MOMSMONEY.ID - Saat harga kebutuhan sehari-hari terus menjadi perhatian, konsumen Indonesia semakin ternyata selektif dalam membelanjakan uangnya. Namun, harga ternyata bukan satu-satunya hal yang memengaruhi keputusan konsumen saat memilih produk.
Berdasarkan Ipsos Global Consumer Confidence Index, Consumer Confidence Index Indonesia pada Agustus 2026 berada di angka 53,9. Indonesia menempati peringkat kelima dari 30 negara yang diukur, naik dari posisi ke-10 pada Juli 2026.
Meski mengalami perbaikan, kekhawatiran konsumen terhadap kondisi keuangan masih terlihat. Sebanyak 81% masyarakat Indonesia pada Agustus 2026 menyatakan khawatir terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok.
Kekhawatiran terhadap tingkat pengangguran juga meningkat menjadi 45%, dibandingkan dengan 35% pada April 2026.
Baca Juga: Pinterest Ungkap Tren Belanja Visual Gen Z, Fesyen dan Kecantikan Makin Diminati
Kondisi tersebut membuat masyarakat diperkirakan tetap berhati-hati dan selektif dalam berbelanja hingga akhir tahun.
Hansal Savla, Managing Director Ipsos Indonesia, mengatakan, perubahan sentimen tersebut perlu diperhatikan dalam memahami perilaku konsumen.
"Kita melihat, konsumen Indonesia yang tetap berhati-hati dan selektif dalam membelanjakan uangnya," katanya dalam keterangan resmi Rabu (23/9).
"Dalam kondisi seperti ini, brand perlu memahami bahwa pertumbuhan tidak hanya berbicara mengenai seberapa kuat sebuah brand di benak konsumen, tetapi juga bagaimana brand dapat hadir dan tetap relevan ketika konsumen membuat keputusan pembelian," ujar dia.
Selain soal harga, kemudahan menemukan produk juga dapat memengaruhi keputusan konsumen. Ipsos menemukan bahwa konteks pasar berperan penting dalam mengubah ketertarikan konsumen terhadap sebuah brand menjadi pembelian nyata.
Baca Juga: Tren Belanja Bergeser, Blibli Perkuat Ekosistem Omnichannel
Lioni Halim, Country Service Line Group Director – Brand Health Tracking & Creative Assessment Ipsos Indonesia, mengungkapkan, terdapat kesenjangan antara brand yang disukai konsumen dan performanya di pasar.
"Sering kali terdapat kesenjangan antara preferensi terhadap sebuah brand dengan pangsa pasar yang sebenarnya. Pertumbuhan terjadi ketika brand mampu membangun keinginan konsumen terhadap brand tersebut, sekaligus membuat konsumen lebih mudah untuk membeli melalui faktor-faktor pasar yang tepat," ungkapnya.
Menurut Lioni, distribusi dan assortment atau pilihan produk memiliki pengaruh lebih besar dibandingkan promosi dan harga dalam mendorong pertumbuhan.
"Brand yang kuat mampu menciptakan keinginan di benak konsumen. Namun, untuk memenangkan pertumbuhan, brand juga perlu memastikan bahwa konsumen dapat dengan mudah menemukan dan membeli produk tersebut. Di sinilah brand equity perlu bertemu dengan konteks pasar," tambah Lioni.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News