M O M S M O N E Y I D
AturUang

6 Kebiasaan Mengatur Uang yang Terlihat Bijak, tapi Justru Menghambat Kaya

6 Kebiasaan Mengatur Uang yang Terlihat Bijak, tapi Justru Menghambat Kaya
Penulis: Ramadhan Widiantoro  |  Editor: Ramadhan Widiantoro


MOMSMONEY.ID - Banyak kebiasaan mengatur uang yang terlihat aman, ternyata bisa merugikan masa depan finansial. Yuk cek 6 strategi keuangan yang perlu dihindari.

Mengatur keuangan sering dianggap cukup dengan hidup hemat dan rajin menabung. Padahal, tidak semua kebiasaan finansial yang terlihat aman benar benar membantu membangun kekayaan. 

Dalam praktiknya, beberapa strategi yang sering dilakukan justru bisa memperlambat pertumbuhan aset, jika tidak disertai perencanaan yang tepat. 

Melansir dari Go Banking Rates, para pakar keuangan menemukan bahwa sejumlah kebiasaan umum masyarakat dapat berdampak negatif bagi kekayaan jangka panjang bila dilakukan tanpa strategi jelas.

“Pengeluaran keluarga tanpa perencanaan yang jelas seringkali menggagalkan tujuan keuangan,” ujar Sheri Atwood, CEO dan Pendiri SupportPay.

Baca Juga: Gaji Habis untuk Bayar Tagihan? Begini 15 Cara Mengatur Uang yang Lebih Tenang

Membantu keluarga tanpa rencana keuangan yang jelas

Membantu keluarga secara finansial merupakan hal yang sangat wajar, apalagi dalam budaya masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan. Namun, para ahli keuangan mengingatkan bahwa bantuan tersebut tetap perlu direncanakan dengan matang.

Jika bantuan diberikan tanpa batas atau tanpa kesepakatan yang jelas, kondisi ini dapat mempengaruhi stabilitas keuangan pribadi. 

Bahkan dalam beberapa kasus, bantuan yang terlalu sering bisa membuat seseorang kesulitan mencapai target finansialnya sendiri.

Solusi yang lebih sehat adalah menetapkan batas bantuan yang realistis sesuai kemampuan. Dengan cara ini, hubungan keluarga tetap terjaga tanpa mengorbankan kondisi finansial pribadi.

Terlalu banyak menyimpan uang tunai

Banyak orang merasa lebih tenang jika memiliki tabungan dalam jumlah besar yang mudah diakses kapan saja. Namun menyimpan terlalu banyak uang dalam bentuk tunai atau tabungan biasa juga memiliki risiko.

Robert R. Johnson, profesor keuangan dari Heider College of Business, menjelaskan bahwa nilai uang bisa terus menurun akibat inflasi. Artinya, jika uang hanya disimpan tanpa dikembangkan, daya belinya dapat berkurang dari waktu ke waktu.

Karena itu para perencana keuangan biasanya menyarankan untuk membagi dana ke beberapa instrumen, seperti dana darurat, tabungan, dan investasi yang berpotensi memberikan pertumbuhan nilai.

Terlalu fokus pada keuntungan cepat

Dalam dunia keuangan, banyak orang tergoda mencari hasil instan. Misalnya sering memindahkan investasi, menarik dana terlalu cepat, atau menunggu waktu yang dianggap paling sempurna untuk mulai berinvestasi.

Padahal pendekatan seperti ini justru dapat membuat pertumbuhan aset menjadi tidak maksimal. Dalam jangka panjang, efek pertumbuhan majemuk biasanya bekerja lebih baik ketika investasi dilakukan secara konsisten.

Para ahli menekankan bahwa membangun kekayaan lebih sering bergantung pada disiplin dan strategi jangka panjang dibandingkan keputusan yang impulsif.

Baca Juga: 5 Pekerjaan Kelas Menengah Akan Tergeser AI yang Bisa Ancam Stabilitas Finansial

Menjual investasi yang untung terlalu cepat

Kesalahan lain yang cukup sering terjadi adalah menjual investasi yang sudah memberikan keuntungan, sementara aset yang merugi justru dipertahankan terlalu lama.

Perilaku ini sering dipicu oleh rasa takut kehilangan keuntungan atau harapan bahwa investasi yang merugi akan kembali naik. Namun keputusan emosional seperti ini bisa membuat portofolio investasi tidak berkembang secara optimal.

Pendekatan yang lebih sehat adalah menetapkan strategi investasi sejak awal, termasuk target keuntungan dan batas risiko yang siap ditanggung.

Mengira produk populer selalu menjadi investasi yang bagus

Banyak orang tertarik berinvestasi pada perusahaan yang produknya terkenal atau sering digunakan. Logikanya terlihat sederhana, jika produknya bagus maka investasinya juga bagus.

Namun dalam dunia keuangan, popularitas tidak selalu menjamin kinerja perusahaan yang stabil. Bahkan perusahaan besar pun bisa mengalami penurunan jika tidak mampu mengikuti perubahan pasar.

Itulah sebabnya para ahli menyarankan investor untuk melihat laporan keuangan, strategi bisnis, dan prospek industri sebelum membuat keputusan investasi.

Menganggap rumah sebagai satu satunya cara membangun kekayaan

Memiliki rumah sering dianggap sebagai simbol keberhasilan finansial. Tidak sedikit orang yang mengalokasikan sebagian besar penghasilannya untuk membeli properti.

Namun menurut para pakar keuangan, terlalu fokus pada kepemilikan rumah juga bisa membatasi peluang pertumbuhan aset lainnya. Cicilan yang terlalu besar sering membuat seseorang tidak memiliki dana untuk investasi lain.

Properti tetap bisa menjadi bagian penting dari strategi finansial. Tetapi untuk membangun kekayaan secara optimal, banyak perencana keuangan menyarankan diversifikasi aset agar risiko dan peluang pertumbuhan lebih seimbang.

Baca Juga: 6 Cara Hemat Uang yang Aman di Tahun 2026 Tanpa Mengorbankan Kenyamanan

Kesalahan dalam mengelola uang sering terjadi bukan karena kurangnya niat baik, tetapi karena kurangnya strategi yang jelas. Kebiasaan yang terlihat aman ternyata bisa menjadi penghambat jika dilakukan tanpa perencanaan.

Setelah memahami kebiasaan finansial yang perlu dihindari dan mulai menerapkan strategi yang lebih terukur, setiap orang memiliki peluang lebih besar untuk membangun kondisi keuangan yang stabil dan berkembang di masa depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

Promo Hypermart Weekday 22-24 September 2026, Bakso Ikan-Ikan Asin Beli 1 Gratis 1

Cek dan manfaatkan katalog promo Hypermart Weekday periode 22-24 September 2026 untuk belanja di awal pekan.

Siswa SMA dan SMK Belajar Bisnis, AI hingga Literasi Finansial

​PJI bersama Zurich membekali ribuan siswa dengan pengalaman membangun bisnis, literasi finansial, hingga pemanfaatan AI.

Inilah Harga Pangan Yang Bisa Jadi Panduan Belanja Kebutuhan Pokok

Berikut perkembangan harga pangan yang dirilis dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) dari Bank Indonesia, Selasa (22/9).

Katalog Promo Alfamidi Hemat Satu Pekan 21-27 September 2026, Kaluli Beli 2 Gratis 1

Inilah berbagai merek produk yang termasuk dalam promo Alfamidi Hemat Satu Pekan periode 21-27 September 2026.

Ramalan Shio Hari Ini Selasa 22 September 2026, Perbaiki Komunikasi dan Hubungan

Simak ramalan shio hari ini Selasa 22 September 2026, cek karier, keuangan, asmara, kesehatan, serta shio yang perlu lebih waspada.

Ramalan Zodiak Hari Ini Selasa 22 September 2026, Utamakan Urusan Perasaan

Simak ramalan 12 zodiak hari ini Selasa 22 September 2026, cek kabar asmara, karier, keuangan, dan kesehatan Aries hingga Pisces.

Harga Emas Antam Hari Ini (22/9) Turun Tipis, Buyback Jadi Rp 2.462.000 per Gram

Harga emas Antam hari ini turun menjadi Rp 2.627.000 per gram, sementara buyback berada di Rp 2.462.000.

IHSG Diproyeksi Sideways, Simak 6 Rekomendasi Saham dari BNI Sekuritas Selasa (22/9)

IHSG diproyeksi bergerak sideways pada perdagangan Selasa (22/9/2026).​ Cek rekomendasi saham dari BNI Sekuritas untuk hari ini.

IHSG Berpotensi Terkoreksi, Cek Rekomendasi Saham dari MNC Sekuritas (22/9)

IHSG berpotensi melanjutkan koreksi pada perdagangan Selasa (22/9/2026).​ Simak rekomendasi saham dari MNC Sekuritas untuk hari ini.

Puncak Kemarau, Hujan Lebat Masih Guyur 17 Provinsi Ini Selama 3 Hari ke Depan

Di tengah puncak musim kemarau, BMKG memperkirakan cuaca hujan lebat masih terjadi di 17 provinsi selama 22-24 September 2026.