MOMSMONEY.ID - Wabah Ebola virus Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo makin mengganas, dengan penularan berkelanjutan yang menyebabkan peningkatan kasus dan kematian.
Mengutip siaran pers Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hingga 15 Juli 2026, total 2.124 kasus ebola Bundibugyo terkonfirmasi, termasuk 828 kematian, dilaporkan dari Republik Demokratik Kongo.
Itu berarti, sejak 3 Juli, ada tambahan 664 kasus ebola Bundibugyo terkonfirmasi, termasuk 376 kematian, di Republik Demokratik Kongo.
"Peningkatan ini sebagian disebabkan oleh peningkatan kegiatan pengawasan, pengujian, dan kapasitas diagnostic," kata WHO.
Kasus ebola Bundibugyo Republik Demokratik Kongo menyebar di 46 zona kesehatan yang ada lima provinsi.
Baca Juga: Wabah Ebola di Afrika Menyebar dengan Cepat, WHO Mengerek Risiko Jadi Sangat Tinggi
Sementara pada 13 Juli 2026, otoritas Jerman memberi tahu WHO tentang kasus Ebola yang dikonfirmasi laboratorium yang disebabkan virus Bundibugyo pada seorang pekerja kemanusiaan dari Amerika Serikat (AS) yang dievakuasi secara medis dari Republik Demokratik Kongo.
"Ini adalah warga negara Amerika Serikat kedua yang dirawat di Jerman, yang mencerminkan upaya respons internasional yang berkelanjutan," sebut WHO.
Di Uganda, tidak ada kasus baru yang dilaporkan sejak 21 Juni 2026. Kasus terbaru dipulangkan dari pusat perawatan pada 16 Juli setelah dua hasil tes negatif.
Oleh karena itu, Uganda telah memulai periode pengawasan intensif selama 42 hari yang diperlukan sebelum berakhirnya wabah bisa diumumkan.
Otoritas nasional di Uganda dan Republik Demokratik Kongo, bekerjasama dengan WHO dan para mitra, terus menerapkan langkah-langkah respons yang ekstensif.
Baca Juga: WHO Tetapkan Wabah Ebola Sebagai Keadaan Darurat, Tingkat Kematian 50%
"Kerangka kerja kesiapan dan prioritas regional terus memandu kegiatan kesiapan di seluruh Kawasan Afrika," imbuh WHO.
Bundibugyo merupakan spesies virus Ebola yang belum memiliki vaksin atau terapi yang disetujui.
"Mengingat semua risiko ini, saya memutuskan, sangat mendesak untuk bertindak segera untuk mencegah lebih banyak kematian dan memobilisasi respons internasional yang efektif," tegas Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Pada 17 Mei 2026, Tedros menyatakan keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional atas epidemi Ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda.
"Ini adalah pertama kalinya seorang Direktur Jenderal WHO menyatakan keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional sebelum mengadakan Komite Darurat," ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News