MOMSMONEY.ID - Anda berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang S2? Jangan buru-buru memilih program hanya karena nama besar kampus atau posisi dalam pemeringkatan.
Kuliah S2 merupakan keputusan yang membutuhkan investasi cukup besar, bukan hanya dari sisi biaya pendidikan, tetapi juga waktu dan kesempatan yang mungkin harus dikorbankan selama menjalani studi.
Oleh karena itu, calon mahasiswa perlu melihat apakah program yang dipilih benar-benar memberikan manfaat yang sebanding dengan investasi tersebut.
Pembahasan mengenai hal ini turut muncul dalam diskusi mengenai pendidikan bisnis dan kebutuhan industri. Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat manfaat pendidikan lanjutan adalah return on investment (ROI).
Dalam konteks pendidikan, ROI tidak hanya berkaitan dengan kenaikan pendapatan setelah lulus. Manfaatnya juga dapat berupa peningkatan reputasi profesional, perluasan jaringan, peluang promosi, hingga kemampuan beradaptasi dengan kebutuhan industri.
Baca Juga: Ini Cara Kuliah 2 Tahun di Indonesia dan 2 Tahun di China, Bisa Dapat Dua Gelar
Lantas, apa saja yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan mengambil S2? Prof. Dezie Leonarda Warganegara, Ph.D. dan Dr. Asnan Furianto dalam diskusi BINUS Business School memberikan tipsnya sebagai berikut:
1. Hitung biaya kuliah dan biaya kesempatan
Jangan hanya menghitung uang kuliah. Calon mahasiswa juga perlu memperhitungkan biaya lain seperti transportasi, tempat tinggal, buku, hingga kebutuhan pendukung selama studi.
Selain itu, ada opportunity cost yang perlu dipikirkan, terutama bagi pekerja. Waktu yang digunakan untuk kuliah bisa mengurangi waktu untuk bekerja, mengambil proyek tambahan, atau mengejar peluang karier lainnya.
Dengan begitu, calon mahasiswa dapat mengetahui berapa besar investasi yang sebenarnya dikeluarkan untuk memperoleh gelar tersebut.
2. Lihat prospek karier setelah lulus
Gelar S2 sebaiknya tidak dipandang sebagai tujuan akhir. Pertanyaan yang lebih penting adalah, posisi atau peluang apa yang ingin dikejar setelah lulus?
Salah satu indikator dalam QS Global MBA Rankings adalah employability, yang berkaitan dengan daya saing dan kemampuan lulusan beradaptasi dengan kebutuhan industri.
Artinya, calon mahasiswa perlu melihat apakah kurikulum dan metode pembelajaran sebuah program memang relevan dengan bidang pekerjaan yang dituju.
Baca Juga: Biaya Jadi Tantangan Kuliah, Beasiswa Bisa Jadi Salah Satu Solusi
3. Periksa seberapa relevan kurikulumnya dengan industri
Dunia kerja berubah cepat, terutama dengan perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI).
Perubahan teknologi disebut membuat kesenjangan antara pendidikan dan kebutuhan industri semakin cepat berubah. Salah satu cara yang dilakukan institusi pendidikan adalah memperbarui kurikulum secara berkala berdasarkan masukan dari pelaku industri.
Bagi calon mahasiswa, hal ini bisa menjadi pertimbangan ketika membandingkan program S2.
Cek mata kuliah yang ditawarkan, keterlibatan praktisi dalam pembelajaran, hingga kesempatan mengerjakan proyek yang berkaitan dengan persoalan nyata di industri.
4. Jangan abaikan networking
Nilai pendidikan lanjutan tidak selalu berhenti pada materi yang dipelajari di kelas.
Jaringan dengan dosen, teman kuliah, alumni, maupun pelaku industri juga dapat menjadi aset dalam perjalanan karier.
Karena itu, calon mahasiswa sebaiknya mencari tahu apakah program yang dituju memiliki komunitas alumni yang aktif serta kesempatan berinteraksi dengan profesional dari berbagai sektor.
Networking memang tidak bisa langsung diterjemahkan menjadi nominal rupiah. Namun, jaringan profesional dapat membuka akses terhadap informasi pekerjaan, kolaborasi, maupun peluang bisnis.
Baca Juga: AI Ubah Dunia Kerja? Begini Cara Orang Tua Menyiapkan Anak Kuliah
5. Bandingkan dengan pilihan lain, termasuk kuliah di luar negeri
Kuliah di luar negeri sering kali dianggap memberikan nilai tambah tersendiri. Namun, keputusan tersebut tetap perlu dibandingkan dengan biaya dan manfaat yang diperoleh.
Dalam diskusi tersebut, manfaat pendidikan di luar negeri juga dikaitkan dengan biaya yang lebih besar serta konsekuensi lain seperti harus berpindah negara dan meninggalkan pekerjaan.
Artinya, pilihan terbaik tidak selalu merupakan program dengan reputasi paling tinggi atau lokasi paling jauh.
Calon mahasiswa perlu membandingkan total biaya, kualitas pendidikan, peluang networking, relevansi dengan karier, serta manfaat yang mungkin diperoleh setelah lulus.
Pada akhirnya, ranking kampus dapat menjadi salah satu referensi, tetapi bukan satu-satunya dasar keputusan.
BINUS Business School sendiri pada QS Global MBA Rankings 2027 tercatat berada di peringkat 191-200 dunia dan peringkat 27 di Asia. Pemeringkatan tersebut menggunakan lima indikator, yakni employability, return on investment, thought leadership, entrepreneurship & alumni outcome, serta diversity.
Jadi, poin mana saja yang sudah Anda penuhi?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News