MOMSMONEY.ID - Kesenjangan kualitas pendidikan masih menjadi tantangan di sejumlah daerah di Indonesia. Meski akses terhadap pendidikan dasar relatif memadai, capaian literasi dan numerasi siswa sekolah dasar (SD) belum merata.
Pemanfaatan teknologi digital pun dinilai berpotensi menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Hal tersebut terungkap dalam studi yang dilakukan perusahaan teknologi pendidikan Enuma bersama Telaah Institute bertajuk “Membangun Ekosistem Pembelajaran Digital yang Berkelanjutan: Pelajaran dari Sembilan Daerah”.
Studi yang berlangsung selama tiga bulan tersebut memetakan prioritas pendidikan dan kesiapan implementasi pembelajaran digital di sembilan wilayah, yakni Kabupaten Aceh Utara, Bogor, Manggarai, PALI, Pelalawan, Tangerang, serta Kota Balikpapan, Denpasar, dan DKI Jakarta.
Penelitian ini melibatkan 26 responden yang mewakili sembilan wilayah tersebut.
Hasilnya, enam daerah memiliki capaian literasi dan numerasi di bawah rata-rata nasional. Dalam aspek literasi, proporsi SD yang mencapai kompetensi minimum berkisar antara 16% hingga 81%.
Capaian tertinggi tercatat di DKI Jakarta sebesar 80,6%, Denpasar 79,3%, dan Balikpapan 73%. Sebaliknya, enam daerah, yakni Kabupaten Bogor, Aceh Utara, Tangerang, Pelalawan, Manggarai, dan PALI, memiliki 46% SD yang masuk kategori kurang.
Baca Juga: Pendidikan Inklusif Tak Hanya di Ruang Kelas, Ini Contohnya
Kesenjangan juga terlihat pada kemampuan numerasi. Hanya DKI Jakarta dengan capaian 56,9% dan Denpasar sebesar 51,9% yang memiliki lebih dari separuh SD dalam kategori baik.
Direktur Utama Enuma Indonesia Juli Adrian mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan kompetensi dasar anak masih menjadi pekerjaan rumah di berbagai daerah.
Menurut dia, platform pembelajaran digital berpotensi membantu meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi dengan menyesuaikan kebutuhan masing-masing siswa.
“Melalui hasil studi yang kami lakukan, platform pembelajaran digital memiliki potensi untuk meningkatkan pembelajaran anak, terutama kemampuan literasi dan numerasi sebagai kompetensi dasar,” ujar Juli dalam Peluncuran studi Regional Digital Learning Ecosystem and Policy Readiness Study di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Selain memetakan capaian pendidikan, studi tersebut mengelompokkan kesiapan sembilan daerah dalam mengadopsi pembelajaran digital ke dalam empat tahapan.
Sebanyak satu daerah masih berada pada tahap Fondasi Dasar, empat daerah pada tahap Perangkat Hadir, dua daerah pada tahap Pemanfaatan Berjalan, dan dua daerah lainnya telah mencapai tahap Ekosistem Berjalan.
Perbedaan kesiapan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor. Beberapa daerah masih memprioritaskan pemenuhan infrastruktur dasar, sementara keterbatasan perangkat membuat penggunaannya harus bergantian antarkelas.
Baca Juga: Siswa SMA Adu Ide Inovatif, dari Solusi Air Bersih hingga Energi Berkelanjutan
Selain itu, kemampuan sebagian guru dalam mengadopsi pembelajaran digital masih perlu diperkuat. Dari sisi kebijakan dan pembiayaan, implementasi program juga bergantung pada prioritas belanja masing-masing pemerintah daerah.
Juli berharap hasil studi tersebut dapat menjadi masukan bagi pemerintah pusat dan daerah dalam memperluas pemanfaatan teknologi untuk pendidikan. Enuma juga berharap dapat mendukung program prioritas digitalisasi pembelajaran yang dijalankan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Salah satu upaya yang ingin didorong perusahaan adalah memperluas pelatihan bagi guru agar pemanfaatan platform pembelajaran digital bisa berjalan lebih efektif.
Menurut Juli, perluasan implementasi secara nasional membutuhkan dukungan platform dan ekosistem yang dimiliki pemerintah. Sebab, perusahaan teknologi pendidikan tidak bisa bekerja sendiri untuk menjangkau seluruh wilayah Indonesia.
Mengandalkan konten interaktif dan gamifikasi
Di tengah banyaknya platform teknologi pendidikan, Juli menjelaskan bahwa Enuma mengambil fokus pada penyediaan konten pembelajaran. Hal ini berbeda dengan sejumlah produk digital lain yang lebih menitikberatkan pada penyediaan learning management system (LMS) atau sistem administrasi sekolah.
Melalui platform Sekolah Enuma, perusahaan menyediakan materi pembelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris yang disesuaikan dengan kurikulum Indonesia.
Salah satu pembeda yang ditawarkan adalah penggunaan metode gamifikasi atau pembelajaran melalui permainan. Pendekatan ini diharapkan membuat anak lebih tertarik mengikuti proses belajar, terutama siswa SD kelas awal.
Baca Juga: Sebelum Daftar Kuliah S2, Cek 5 Hal Ini agar Kuliah Tak Jadi Beban Finansial
Selain itu, aplikasi Sekolah Enuma dapat diakses secara luring atau tanpa koneksi internet. Fitur tersebut ditujukan untuk membantu sekolah di daerah yang masih menghadapi keterbatasan akses internet.
Juli menjelaskan, penggunaan aplikasi juga dirancang agar tidak membuat anak menghabiskan terlalu banyak waktu di depan layar. Enuma merekomendasikan penggunaan maksimal tiga hari dalam sepekan, dengan tiga mata pelajaran yang dapat dipelajari secara bergantian.
Pembelajaran juga bersifat personal sehingga siswa dapat memilih mata pelajaran sesuai minat dan kecepatan belajarnya masing-masing. Dengan demikian, dalam satu kelas, setiap anak tidak harus mempelajari materi yang sama pada waktu bersamaan.
Menurut Juli, pendekatan tersebut dapat membantu guru mengakomodasi perbedaan kemampuan siswa yang selama ini kerap sulit ditangani dalam pembelajaran konvensional.
Dari hasil pengamatan kualitatif Enuma di lapangan, pendekatan gamifikasi dan tampilan aplikasi yang menarik menjadi salah satu faktor yang membuat anak tertarik belajar menggunakan platform tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News