MOMSMONEY.ID - Pembicaraan mengenai kesehatan reproduksi dan aktivitas seksual sering kali masih dianggap tabu di tengah masyarakat. Sehingga, akses terhadap informasi yang akurat secara medis menjadi terbatas.
Keterbatasan edukasi inilah yang memicu suburnya penyebaran berbagai mitos keliru yang diwariskan dari generasi ke generasi tanpa pernah dipertanyakan kebenarannya.
Memercayai asumsi yang salah tentang seks tidak hanya dapat merusak keharmonisan hubungan bersama pasangan, tetapi juga berisiko tinggi memicu kehamilan yang tidak direncanakan serta penularan Infeksi Menular Seksual (IMS).
Baca Juga: 4 Cara Menghilangkan Belang di Wajah dengan Cepat, Terbukti Ampuh!
Banyak sekali miskonsepsi seputar aktivitas seksual yang sama sekali tidak memiliki dasar ilmiah dan telah dibantah secara klinis.
Berikut beberapa mitos tentang seks yang tidak boleh dipercaya beserta faktanya sebagaimana dilansir dari World Health Organization (WHO) dan Planned Parenthood.
1. Wanita Tidak Bisa Hamil Saat Melakukan Seks untuk Pertama Kalinya
Salah satu mitos klasik tentang seks yaitu wanita aman dari risiko kehamilan jika baru pertama kali melakukan hubungan seksual. Mitos ini sama sekali tidak benar dan sangat berbahaya.
Secara biologis, kehamilan ditentukan oleh terjadinya proses ovulasi (pelepasan sel telur) dan bertemunya sel telur tersebut dengan sperma, bukan berdasarkan frekuensi atau berapa kali seseorang telah melakukan hubungan intim.
Jika seorang wanita telah memasuki masa pubertas, sudah mengalami menstruasi, dan melakukan hubungan seks tanpa pelindung pada masa suburnya, maka peluang terjadinya pembuahan tetaplah besar, meskipun itu adalah pengalaman pertamanya.
2. Hubungan Seks Saat Menstruasi 100% Aman dari Risiko Kehamilan
Banyak pasangan yang memercayai bahwa periode menstruasi adalah waktu "bebas" yang sepenuhnya aman untuk berhubungan intim tanpa alat kontrasepsi jika ingin menghindari kehamilan.
Faktanya, meski kemungkinannya lebih rendah, kehamilan saat menstruasi tetap bisa terjadi. Sperma yang masuk ke dalam tubuh wanita dapat bertahan hidup di dalam saluran reproduksi yang hangat hingga 5 hari.
Jika seorang wanita memiliki siklus menstruasi yang cenderung pendek atau tidak teratur, masa ovulasi (subur) bisa terjadi sangat cepat sesaat setelah darah haid berhenti mengalir. Akibatnya, sperma yang masih bertahan hidup di dalam rahim dapat langsung membuahi sel telur yang baru lepas tersebut.
Baca Juga: Apa Itu Jerawat Nasi? Ini 4 Penyebab dan Cara Menghilangkannya dengan Tepat
3. Metode "Keluar di Luar" (Pull-Out Method) Efektif Mencegah Kehamilan
Metode senggama terputus atau menarik alat kelamin pria keluar sebelum terjadinya ejakulasi, sering kali diandalkan sebagai metode kontrasepsi alami yang praktis. Namun, para pakar kesehatan seksual menegaskan bahwa metode ini memiliki tingkat kegagalan yang sangat tinggi
Sebelum pria mencapai puncak ejakulasi, penis akan mengeluarkan cairan pra-ejakulasi (pre-cum) yang berfungsi sebagai pelumas alami. Riset laboratorium menunjukkan bahwa cairan pra-ejakulasi ini biasanya sudah mengandung ribuan sel sperma yang aktif dan sehat.
Selain itu, metode ini membutuhkan kontrol diri yang sangat tinggi dari pria. Keterlambatan dalam hitungan detik saja saat menarik keluar dapat membuat sperma masuk ke dalam rahim.
4. Malam Pertama Harus Selalu Ditandai dengan Keluarnya Darah
Mitos bahwa seorang wanita pasti akan mengeluarkan darah pada malam pertama pernikahan sebagai bukti keperawanan adalah salah satu miskonsepsi paling keliru yang merusak hubungan dan memicu stigma psikologis negatif.
Secara anatomis, selaput dara (hymen) bukanlah segel rapat yang menutup total saluran vagina, melainkan jaringan tipis elastis yang memiliki bentuk dan ketebalan berbeda pada setiap wanita. Beberapa wanita terlahir dengan selaput dara yang sangat tipis, elastis, atau bahkan hampir tidak memiliki selaput dara sejak lahir.
Selain itu, robek atau meregangnya jaringan ini bisa terjadi jauh sebelum menikah akibat aktivitas non-seksual seperti bersepeda, berkuda, senam lantai, atau penggunaan tampon. Pendarahan pada hubungan intim pertama lebih sering dipicu oleh rasa cemas yang membuat otot vagina menegang dan kurangnya pelumasan alami yang memicu luka gesek ringan.
Itulah 4 mitos tentang seks yang tidak boleh dipercaya beserta faktanya. Jangan ragu untuk mendiskusikan kesehatan seksual secara terbuka dengan pasangan dan berkonsultasi kepada dokter spesialis kandungan atau andrologi guna mendapatkan informasi medis yang valid, alih-alih memercayai rumor yang beredar di internet.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News