MOMSMONEY.ID - Tingkat partisipasi perempuan dalam dunia kerja di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan.
Head of Programmes UN Women Indonesia Dwi Yuliawati mengatakan, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan Indonesia masih berkisar 54%, lebih rendah dibandingkan rata-rata global sebesar 63%.
Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya potensi ekonomi perempuan yang belum dimanfaatkan secara optimal. Apalagi, secara global perempuan menanggung beban kerja perawatan atau care worksekitar dua setengah kali lebih besar dibandingkan laki-laki.
Menurut Dwi, kondisi ini perlu menjadi perhatian perusahaan. Sebab, ketika perempuan kesulitan mempertahankan karier akibat tanggung jawab pengasuhan, perusahaan juga berisiko kehilangan talenta potensial.
Karena itu, dukungan seperti fasilitas penitipan anak, cuti melahirkan, hingga cuti ayah dinilai dapat memberikan manfaat bagi pekerja maupun perusahaan.
"Kalau perempuannya stay, talent perusahaannya tidak bocor. Siapa karyawan laki-laki yang juga tidak mau paternity leave? Semuanya dapat benefitnya," ujar Dwi dalam media briefing UN Women Indonesia di sela penganugerahan Women’s Empowerment Principles (WEPs) Awards 2026 di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Baca Juga: Kesetaraan Gender di Dunia Kerja Tidak Lagi Sebatas Persoalan Representasi Perempuan
Asisten Deputi Pengarusutamaan Gender Bidang Perekonomian KemenPPPA Eni Widiyanti menambahkan, kesenjangan partisipasi kerja antara laki-laki dan perempuan di Indonesia masih menjadi tantangan.
Ia menyebutkan, kesenjangan TPAK laki-laki dan perempuan stagnan di kisaran 38% selama lebih dari 50 tahun. Salah satu penyebabnya adalah banyak perempuan yang berhenti bekerja setelah menikah atau ketika anak pertama lahir.
Menurut Eni, perusahaan perlu memberikan dukungan yang memungkinkan perempuan tetap dapat mengembangkan karier setelah berkeluarga.
Salah satu contohnya adalah kebijakan cuti ayah yang lebih panjang dari ketentuan minimum. Ia menemukan perusahaan yang memberikan cuti ayah hingga 30 hari, jauh melampaui ketentuan dua hari yang diatur dalam regulasi.
Selain itu, terdapat perusahaan yang memberikan cuti melahirkan selama tiga bulan dengan upah penuh serta menjamin pekerja perempuan dapat kembali ke posisi semula tanpa memengaruhi peluang promosi jabatan.
Eni menekankan, keberhasilan penerapan kebijakan kesetaraan gender sangat bergantung pada komitmen pimpinan perusahaan.
"Kalau tidak ada komitmen pimpinan tertinggi, program itu nggak akan sustain," tegasnya.
Baca Juga: Perempuan Bisa Mengenali Keunikan dan Potensi Diri melalui 5 Elemen Ini
Upaya mendorong kesetaraan gender di dunia usaha juga menjadi perhatian UN Women Indonesia melalui Women’s Empowerment Principles (WEPs).
Dwi menjelaskan, WEPs bukan sekadar program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) yang umumnya hanya menyentuh bagian hilir bisnis.
Tujuh prinsip WEPs justru mencakup seluruh aspek operasional perusahaan, mulai dari komitmen kepemimpinan, praktik di tempat kerja, kesehatan dan keselamatan, pelatihan, rantai pasok, keterlibatan komunitas, hingga transparansi pelaporan.
Antusiasme dunia usaha terhadap prinsip tersebut terus meningkat. Pada 2026, WEPs Awards menerima 142 aplikasi dari 94 perusahaan. Jumlah ini menjadi yang terbanyak di kawasan Asia Pasifik.
Sementara itu, jumlah perusahaan penanda tangan WEPs di Indonesia meningkat dari 15 perusahaan pada 2019 menjadi sekitar 250 perusahaan saat ini.
L’Oréal Indonesia, meraih juara pertama kategori Inclusive Procurement dalam WEPs Awards 2026.
Chief Corporate Affairs, Engagement, and Sustainability L’Oréal Indonesia Melanie Masriel menjelaskan, perusahaannya telah memetakan dan mengaudit vendor sejak 2019 untuk mendorong praktik pengadaan yang lebih inklusif.
Penilaian tersebut mencakup usaha milik perempuan, kelompok rentan sosial-ekonomi, penyandang disabilitas, pekerja senior, hingga usaha kecil.
Baca Juga: Tekan Kesenjangan Gender, Schneider Electric Latih Perempuan Jadi Teknisi Listrik
Melalui Project Venus, L’Oréal juga mendorong vendor di sektor logistik yang selama ini didominasi laki-laki untuk menciptakan lingkungan kerja dengan keterwakilan gender yang lebih seimbang.
Hingga akhir 2025, program tersebut telah menjangkau hampir 1.700 penerima manfaat setara pekerja penuh waktu.
Sementara itu, PT PLN (Persero) meraih juara pertama kategori Gender-inclusive Workplace dan runner-up pertama kategori Community Engagement and Partnerships.
Direktur Legal & Manajemen SDM PLN Nurlely Aman mengatakan, perempuan kini terlibat dalam berbagai lini pekerjaan perusahaan, mulai dari pelayanan pelanggan, supervisi lapangan, bidang teknik, hingga penyusunan kajian tata kelola, risiko, dan kepatuhan.
PLN juga mendorong peningkatan keterwakilan perempuan dalam posisi kepemimpinan dengan target mencapai 10% sebagai bagian dari indikator kinerja utama (KPI) direksi.
Nurlely menilai, kebijakan kerja fleksibel, cuti melahirkan, dan cuti ayah perlu dilembagakan melalui aturan internal perusahaan agar implementasinya berjalan konsisten. Menurutnya, dukungan perusahaan tidak cukup hanya berupa imbauan, tetapi harus disertai komitmen dan pengawasan pelaksanaan.
Melalui WEPs Awards 2026, UN Women Indonesia berharap semakin banyak perusahaan yang menjadikan kesetaraan gender sebagai bagian dari strategi bisnis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News