MOMSMONEY.ID - Menjadi voice actor bisa menjadi salah satu pilihan karier di industri kreatif. Apalagi, perkembangan konten digital, termasuk drama vertikal, turut membuka kesempatan bagi pengisi suara. Namun, ada sejumlah bekal yang perlu dipersiapkan sebelum terjun ke industri ini.
Speaking Trainer & Voice Actor Iyok Baswara mengatakan, kemampuan utama yang perlu dimiliki calon voice actor justru adalah keterampilan berakting.
“Menurut saya, yang paling utama adalah kemampuan berakting. Kita harus mampu memerankan karakter sesuai kebutuhan,” kata Iyok kepada KONTAN belum lama ini.
Iyok sendiri telah mengenal industri voice over sejak 2009 ketika masih beraktivitas di radio. Ia kemudian mulai bekerja secara profesional sebagai voice actor pada 2013 dan kini juga aktif sebagai speaking trainer.
Menurutnya, pemula sering kali terlalu fokus pada teknik mengolah suara. Padahal, sebelum mempelajari teknik vokal secara lebih mendalam, seseorang perlu memahami bagaimana menghidupkan karakter.
Baca Juga: Kulik Peluang Menjadi Financial Advisor yang Sering Jadi Profesi Perempuan
Dalam sebuah produksi, voice actor tidak hanya diminta membacakan naskah. Mereka juga harus memahami situasi, emosi, dan karakter yang diperankan.
“Akting bukan sekadar berpura-pura menjadi orang lain atau memakai topeng. Akting adalah menempatkan diri dalam situasi dan kondisi yang sesuai dengan peran,” ujarnya.
Kemampuan tersebut juga penting karena seorang voice actor bisa saja mengisi suara lebih dari satu karakter dalam satu produksi. Ada yang hanya memerankan satu tokoh, tetapi ada pula yang mengisi suara dua hingga tiga karakter sesuai kebutuhan produksi.
Karena itu, Iyok menekankan bahwa kunci voice acting bukan sekadar kemampuan mengubah-ubah suara. Yang lebih penting adalah bagaimana membuat karakter tersebut terasa hidup melalui suara.
Ekspresi wajah pun tetap memiliki peran, meski wajah voice actor tidak terlihat oleh penonton. Ketika seseorang benar-benar memahami situasi yang dialami karakternya, ekspresi dapat muncul secara alami dan turut memengaruhi suara yang dihasilkan.
Baca Juga: Perkembangan Dunia Profesi Menuntut Mahasiswa Terus Beradaptasi dengan Cara Ini
Setelah memiliki dasar keterampilan tersebut, pemula bisa mulai mempertimbangkan investasi peralatan. Mikrofon dan perangkat pendukung dapat disesuaikan dengan kebutuhan serta kemampuan finansial.
Namun, Iyok mengingatkan agar calon voice actor tidak terburu-buru mengutamakan perangkat keras.
“Soft skill tetap menjadi modal utama sebelum berinvestasi pada perangkat keras,” katanya.
Saat ini, peluang kerja voice actor datang dari berbagai jenis proyek, mulai dari film, iklan, narasi feature, company profile, safety briefing, hingga video edukasi.
Popularitas drama vertikal dari China, Korea, Thailand, India dan negara lain juga turut membuka lini pekerjaan baru. Iyok mengaku ada peningkatan aktivitas di industri seiring berkembangnya format tersebut, yang juga ditandai dengan munculnya sejumlah agensi dan rumah produksi baru.
Baca Juga: Mau Pindah Profesi? Ini 4 Cara Switch Career Tanpa Pengalaman yang Bisa Dicoba
Namun, calon voice actor juga perlu memahami tantangan industrinya. Salah satunya adalah persaingan yang semakin ketat karena jumlah talent terus bertambah, sementara pertumbuhan pekerjaan tidak selalu sebanding.
Kondisi tersebut membuat persaingan harga menjadi salah satu persoalan di industri voice over. Sistem tarif pun belum memiliki standar yang seragam. Ada pekerjaan yang dihitung berdasarkan jumlah kata, durasi, atau satuan lainnya.
Iyok sendiri menerapkan tarif per kata untuk sejumlah pekerjaan film, dengan tarif yang dipublikasikan berkisar Rp7.000 hingga Rp15.000 per kata. Sementara untuk drama vertikal, sistem tarif dapat berbeda-beda tergantung kesepakatan dengan klien.
Menurut Iyok, perkembangan industri dan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau AI, membuat voice actor perlu semakin mengandalkan keterampilan yang membedakan mereka dari sekadar suara biasa.
Karena itu, bagi pemula yang tertarik menekuni profesi ini, membangun kemampuan akting, memahami karakter, serta terus mengasah keterampilan menjadi langkah awal yang lebih penting daripada langsung membeli peralatan mahal.
Sebab, menjadi voice actor bukan sekadar berbicara di depan mikrofon. Ada kemampuan akting, proses kreatif, dan pemahaman terhadap nilai komersial dari suara yang perlu dibangun untuk menjadikannya sebagai karier.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News