MOMSMONEY.ID - Lembaga penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI) diprediksi mempertahankan status pasar saham Indonesia di kelompok Emerging Market. Menurut Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder PasarDana, Hans Kwee, Indonesia tidak akan mengalami penurunan status menjadi Frontier Market dalam hasil MSCI Market Classification Review yang dijadwalkan diumumkan pada 23 Juni 2026.
Menurut Hans, hasil MSCI Accessibility Review 2026 yang dirilis 19 Juni 2026 menunjukkan posisi Indonesia masih relatif kuat dibandingkan banyak negara berkembang lainnya. Dari 18 kriteria yang digunakan MSCI untuk menilai aksesibilitas pasar, Indonesia mencatatkan 10 kriteria dengan nilai tertinggi ++, enam kriteria bernilai +, dan hanya dua kriteria bernilai -.
MSCI memakai tiga simbol, yaitu ++ (kriteria tertinggi) yang menunjukkan sudah sesuai dengan best practice global dan tidak ada isu, kriteria + (single plus) yang diharapkan terus ada improvement, dan kriteria - (negatif), menunjukkan adanya concern untuk ada perbaikan.
Posisi Indonesia bahkan lebih baik dibandingkan sejumlah negara emerging market seperti India, Korea Selatan, Filipina, Taiwan, dan Thailand. Hanya Hong Kong dan Malaysia yang memiliki penilaian aksesibilitas lebih baik. "Bila dibandingkan Vietnam yang berpotensi naik ke Emerging Market, Indonesia jauh lebih unggul, di mana Vietnam hanya punya 6 kriteria bernilai ++, 4 kriteria + dan 8 kriteria -," jelas Hans, Senin (22/6).
Baca Juga: Asing Catat Net Sell Jumbo Rp 3,14 Triliun, Saham Ini Paling Banyak Dijual (19/6)
Dalam laporan MSCI Accessibility Review 2026, Indonesia memperoleh nilai ++ pada sejumlah indikator utama. Antara lain persyaratan investor, batas kepemilikan asing, ketersediaan ruang kepemilikan asing, pembatasan arus modal, proses registrasi investor, regulasi pasar, kustodian, sistem penyimpanan efek, mekanisme perdagangan, serta ketersediaan instrumen investasi.
Menariknya, kata Hans, pada aspek Foreign Ownership Limits dan Foreign Room, Indonesia memperoleh nilai ++, lebih baik dibandingkan Hong Kong maupun India, yang masih mendapatkan penilaian negatif pada indikator tersebut.
Dibandingkan tahun 2025, pada review tahun 2026 hampir semua kriteria Indonesia bertahan. Satu-satunya perubahan dalam review tahun ini adalah penurunan penilaian pada aspek Information Flow dari + menjadi -. Namun, menurutnya, persoalan tersebut telah direspons oleh regulator melalui agenda reformasi pasar modal yang tengah dijalankan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organizations (SRO).
"Saya melihat penilaian pada aspek information flow akan kembali membaik dalam review berikutnya," katanya.
Hans menegaskan bahwa klasifikasi MSCI tidak hanya ditentukan oleh faktor aksesibilitas pasar, tetapi juga mempertimbangkan tingkat perkembangan ekonomi serta ukuran dan likuiditas pasar modal. Saat ini, Indonesia memiliki 11 saham yang memenuhi persyaratan ukuran dan likuiditas MSCI. Jumlah tersebut jauh melampaui ambang minimum satu saham yang disyaratkan untuk mempertahankan status sebagai pasar berkembang (Emerging Market).
"Penurunan satu kriteria aksesibilitas dalam hal ini Information flow tidak dapat memicu reklasifikasi posisi Indonesia dari EM ke Frontier market (FM)," ujar Hans.
Baca Juga: MSCI Ancam Saham Indonesia Masuk Frontier Market, Seberapa Buruk Dampaknya?
Berdasarkan kondisi tersebut, Hans menduga, Indonesia tidak mungkin turun ke Frontier Market pada MSCI Market Classification Review 23 Juni, diikuti pencabutan interim frezz terhadap Indonesia.
Meski demikian, ia juga melihat kemungkinan lain, yakni Indonesia tetap dipertahankan sebagai Emerging Market, namun status interim freeze belum dicabut.
Menurut Hans, apabila interim freeze masih dipertahankan, dampaknya terhadap pasar saham Indonesia relatif terbatas. Pasalnya, penyesuaian terhadap saham-saham yang berpotensi keluar dari indeks MSCI telah berlangsung sebelumnya.
"Interim freeze saat ini tidak lagi menjadi faktor yang menekan pasar. Dampak hanya akan menunda peluang saham-saham Indonesia yang berpotensi masuk ke dalam indeks MSCI pada review Agustus mendatang," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News