MOMSMONEY.ID - Kenali 10 kebiasaan keuangan sederhana untuk mengurangi kebocoran uang dan membuat kondisi finansial lebih teratur.
Banyak orang merasa penghasilannya cukup, tetapi tetap kehabisan uang sebelum gajian berikutnya. Kondisi ini tidak selalu terjadi karena gaji terlalu kecil, melainkan karena uang yang masuk tidak dikelola dengan baik.
Melansir dari New Trader U, ada sejumlah kebiasaan sederhana yang dapat membantu mengurangi kebocoran keuangan secara bertahap.
Mulai dari menabung otomatis, mengendalikan utang, hingga lebih bijak saat berbelanja, kebiasaan tersebut bisa disesuaikan dengan kondisi setiap keluarga di Indonesia.
“Keuangan yang lebih sehat dapat dibangun dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten,” dikutip dari New Trader U.
Baca Juga: Berapa Persen Gaji Suami untuk Dana Pendidikan Anak? Ini Patokan yang Bisa Dipakai
Menabung sebelum membelanjakan uang
Jangan selalu menunggu sisa uang di akhir bulan untuk ditabung karena sering kali tidak ada yang tersisa. Cobalah mengatur transfer otomatis pada hari gajian ke rekening tabungan.
Target 15% hingga 20% dari penghasilan bersih dapat dijadikan acuan. Namun, jika belum memungkinkan, mulai saja dari 5% dan tingkatkan perlahan.
Lunasi utang berbunga tinggi
Utang dengan bunga tinggi dapat membuat kondisi keuangan sulit berkembang. Semakin lama utang dibiarkan, semakin besar biaya yang harus dibayar.
Ada dua cara yang bisa digunakan:
- Debt avalanche, yaitu melunasi utang dengan bunga paling tinggi terlebih dahulu.
- Debt snowball, yaitu menyelesaikan utang dengan saldo paling kecil lebih dulu.
Pilih cara yang paling mudah dijalankan secara konsisten.
Siapkan dana darurat
Dana darurat penting untuk menghadapi kejadian yang tidak direncanakan, seperti kendaraan rusak, kehilangan pekerjaan, atau kebutuhan rumah tangga mendadak.
Acuan yang digunakan dalam data sumber adalah tiga sampai enam bulan pengeluaran pokok. Jika terasa berat, mulai dari dana sebesar satu bulan pengeluaran terlebih dahulu.
Simpan dana tersebut di tempat yang aman dan mudah dicairkan. Tujuan utamanya adalah menjaga kebutuhan penting tetap terpenuhi, bukan mengejar keuntungan.
Jangan berlebihan mengambil cicilan rumah dan kendaraan
Rumah dan kendaraan biasanya menjadi dua pengeluaran besar dalam keluarga. Cicilan yang terlalu tinggi dapat membuat ruang untuk menabung semakin sempit.
Data sumber menyebut sekitar 28% dari pendapatan kotor sebagai salah satu acuan biaya perumahan. Meski begitu, setiap keluarga memiliki kondisi berbeda sehingga angka tersebut tidak perlu dianggap sebagai aturan mutlak.
Untuk kendaraan, jangan hanya menghitung cicilan. Perhatikan pula biaya bahan bakar, perawatan, pajak, asuransi, dan penyusutan.
Baca Juga: Cara Lindungi Keuangan Rumah Tangga dari Penipuan Digital saat HP Hilang
Kendalikan kenaikan gaya hidup
Ketika pendapatan bertambah, keinginan untuk meningkatkan gaya hidup biasanya ikut muncul. Masalahnya, jika seluruh tambahan penghasilan langsung habis untuk konsumsi, kondisi keuangan bisa tetap terasa sama.
Salah satu cara yang bisa dicoba adalah menyisihkan setidaknya separuh dari kenaikan penghasilan untuk tabungan atau investasi, lalu menggunakan sisanya sesuai kebutuhan dan keinginan.
Manfaatkan fasilitas dari tempat kerja
Jika tempat kerja menyediakan program kontribusi atau manfaat finansial tertentu, pahami aturan dan manfaatnya. Jangan sampai fasilitas yang tersedia justru tidak digunakan.
Untuk pembaca Indonesia, bentuk program tersebut tentu tidak selalu sama dengan 401(k), 403(b), Roth IRA, atau HSA yang disebut dalam sumber. Prinsipnya adalah memanfaatkan fasilitas kesejahteraan finansial yang memang tersedia sesuai aturan.
Mulai memiliki aset
Tidak semua uang tambahan harus digunakan untuk membeli barang konsumtif. Setelah kebutuhan pokok dan dana darurat terpenuhi, sebagian dana dapat dipertimbangkan untuk membangun aset sesuai tujuan dan profil risiko.
Pilihan aset sangat beragam dan masing-masing memiliki risiko. Karena itu, jangan menganggap investasi sebagai cara mendapatkan keuntungan yang pasti.
Perhatikan kekayaan bersih
Gaji bukan satu-satunya ukuran kondisi keuangan. Kekayaan bersih juga perlu diperhatikan karena menunjukkan selisih antara seluruh aset dan kewajiban.
Rumus sederhananya:
- Kekayaan bersih = total aset - total utang
Coba catat jumlah tersebut setiap tiga bulan. Dari sana, Anda bisa melihat apakah aset bertambah, utang berkurang, atau justru terjadi perubahan yang perlu diperbaiki.
Beri jeda sebelum membeli
Pembelian impulsif semakin mudah dilakukan karena transaksi online hanya membutuhkan beberapa klik. Untuk menguranginya, gunakan aturan menunggu 48 jam sebelum membeli barang yang tidak penting.
Data sumber menggunakan batas US$100. Jika memakai ilustrasi kurs Rp16.000 per US$1, nilainya sekitar Rp1,6 juta.
Baca Juga: 3 Aturan Keuangan dari Suze Orman Ini Bisa Bantu Atur Uang Lebih Bijak
Selama menunggu, tanyakan kembali:
- Apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan?
- Seberapa sering akan digunakan?
- Apakah pembelian mengganggu anggaran?
- Adakah kebutuhan lain yang lebih penting?
- Jangan mengejar gaya hidup orang lain
Melihat orang lain membeli kendaraan, gadget, atau berlibur bisa membuat seseorang merasa harus melakukan hal yang sama. Padahal, kondisi keuangan setiap orang berbeda dan apa yang terlihat dari luar belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya.
Lebih baik fokus pada tujuan pribadi, seperti memiliki tabungan yang cukup, utang terkendali, dan dana cadangan untuk menghadapi keadaan tidak terduga.
Cara menerapkannya tanpa terasa berat
Tidak perlu mengubah semua kebiasaan dalam satu bulan. Justru lebih mudah jika dilakukan secara bertahap.
- Mulai dengan mencatat pemasukan, pengeluaran, dan utang.
- Prioritaskan pelunasan utang berbunga tinggi.
- Sisihkan dana darurat secara rutin.
- Buat transfer tabungan otomatis setelah menerima gaji.
- Evaluasi cicilan rumah dan kendaraan.
- Tahan pembelian besar yang tidak mendesak selama 48 jam.
- Pantau kekayaan bersih setiap tiga bulan.
Mengatur keuangan bukan hanya soal mendapatkan penghasilan lebih besar. Cara menggunakan uang setelah menerima gaji juga memiliki peran penting dalam menentukan kondisi finansial.
Menabung lebih awal, mengendalikan utang, membangun dana darurat, menjaga gaya hidup, dan memiliki aset merupakan beberapa kebiasaan yang bisa diterapkan secara bertahap.
Tidak perlu langsung menjalankan semuanya sekaligus karena konsistensi jauh lebih penting daripada perubahan besar yang hanya bertahan sebentar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News