MOMSMONEY.ID - JAKARTA. Pengelolaan air menjadi salah satu tantangan yang semakin penting bagi sekolah, terutama di tengah perubahan iklim yang menyebabkan pola curah hujan kian tidak menentu. Saat musim hujan, intensitas air yang tinggi berpotensi memicu genangan bahkan banjir di sekolah.
Di sisi lain, ketersediaan air bersih semakin menjadi perhatian ketika musim kemarau berlangsung lebih panjang. Kondisi tersebut mendorong perlunya perubahan cara pandang terhadap pengelolaan air hujan.
Selama ini, air hujan lebih sering dianggap sebagai sumber masalah, yang harus segera dialirkan atau dibuang dan disalurkan ke drainase, sungai kemudian bermuara di laut. “Padahal, air hujan merupakan sumber daya yang bisa mendukung keberlanjutan lingkungan sekolah,” kata Nadiroh, guru besar Manajemen Lingkungan Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Selasa (14/7).
Baca Juga: Momentum Bullish Menguat? Simak Rekomendasi Saham dari Kiwoom Sekuritas (14/7)
Dengan bentang lahan sekolah yang luas, maka saat hujan akan menjadi wilayah tampungan air yang potensial. Agar air tersebut tak terbuang sia-sia, Nadhiroh mengusulkan agar setiap sekolah mulai menerapkan konservasi air. Selain melakukan, sekolah juga berpeluang mendidik generasi yang sadar akan potensi air hujan.
“Sekolah dapat menjadi ruang belajar sekaligus praktik nyata pengelolaan sumber daya alam melalui penerapan konsep agroekosistem, yakni pendekatan yang mengintegrasikan pengelolaan air, tanah, dan vegetasi dalam satu sistem yang saling mendukung,” tambah Nadiroh.
Dengan mengelola air hujan saat hujan, maka air tak terbuang sia-sia. Air justru memberi peran strategis untuk lingkungan sekaligus membangun kesadaran generasi muda agar mampu menjaga keseimbangan lingkungan melalui berbagai upaya konservasi air.
Baca Juga: IHSG Masih Berpeluang Naik, Ini Rekomendasi Saham Pilihan MNC Sekuritas (14/7)
Di lingkungan sekolah, pengelolaan air hujan dapat dilakukan melalui berbagai langkah sederhana. Pertama, membangun sumur resapan, membuat biopori, pemanenan air hujan (rainwater harvesting) dengan metode penyimpanan, hingga pemanfaatan air hujan untuk penyiraman tanaman dan kebutuhan penghijauan.
Jika program itu terlaksana, sekolah tidak hanya membantu meningkatkan daya serap tanah dan mengurangi limpasan air saat hujan deras, tetapi juga dapat mengurangi penggunaan air bersih untuk kebutuhan nonkonsumsi.
Peneliti lingkungan Akhmad Qosasih menambahkan, pendekatan agroekosistem memungkinkan sekolah mengelola air secara lebih efisien sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang lebih hijau.
"Sekolah memiliki potensi besar menjadi laboratorium hidup bagi pendidikan lingkungan. Dengan memanfaatkan air hujan, menanam tanaman produktif, dan memperbanyak ruang resapan, sekolah dapat menjadi contoh nyata penerapan pembangunan berkelanjutan sekaligus memberikan pengalaman belajar langsung kepada peserta didik," kata Akhmad. .
Baca Juga: Cek Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham Hari Ini dari Mirae Sekuritas (14/7)
Pengelolaan air yang terintegrasi juga dinilai penting mengingat sebagian besar sekolah di kawasan perkotaan menghadapi keterbatasan ruang terbuka hijau. Keberadaan area resapan, kebun sekolah, serta pemanfaatan air hujan dapat membantu menciptakan mikroekosistem yang lebih sehat sekaligus meningkatkan ketahanan sekolah terhadap dampak perubahan iklim.
Setali tiga uang, upaya pengelolaan air di sekolah merupakan bagian dari pendidikan karakter lingkungan. Melalui keterlibatan langsung dalam menjaga sumber daya air, siswa dapat memahami hubungan antara aktivitas manusia, ketersediaan air, dan keberlanjutan lingkungan.
Dengan menjadikan pengelolaan air sebagai bagian dari budaya sekolah, institusi pendidikan berpeluang melahirkan generasi yang lebih sadar terhadap isu lingkungan sekaligus mampu berkontribusi dalam upaya adaptasi perubahan iklim di masa depan.
Salah satu sekolah yang tengah mempersiapkan Manajemen Tata Kelola Air Hujan Berbasis Agroekosistem itu adalah SMP Negeri 168 Jakarta Timur. Untuk rencana ini, tenaga pendidik di sekolah mendapat pendampingan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News