MOMSMONEY.ID - PT Mirae Asset Sekuritas melihat pasar keuangan domestik masih menghadapi tekanan dari sentimen global yang belum sepenuhnya mereda. Kamis, (10/9), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1,33% ke level 6.589, disertai aksi jual bersih investor asing sebesar Rp748 miliar di pasar reguler.
Di tengah kondisi tersebut, investor dinilai perlu tetap selektif dengan mencermati fundamental dan perkembangan likuiditas domestik.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan tekanan terlihat pada saham perbankan, khususnya BBCA dan BBRI, yang sebelumnya menjadi salah satu penopang pasar.
Sementara itu, investor asing masih mengakumulasi sejumlah saham seperti ANTM, AADI, CUAN, dan PTBA, mengindikasikan adanya rotasi parsial menuju saham komoditas dan sektor tertentu.
“Sentimen global masih menantang seiring US10YT mendekati 5%, kenaikan drastis ECB menjadi 2,5%, serta harga minyak yang bertahan tinggi. Namun, transmisi ke pasar domestik sejauh ini relatif terbatas,” ujar Rully dalam keterangan tertulis, Jumat (11/9).
Menurut Rully, rupiah saat ini berada di sekitar Rp 17.547 per dolar AS dengan yield SBN 10 tahun sebesar 7,11%. Tidak adanya lelang SRBI sepanjang September turut mendorong realokasi likuiditas perbankan ke SBN.
Baca Juga: Ini Reksadana yang Menarik saat Rupiah dan Foreign Flow Menguat
Penguatan rupiah memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk mengurangi stance defensif dan melonggarkan kondisi likuiditas dalam jangka pendek, meski tekanan harga minyak dan global yields masih membatasi ruang pengelolaan melalui BI-Rate.
Di tengah dinamika pasar tersebut, perkembangan konsumsi domestik juga menjadi perhatian. Novani Karina Saputri, Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, mengatakan keyakinan konsumen mulai menunjukkan perbaikan, meski pemulihannya masih belum merata.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Agustus 2026 meningkat menjadi 118,5 dari 116,8 pada Juli. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini juga naik menjadi 109,4, sementara Indeks Ekspektasi Konsumen meningkat menjadi 127,6. Namun, masih terdapat selisih 18,2 poin antara persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi ke depan, menunjukkan bahwa konsumen masih melihat kondisi saat ini dengan lebih hati-hati.
“Perbaikan belum terjadi secara menyeluruh. Kelompok pengeluaran Rp 4,1 juta-Rp 5 juta justru menjadi satu-satunya kelompok yang mencatat penurunan keyakinan, sementara persepsi pasar tenaga kerja melemah pada responden berpendidikan universitas dan pascasarjana,” jelas Novani.
Novani juga menyoroti perubahan pola pengelolaan keuangan rumah tangga. Porsi tabungan turun paling besar pada rumah tangga dengan pengeluaran Rp 1 juta-Rp 4 juta, sementara konsumsi meningkat di hampir seluruh kelompok. Kondisi ini dapat menopang permintaan jangka pendek, tetapi penurunan tabungan juga menunjukkan bahwa buffer keuangan rumah tangga pada segmen tertentu semakin tipis.
Baca Juga: Analisis 5 Aplikasi Investasi Emas Terpercaya untuk Investor Digital
Dengan inflasi sebesar 3,19% secara tahunan, perkembangan tersebut perlu diperhatikan karena daya beli rumah tangga akan semakin bergantung pada kemampuan pendapatan untuk mengimbangi kenaikan harga.
Meski demikian, peningkatan keyakinan konsumen tetap menjadi sinyal positif bagi prospek konsumsi. Menurut Novani, pemulihan konsumsi yang berkelanjutan masih membutuhkan penguatan pendapatan riil, prospek ketenagakerjaan, dan stabilitas inflasi.
“Karena itu, kami mempertahankan strategi portofolio yang selektif dengan preferensi pada saham berfundamental kuat dan arus kas solid. RDPU tetap menjadi pilihan likuiditas anchor, sementara RDPT tetap favorable untuk akumulasi bertahap seiring membaiknya peluang di pasar obligasi,” tutup Novani.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News