsi berikut ini.

Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (25/3) di Jabodetabek, Hujan Lebat di Sini

Peringatan dini BMKG cuaca besok Rabu (25/3) di Jabodetabek dengan status Waspada hujan lebat di daerah berikut ini.

Kesehatan Mental: Aplikasi Batin Hadir, Curhat Kini Lebih Aman!

Mencurahkan isi hati ke ChatGPT punya batasan. Aplikasi Batin tawarkan kombinasi AI dan psikolog profesional. Pahami bedanya sebelum memilih!

Dampak Good Girl Syndrome Bagi Kesehatan Mental Seseorang

Jangan sampai berlarut mengabaikan dampak psikologis dari fenomena Good Girl Syndrome.                  

Good Girl Syndrome: Hidup Anda Terancam Kehilangan Diri Sendiri?

Terjebak Good Girl Syndrome? Pelajari bagaimana stereotip budaya membatasi pertumbuhan pribadi dan kebahagiaan Anda.