MOMSMONEY.ID - Setiap 21 Mei diperingati sebagai Hari Teh Internasional, momen yang bukan hanya merayakan minuman hangat favorit banyak orang, tetapi juga perjalanan panjang sehelai daun teh hingga akhirnya sampai ke cangkir Anda.
Di Indonesia, teh sudah menjadi bagian dari keseharian. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) BPS 2023–2024, teh bahkan tercatat sebagai minuman kedua paling banyak dikonsumsi setelah air putih. Sementara riset Roy Morgan menunjukkan teh tersedia di 95%–97% dapur rumah tangga Indonesia, menandakan posisinya yang lekat lintas generasi.
Di balik kesederhanaan segelas teh, ada proses panjang yang sangat terjaga sejak awal.
Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), faktor lingkungan seperti ketinggian, suhu, curah hujan, hingga kelembapan sangat menentukan karakter rasa teh. Perkebunan di dataran tinggi yang lebih sejuk, misalnya, cenderung menghasilkan daun teh dengan pertumbuhan lebih lambat, namun memiliki aroma lebih khas dan rasa lebih halus.
Baca Juga: Promo Hari Teh Internasional Kamis 21 Mei 2026, Diskon di Chatime & HokBen
“Dalam industri teh, pertumbuhan yang lebih lambat justru dianggap ideal karena memberi tanaman lebih banyak waktu untuk membentuk senyawa alami seperti polifenol, asam amino, dan minyak esensial. Senyawa inilah yang berperan dalam menciptakan aroma yang kaya, lapisan rasa yang lebih mendalam, serta karakter seduhan yang halus,” kata Devyana Tarigan, Head of Marketing Communications & Public Relations PT Sinar Sosro Gunung Slamat dalam keterangan resmi Kamis (21/5).
Proses itu bahkan sudah dimulai sejak pemilihan kebun. PT Sinar Sosro Gunung Slamat menjaga pasokan daun teh dari berbagai wilayah dataran tinggi Jawa Barat seperti Pangalengan, Garut, Tasikmalaya, hingga Cianjur, yang dikenal memiliki suhu sejuk dan kelembapan ideal untuk menghasilkan daun teh muda berkualitas.
Namun kualitas tidak hanya soal alam, tetapi juga ketelitian tangan manusia.
Devyana menjelaskan, daun teh muda menjadi bagian paling penting karena memiliki karakter rasa terbaik. Proses pemetikan dilakukan secara manual oleh tenaga terampil, serta menggunakan mesin petik baterai yang lebih ramah lingkungan, dengan tetap menjaga kualitas daun dan kesehatan tanaman.
Baca Juga: Rayakan Hari Teh Internasional dengan promo Spesial Pesta Diskon HokBen & Chatime
“Menghasilkan teh dengan cita rasa yang konsisten juga membutuhkan ketelitian manusia dalam menentukan daun teh muda mana yang dipetik, kapan waktu terbaik untuk memetik, hingga bagaimana daun teh muda diperlakukan setelah dipetik sehingga memenuhi standar layak olah,” ujar Devyana.
Setelah dipetik, waktu menjadi faktor krusial. Daun teh tidak bisa dibiarkan terlalu lama karena paparan udara dan suhu dapat mengubah aroma serta kesegarannya. Karena itu, seluruh proses dari kebun ke pengolahan harus berjalan cepat dan terhubung agar kualitas tetap terjaga.
Pada akhirnya, setiap tegukan teh yang dinikmati masyarakat bukanlah hasil proses instan. Ia lahir dari kombinasi alam yang mendukung, ketelitian manusia, serta konsistensi proses panjang yang dijaga sejak awal.
Melalui semangat “Tea is Good”, Sosro ingin terus menghadirkan teh sebagai bagian dari momen keseharian masyarakat Indonesia, mulai dari Tehbotol Sosro, Fruit Tea Sosro, Teh Celup Sosro, hingga Sosro Heritage.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News