M O M S M O N E Y I D
AturUang

Peluang Bisnis Belanja Pemerintah 2026: Fokus Pendidikan & Energi

Peluang Bisnis Belanja Pemerintah 2026: Fokus Pendidikan & Energi
Reporter: Nina Dwiantika  |  Editor: Nina Dwiantika


MOMSMONEY.ID – Moms kerasa nggak kalau tahun 2025 ini menjadi tahun yang paling menantang? Misalnya, pada pertengahan tahun ini, situasi ekonomi dan politik Indonesia tengah memasuki fase penuh dinamika, mulai dari demonstrasi besar di berbagai daerah, reshuffle kabinet oleh pemerintah, hingga penurunan suku bunga BI dan harga pangan yang mulai naik.

Pastinya, rangkaian peristiwa ini memicu gejolak di pasar keuangan, mempengaruhi sentimen investor, dan meningkatkan ketidakpastian bagi pelaku usaha di berbagai sektor. Berbagai bisnis menghadapi tantangan mulai dari fluktuasi permintaan, perubahan regulasi, hingga ketidakpastian investasi jangka panjang.

Di tengah situasi ini, pelaku bisnis dituntut untuk tetap tenang, adaptif, dan sigap mengambil langkah. Gejolak pasar memang tidak bisa dihindari, tapi peluang baru akan selalu muncul bagi mereka yang jeli melihat kesempatan. 

Nah, biar bisnis Anda tetap bertahan sekaligus berkembang, yuk simak beberapa tips berikut yang bisa jadi inspirasi langkah strategis ke depan dari Bank DBS Indonesia :

1.  Ikuti Arah Belanja Pemerintah

Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026, pemerintah mengalokasikan anggaran besar untuk berbagai sektor prioritas. Di antaranya, Rp 757,8 triliun untuk pendidikan, Rp 402,4 triliun untuk energi, Rp 335 triliun untuk program makanan bergizi gratis, serta Rp 530 triliun untuk investasi. Anggaran ini menunjukkan arah kebijakan fiskal yang jelas, yakni fokus pada pembangunan manusia, ketahanan energi, peningkatan kesejahteraan, dan penguatan investasi jangka panjang.

Bagi pemilik bisnis, arah belanja ini membuka peluang kolaborasi dan proyek strategis. Perusahaan dapat memposisikan diri sebagai mitra pemerintah dalam penyediaan infrastruktur pendidikan, energi terbarukan, distribusi pangan, maupun layanan pendukung investasi. Dengan mengikuti fokus belanja pemerintah, bisnis bukan hanya memperkuat potensi pertumbuhan, tetapi juga mendapatkan dukungan dari arus dana negara yang stabil.

Baca Juga: Bunga Deposito BNI di Bulan Oktober 2025, Paling Tinggi Berapa?

2. Diversifikasi ke Sektor yang Lebih Resilien
Ketidakpastian global, fluktuasi harga komoditas, dan melemahnya daya beli membuat beberapa sektor bisnis lebih rentan dibanding yang lain. Namun, sektor jasa, kebutuhan pokok, dan ekonomi digital terbukti lebih tangguh menghadapi tekanan. DBS Group Research memprediksi perekonomian digital Indonesia akan mencapai US$ 95 miliar pada 2025, ditopang oleh e-commerce, fintech, dan adopsi teknologi yang semakin luas.

Selain itu, permintaan produk makanan dan kebutuhan sehari-hari juga tetap stabil didorong oleh rencana pemerintah untuk menaikkan anggaran perlindungan sosial sebesar 9% pada 2026 serta program makan bergizi gratis senilai Rp 335 triliun.

Bagi pemilik bisnis besar, ini menjadi sinyal untuk tidak hanya mengandalkan sektor yang sensitif terhadap siklus ekonomi seperti otomotif atau komoditas, tetapi mulai mengalokasikan investasi ke sektor yang lebih resilien. Diversifikasi portofolio ke kebutuhan pokok, layanan digital, dan infrastruktur teknologi akan membantu menjaga stabilitas pendapatan sekaligus membuka peluang pertumbuhan baru. Dengan strategi ini, perusahaan bisa lebih siap menghadapi volatilitas dan selaras dengan tren ekonomi masa depan.

3. Jaga Likuiditas & Biaya Keuangan

Data dari DBS Group Research menunjukkan bahwa pada paruh pertama 2025, ekonomi Indonesia tumbuh rata-rata 5% year-on-year (yoy), didorong oleh sektor jasa bernilai tinggi, impor barang modal, investasi, serta konsumsi saat hari raya. Di paruh kedua, pertumbuhan diperkirakan tetap positif berkat belanja pemerintah yang lebih besar, penurunan suku bunga, inflasi yang stabil, dan masuknya investasi asing langsung (FDI). Secara keseluruhan, ekonomi 2025 diproyeksikan tumbuh 4,9%, sementara 2026 diprediksi stabil di kisaran 4,9% hingga 5,0%. Meski demikian, risiko perlambatan tetap ada, terutama jika terjadi gejolak global, pelemahan belanja pemerintah, atau koreksi harga komoditas.

Bagi pelaku bisnis, situasi ini menegaskan pentingnya menjaga likuiditas dan efisiensi keuangan. Keputusan baru Bank Indonesia (BI) untuk memangkas kembali suku bunga sebesar 25 basis poin (bsp) menjadi 4,75% membuka peluang pembiayaan kembali utang atau memperkuat modal kerja dengan biaya lebih rendah. Namun, perlu diingat bahwa penurunan bunga ini beresiko menekan rupiah. Maka dari itu apabila pelaku bisnis memiliki utang atau impor dalam dolar, disarankan untuk menyiapkan lindung nilai sedini mungkin. 

Lebih lanjut, untuk menghadapi potensi perlambatan, perusahaan sebaiknya menyiapkan cadangan kas yang memadai dan menghindari ekspansi berlebihan tanpa penyangga keuangan. Dengan langkah ini, bisnis tetap gesit menghadapi ketidakpastian sekaligus siap menangkap peluang dari stimulus pemerintah dan arus investasi asing.

Baca Juga: Bunga Deposito Bank Mandiri di Bulan Oktober 2025, Naik atau Turun?

4. Seimbangkan Ketergantungan pada Modal Asing dan Domestik

Pasar modal Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh arus modal asing, sehingga pergerakan dana dari investor global bisa membuat pasar bergejolak. Namun, dukungan investor domestik kini semakin penting untuk menjaga stabilitas. Perusahaan dapat memanfaatkan strategi seperti buyback saham atau mendorong partisipasi investor lokal, baik institusi maupun ritel, agar harga saham tetap terjaga meski terjadi capital outflow dari asing.

Tahun ini, IHSG sempat ditopang oleh saham-saham yang kurang likuid, menandakan pasar masih rentan terhadap sentimen jangka pendek. Ke depan, rotasi ke saham-saham berkualitas dengan fundamental kuat diperkirakan akan lebih berkelanjutan. Bagi pemilik bisnis besar, menjaga keseimbangan antara ketergantungan pada modal asing dan dukungan investor lokal akan memperkuat daya tahan perusahaan sekaligus meningkatkan kepercayaan pasar.

5. Antisipasi Fluktuasi Global & Harga Komoditas

Harga energi dan komoditas terus mengalami pergerakan tajam yang berdampak langsung pada biaya operasional bisnis. Harga minyak Brent, misalnya, sudah turun ke US$ 67,48 per barel atau hampir 12% sejak Juni 2025, sementara komoditas lain seperti CPO, batu bara, dan nikel juga sangat berfluktuasi. Proyeksi menunjukkan harga minyak Brent akan stabil di kisaran US$ 65-70 per barel pada 2026, sedangkan harga CPO diasumsikan berada di Rp 13.050/kg pada 2025.

Di sisi lain, arah kebijakan moneter global semakin kompleks. The Fed baru saja memangkas suku bunga sebesar 25 bsp pada September 2025, menandai dimulainya kembali siklus pelonggaran moneter. Namun, DBS Group research menilai inflasi masih berisiko naik karena sejumlah faktor: penyerapan tarif, ketatnya pasar tenaga kerja akibat pembatasan imigrasi, dampak stimulus dari pemotongan pajak, lonjakan permintaan energi seiring belanja untuk AI, neraca rumah tangga dan korporasi yang kuat, serta pasar ekuitas yang booming. Tekanan inilah yang membuat suku bunga jangka panjang tetap tinggi.

Kondisi ini menjadi sinyal bagi pemilik bisnis untuk lebih berhati-hati dalam mengatur harga produk dan jalur pasokan barang. Salah satu cara yang bisa dilakukan bisa dengan mengunci harga lewat kontrak jangka panjang agar biaya bahan baku tidak melonjak secara tiba-tiba. Dengan langkah antisipasi ini, perusahaan bisa tetap menjaga keuntungan dan lebih siap menghadapi perubahan ekonomi global yang tidak pasti.

Consumer Banking Director Bank DBS Indonesia, Melfrida Gultom mengatakan, melihat dinamika bisnis yang semakin kompleks, yang membedakan bisnis sukses bukan sekadar bertahan, tapi kemampuan membaca tren lebih cepat daripada kompetitor. Untuk itu, Bank DBS Indonesia hadir untuk membantu pelaku usaha mengidentifikasi peluang baru, misalnya perubahan perilaku konsumen atau sektor yang sedang tumbuh, sehingga strategi bisnis bisa lebih tepat sasaran

Dengan strategi yang tepat, bisnis tak hanya mampu bertahan, tapi juga tumbuh di tengah dinamika ekonomi.

Baca Juga: Bunga Deposito BCA Oktober 2025: Mulai 2,5% hingga 3,00%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

BI Sumut Buka Layanan Tukar Uang Pecahan Baru Termin 2, Ini Lokasi & Jadwalnya

Warga Sumut buruan tukar uang pecahan baru untuk THR Lebaran! Cek jadwal dan lokasi kas keliling serta loket bank yang berpartisipasi.

Airnav Buka Lagi Mudik Gratis 2026 Part 2 Hari Ini, 550 Tiket Kereta Tersedia

Program Mudik Gratis Airnav Part 2 dibuka 6 Maret 2026! 550 tiket kereta menanti. Cek rute dan cara daftar sekarang sebelum kehabisan kuota.

Merosot! Cek Daftar Harga Emas Antam Hari Ini Jumat 6 Maret

Harga emas Antam hari ini ukuran 1 gram dibanderol Rp 3.024.000 Jumat (6/3/2026), turun Rp 25.000 dibanding harga Kamis (5/3/2026).

Harga Emas Galeri 24 dan UBS di Pegadaian Hari Ini Jumat (6/3) Kompak Naik

Harga emas Galeri 24 dan UBS di Pegadaian hari ini Jumat (6/3/2026) kompak naik. Emas Galeri 24 jadi Rp 3.080.000, emas UBS Rp 3.096.000.

IHSG Berpotensi Terkoreksi, Simak Rekomendasi Saham BNI Sekuritas Jumat (6/3)

IHSG berpeluang mengalami koreksi pada perdagangan Jumat (6/3/2026)​. Berikut rekomendasi saham dari BNI Sekuritas   

3 Bibit Siklon Tropis di Selatan Indonesia: Potensi Cuaca Ekstrem Meningkat

BMKG masih mengidentifikasi keberadaan tiga bibit siklon tropis yang memicu peningkatan curah hujan atau cuaca ekstrem di sejumlah provinsi.

Tecno Megapad 2, Watch GT 1S & FreeHear 2: Rilis di MWC 2026, Bawa Fitur Keren

Tecno kenalkan Megapad 2, Watch GT 1S, FreeHear 2 di MWC 2026. Ekosistem AIoT Tecno kini semakin lengkap dan terintegrasi! 

Dari Cek Kesehatan hingga Aktif Bergerak, Ini Tips Hidup Sehat dari AIA Vitality

​Program wellness AIA Vitality mendorong masyarakat membangun kebiasaan hidup sehat melalui aktivitas fisik dan pemeriksaan kesehatan.

Hasil All England 2026: Ini 6 Wakil Indonesia yang Melaju ke Babak 8 Besar

Ada 6 wakil Indonesia yang memastikan berlaga di Babak 8 Besar All England Badminton Open Championship 2026.

Promo JSM Superindo 6-8 Maret 2026, Anggur Thomson-Oreo Selection Diskon hingga 45%

Cek promo JSM Superindo hari ini periode 6-8 Maret 2026 untuk belanja hemat di Superindo terdekat akhir pekan ini.