Bugar

Angka Kematian akibat Stroke Tinggi, Primaya Luncurkan Layanan Kesehatan Baru

Angka Kematian akibat Stroke Tinggi, Primaya Luncurkan Layanan Kesehatan Baru

MOMSMONEY.ID - Penyakit stroke masih menjadi persoalan kesehatan tertinggi di Indonesia. Berdasarkan laman Kementerian Kesehatan, prevalensi stroke di Indonesia meningkat dari 7/1.000 penduduk pada tahun 2013 menjadi 10,9/1.000 penduduk pada tahun 2018.

Selain itu, data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) pada 2019, mencatat stroke menyumbang 19,42% dari total kematian di Indonesia.

Sama halnya dengan stroke, serangan jantung dan hipertensi yang menjadi epidemi di Indonesia. Kurang lebih 17,7% kematian di indonesia diakibatkan penyakit jantung dan pembuluh darah. Tak heran, tiga masalah kesehatan ini menimbulkan kekhawatiran banyak orang karena menimbulkan kecacatan jangka panjang hingga kematian.

Dokter Meizar Rizaldi, Direktur Primaya Hospital Bekasi Timur, mengatakan, umumnya penderita penyakit stroke, serangan jantung dan hipertensi diderita orang dengan usia 40 tahun  ke atas. Namun, seiring berkembangnya waktu dan gaya hidup yang berbeda, penderita stroke belakangan diderita usia 25 tahun.

“Mungkin karena tekanan pekerjaan dan gaya hidup yang tidak sehat jadi mulai banyak penderita stroke muda,” ujar Meizar kepada Momsmoney di Primaya Hospital Bekasi Timur.

Baca Juga: Cermati Harga Promo hingga Beauty Class di Hypermart

Meizar mencatat kurang lebih dalam sehari 20 pasien datang ke Primaya untuk rawat inap terkait penyakit stroke. Melihat catatan itu, Meizar bilang Primaya meluncurkan layanan terbarunya, yaitu Cardiovascular Center dan Brain & Spine Center.

Brain & Spine Center menjadi one stop solution untuk penanganan penyakit otak, saraf, dan tulang belakang. Layanan ini dibangun dengan biaya investasi diatas Rp 10 miliar. Layanan ini didukung oleh alat diagnostik lengkap seperti EEG, EMG, TCD, dan IOM, fasilitas modern, serta tim dokter spesialis bersertifikasi.

Sebelumnya, Primaya Hospital Bekasi Timur juga mendapat pengakuan dari World Stroke Organization (WSO) sebagai rumah sakit di Bekasi dengan layanan Code Stroke, yaitu sistem penanganan stroke dalam golden period kurang dari 4 jam. Kecepatan ini menjadi faktor kunci dalam mencegah kecacatan permanen sekaligus menyelamatkan lebih banyak nyawa.

Selain Brain & Spine Center, Primaya Hospital Bekasi Timur (PHBT) juga meresmikan Cardiovascular Center dengan layanan yang lebih komprehensif bagi pasien dengan penyakit jantung dan pembuluh darah.

Pusat layanan ini didukung oleh dokter spesialis jantung serta dokter konsulen berpengalaman dalam berbagai bidang, mulai dari intervensi kardiovaskular, bedah vaskular yang mencakup tindakan Endovenous Laser Ablation (EVLA), bypass pembuluh darah, peripheral artery bypass, dialysis access surgery, hingga penanganan trauma pembuluh darah.

Layanan ini juga meliputi bedah toraks kardiak untuk operasi tumor paru dan mediastinum, penanganan trauma dada, operasi kelainan dinding dada, VATS (Video Assisted Thoracoscopic Surgery), bedah jantung koroner (CABG/bypass jantung), bedah katup jantung, hingga operasi kelainan jantung bawaan.

Baca Juga: 10 Resep Smoothie Pisang Nikmat dan Praktis untuk Hari-Hari Anda yang Lebih Sehat

Di Primaya Bekasi Timur, Meizar bilang penyakit stroke dan jantung masuk dalam 10 penyakit terbesar paling banyak dikeluhkan. “ Harapan kami, layanan ini dapat berkontribusi menurunkan angka kesakitan sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarganya,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Primaya juga menghadirkan teknologi catheterization laboratory (cathlab) modern untuk menunjang tindakan diagnostik maupun intervensi, termasuk Coronary Angiography (CAG) dan Percutaneous Coronary Intervention (PCI), sehingga pasien dapat memperoleh layanan yang lengkap tanpa harus dirujuk ke rumah sakit lain.

Meizar menambahkan stroke dan penyakit jantung masih menjadi penyebab utama kematian dan kecacatan di Indonesia. Karena itu, kehadiran layanan terpadu bukan sekadar fasilitas, melainkan solusi nyata agar pasien dapat tertangani lebih cepat dan tepat.

“Kami percaya, intervensi dini adalah kunci untuk menurunkan beban kesehatan masyarakat,” imbuhnya.

Selanjutnya: 28,63 Ton Sampah Diangkut Usai Unjuk Rasa di Jakarta

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News