MOMSMONEY.ID - Ramadan dikenal sebagai bulan menahan diri. Namun, di ruang digital, banyak orang justru lebih cepat bereaksi. Jempol gesit berkomentar, emosi mudah terpancing, bahkan sebelum informasi dipahami utuh.
Data Digital 2025 Global Overview Report mencatat, masyarakat Indonesia usia 16 tahun ke atas rata-rata menghabiskan 7 jam 22 menit per hari di internet. Dalam arus secepat ini, respons instan terasa normal.
Psikolog Klinis Rika Ermasari, S.Psi. dari ACC menjelaskan, paparan digital yang intens membuat otak mengalami overstimulasi.
“Paparan digital yang intens membuat otak mengalami overstimulasi sehingga rentang perhatian menjadi lebih pendek,” ujarnya dalam keterangan resmi Senin (2/3).
Banyaknya keputusan kecil seperti scroll, klik, atau balas komentar juga memicu decision fatigue.
“Saat energi menurun, kapasitas mental ikut turun sehingga keputusan lebih mudah didasari emosi dan menjadi lebih impulsif,” jelas Rika.
Baca Juga: Mengenal 5 Jenis Newsfluencer, Wajah Baru Pemberitaan di Era Media Sosial
Kondisi puasa, mulai dari perubahan jam tidur hingga fluktuasi emosi, bisa membuat respons makin emosional, termasuk mudah terpancing isu viral atau tergoda promo.
Agar tidak reaktif, Rika menyarankan beberapa langkah sederhana:
-
Berhenti sejenak sebelum klik atau kirim
-
Tarik napas perlahan saat emosi naik
-
Lakukan peregangan singkat
-
Tunda share atau checkout beberapa detik
“Refleksi membutuhkan jeda. Dengan memberi ruang untuk berhenti sejenak sebelum bertindak, kita membantu diri kembali lebih sadar dan tidak semata reaktif,” tutupnya.
Di tengah budaya serba cepat, kemampuan untuk berhenti justru jadi kunci kendali, termasuk saat Ramadan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News