MOMSMONEY.ID - Kesehatan mental khusunya gangguan kecemasan ternyata juga menjadi persoalan menjelang Lebaran. Kenali penyebab dan cara mengatasi gangguan kecemasan berikut ini, yuk.
Selama bulan Ramadan, perhatian terhadap kesehatan umumnya lebih banyak tertuju pada kondisi fisik, seperti menjaga pola makan dan daya tahan tubuh saat berpuasa.
Padahal, perubahan ritme aktivitas, tekanan sosial, hingga tantangan emosional selama Ramadan juga dapat memengaruhi kesehatan mental, terutama terkait gangguan kecemasan.
Data Halodoc pada Ramadan 2025 menunjukkan, ada peningkatan konsultasi terkait kecemasan yang terjadi secara bertahap sepanjang bulan puasa.
“Konsultasi terkait kecemasan naik 17% pada minggu pertama Ramadan dan mencapai puncaknya pada minggu ketiga dengan kenaikan hingga 27% dibanding rata-rata mingguan sebelum Ramadan,” ujar Fibriyani Elastria, Chief Marketing Officer Halodoc dalam acara Halodoc Talk di Jakarta, Selasa (10/3).
Menurutnya, tren tersebut menunjukkan, tekanan psikologis tidak hanya muncul pada fase awal adaptasi berpuasa. Seiring waktu, beban emosional dapat terakumulasi akibat kelelahan, meningkatnya aktivitas sosial, serta persiapan menjelang Idulfitri.
Baca Juga: Gangguan Kecemasan Ramadan, Ini Risiko Kesehatan Mental Anda
Analisis data konsultasi juga menunjukkan, gangguan tidur menjadi gejala yang paling sering dilaporkan oleh pasien. Keluhan lain yang kerap muncul adalah gejala psikosomatik seperti jantung berdebar dan sesak di dada.
Pola ini menandakan, kecemasan tidak hanya berdampak secara emosional, tetapi juga memicu reaksi fisik pada tubuh.
Jika ditelusuri lebih jauh, tekanan relasi keluarga atau pasangan menjadi pemicu terbesar gangguan kecemasan selama Ramadan, dengan kontribusi sekitar 58% dari total konsultasi.
“Misalnya, saat bertemu keluarga besar nanti akan ditanya sudah menikah atau belum, sudah punya pasangan atau belum, kapan punya anak, atau soal pekerjaan dan rencana kuliah. Hal-hal seperti ini sering kali sudah diantisipasi sejak jauh hari karena momennya semakin dekat,” sebutnya.
Fibriyani mengatakan, bayangan terhadap percakapan tersebut dapat memicu kecemasan bahkan sebelum pertemuan benar-benar terjadi.
“Orang sudah membayangkan pertanyaan yang mungkin muncul dan berpikir bahwa nanti akan menghadapi situasi itu lagi. Antisipasi seperti ini yang akhirnya memicu rasa cemas,” katanya.
Baca Juga: Ramadan Bikin Mudah Impulsif di Media Sosial, Begini Penjelasan Psikolog
Selain itu, sekitar 16% kasus kecemasan dipicu oleh luka emosional dan kenangan masa lalu. Suasana kekeluargaan yang kuat selama Ramadan dan Idulfitri sering kali memunculkan kembali ingatan tentang kehilangan anggota keluarga atau pengalaman emosional yang belum sepenuhnya pulih.
Perubahan pola hidup selama Ramadan juga turut memengaruhi kondisi psikologis. Sekitar 11% pasien melaporkan kecemasan yang berkaitan dengan pergeseran jadwal tidur, pola makan, hingga konsumsi kafein yang berlebihan. Kondisi ini dapat memicu kelelahan serta mengganggu ritme hormon stres dalam tubuh.
Faktor ekonomi turut menjadi sumber tekanan tersendiri. Sekitar 10% konsultasi berkaitan dengan kekhawatiran terhadap kondisi keuangan dan kebutuhan keluarga menjelang Idulfitri.
Sementara itu, kesepian yang dialami perantau juga menjadi pemicu kecemasan pada sebagian orang. Sekitar 5% pasien mengaku merasa hampa karena tidak dapat pulang atau berkumpul dengan keluarga saat hari raya.
Dari sisi tenaga profesional, sebagian besar konsultasi terkait kecemasan ditangani oleh psikiater, yakni sekitar 61%, sementara 33% lainnya ditangani oleh psikolog klinis.
Menurut Halodoc, konsultasi dengan psikiater meningkat stabil sepanjang Ramadan, menandakan adanya pergeseran perilaku pasien yang tidak hanya mencari dukungan emosional, tetapi juga mulai mempertimbangkan penanganan medis.
Baca Juga: 14 Manfaat Olahraga secara Rutin bagi Kesehatan Tubuh dan Mental
Kondisi ini menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya penanganan kesehatan mental, terutama ketika kecemasan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Untuk membantu mengelola kecemasan selama Ramadan, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan.
Salah satunya adalah memberikan ruang jeda psikologis di tengah aktivitas sosial, misalnya dengan melakukan refleksi pribadi atau menulis jurnal untuk memahami perasaan yang muncul.
Selain itu, penting untuk mengambil langkah kecil dalam menghadapi sumber kecemasan, serta mempelajari teknik relaksasi seperti pernapasan dalam atau metode grounding untuk menenangkan pikiran.
Menjaga pola hidup sehat juga berperan penting, termasuk memastikan kualitas tidur yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta rutin berolahraga agar kondisi fisik dan mental tetap terjaga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News